Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bidang Manufaktur

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bidang Manufaktur

Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bidang ManufakturMelindungi kesehatan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi kerja, mencegah terjadinya kecelakaan kerjadan penyakit.Berbagai arah keselamatan dan kesehatan kerja
1. Mengantisipasi keberadaan faktor penyebab bahaya dan melakukan pencegahan sebelumnya.
2. Memahami berbagai jenis bahaya yang ada di tempat kerja
3. Mengevaluasi tingkat bahaya di tempat kerja
4. Mengendalikan terjadinya bahaya atau komplikasi. Mengenai peraturan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja Yang terutama adalah UU Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Kerja dan Detail Pelaksanaan UU Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Kerja.

Baca juga : deltaindo.co.id
Standar Keselamatan Kerja
Pengamanan sebagai tindakan keselamatan kerja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan digolongkan sebagai berikut:

a) Pelindung badan, meliputi pelindung mata, tangan, hidung, kaki, kepala, dan telinga.

b) Pelindung mesin, sebagai tindakan untuk melindungi mesin dari bahaya yang mungkin timbul dari luar atau dari dalam atau dari pekerja itu sendiri
c) Alat pengaman listrik, yang setiap saat dapat membahayakan.

d) Pengaman ruang, meliputi pemadam kebakaran, sistem alarm,
air hidrant, penerangan yang cukup, ventilasi udara yang baik,
dan sebagainya.

Pencegahan merupakan cara yang paling efektif
Dua hal terbesar yang menjadi penyebab kecelakaan kerja yaitu : perilaku yang
tidak aman dan kondisi lingkungan yang tidak aman, berdasarkan data dari
Biro Pelatihan Tenaga Kerja, penyebab kecelakaan yang pernah terjadi sampai
saat ini adalah diakibatkan oleh perilaku yang tidak aman sebagai berikut:
1. sembrono dan tidak hati-hati
2. tidak mematuhi peraturan
3. tidak mengikuti standar prosedur kerja.
4. tidak memakai alat pelindung diri
5. badan yang tidak sehat
Kecelakaan kerja dapat terjadi oleh beberapa faktor,diantaranya 3% disebabkan oleh hal yang tidak bisa dihindarkan seperti bencana alam, selain itu 24% dikarenakan
lingkungan atau peralatan yang tidak memenuhi syarat dan 73% dikarenakan
perilaku yang tidak aman. Cara efektif untuk mencegah terjadinya kecelakaan
kerja adalah dengan menghindari terjadinya lima perilaku tidak aman yang telah
disebutkan di atas.

Penyebab terjadinya Kecelakaan
Kecelakaan yang  sering terjadi diakibatkan oleh lebih dari satu sebab. Kecelakaan dapat dicegah dengan menghilangkan halhal yang menyebabkan kecelakan tersebut. Ada dua sebab utama terjadinya suatu kecelakaan. Pertama, tindakan yang tidak aman. Kedua, kondisi kerja yang tidak aman. Orang yang mengalami kecelakaan luka – luka sering kali disebabkan oleh orang lain atau karena tindakannya sendiri yang tidak menunjang keamanan. Berikut beberapa contoh tindakan yang tidak aman, antara lain:

a) Memakai peralatan tanpa menerima pelatihan yang tepat

b) Memakai alat atau peralatan dengan cara yang salah

c) Tanpa memakai perlengkapan alat pelindung, seperti kacamata pengaman, sarung tangan atau pelindung kepala jika pekerjaan tersebut memerlukannya

d) Bersendang gurau, tidak konsentrasi, bermain-main dengan teman sekerja atau alat perlengkapan lainnya.

e) Perilaku terburu – buru untuk melakukan pekerjaan dan membawa sesuatu yang berbahaya di tempat kerja

f) Membuat gangguan atau mencegah orang lain dari pekerjaannya atau mengizinkan orang lain mengambil alih pekerjaannya, padahal orang tersebut belum mengetahui pekerjaan tersebut.

Penyebab berbahaya yang sering ditemui
1. Bahaya jenis kimia : terhirup atau terjadinya kontak antara kulit dengan cairan metal, cairan non-metal, hidrokarbon dan abu, gas, uap steam, asap dan embun yang beracun.
2. Bahaya jenis fisika : tempat yang bercuaca panas dingin, daerah yang beradiasi pengion dan non pengion, bising, vibrasi dan tekanan udara yang tidak normal.
3. Bahaya yang mengancam manusia dikarenakan jenis proyek: pencahayaan dan penerangan yang kurang, bahaya dari pengangkutan, dan bahaya yg ditimbulkan oleh peralatan.

Cara pengendalian ancaman bahaya kesehatan kerja
1. Penanganan mekanisme : merubah prosedur kerja, menutup atau mengisolasi bahan – bahan berbahaya, menggunakan pekerjaan otomatis, melaukancara kerja basah dan ventilasi udara.
2. Pengendalian administrasi : mengurangi waktu pajanan, menyusun peraturan keselamatan dan kesehatan, memakai alat pelindung, memasang tanda – tanda peringatan, membuat daftar data bahan-bahan yang aman, melakukan pelatihan sistem penangganan darurat.
3. Pemantauan kesehatan : melakukan pemeriksaan kesehatan.

Jenis-jenis kecelakaan pada beberapa bidang industri
1. terjepit, terlindas
2. teriris, terpotong
3. jatuh terpeleset
4. tindakan yg tidak benar
5. tertabrak
6. berkontak dengan bahan yang berbahaya
7. terjatuh, terguling
8. kejatuhan barang dari atas
9. terkena benturan keras
10. terkena barang yang runtuh, roboh

-Elektronik (manufaktur)
1. teriris, terpotong
2. terlindas, tertabrak
3. berkontak dengan bahan kimia
4. kebocoran gas
5. Menurunnya daya pendengaran,daya penglihatan

-Produksi metal (manufaktur)
1. terjepit, terlindas
2. tertusuk, terpotong, tergores
3. jatuh terpeleset

-Petrokimia (minyak dan produksi batu bara, produksi karet, produksi karet, produksi plastik)
1. terjepit, terlindas
2. teriris, terpotong, tergores
3. jatuh terpelest
4. tindakan yang tidak benar
5. tertabrak
6. terkena benturan keras

-Konstruksi
1. jatuh terpeleset
2. kejatuhan barang dari atas
3. terinjak
4. terkena barang yang runtuh, roboh
5. berkontak dengan suhu panas,
suhu dingin
6. terjatuh, terguling
7. terjepit, terlindas
8. tertabrak
9. tindakan yang tidak benar
10. terkena benturan keras

-Produksi alat transportasi bidang reparasi
1. terjepit, terlindas
2. tertusuk, terpotong, tergores
3. ledakan

Beberapa hal berbahaya di industri elektronik
Adalah mengendalikan mesin atau peralatan dengan
tenaga besar, mesin atau peralatan tersebut dapat beroperasi secara otomatis atau
setengah otomatis atau beroperasi dengan menggunakan bahan kimia yang korosif.
Kecelakaan kerja yang terjadi terbagi dalam 3 golongan bahaya, yaitu: bahaya kimia,
bahaya fisik dan bahaya ergonomik.

1. Bahaya kimia: terhirup atau kontak kulit dengan cairan metal, cairan non metal,
hidrokarbon, debu, uap steam, asap, gas dan embun beracun

2. Bahaya fisik: suhu lingkungan yang ekstrim panas dingin, radiasi non pengion dan
pengion, bising, vibrasi dan tekanan udara yang tidak normal.

3. Bahaya ergonomik: bahaya karena pencahayaan yang kurang, pekerjaan
pengangkutan dan peralatan.

Perlengkapan dan Peralatan K3

Perlengkapan dan Peralatan K3

By : Taufiqullah Neutron (Masteropik)
Perlengkapan dan peralatan penunjang program K3, meliputi:

Perlengkapan dan Peralatan K3

Promosi program K3; yang terdiri dari:

− pemasangan bendera K3,
bendera RI, bendera perusahaan.
− Pemasangan sign-board K3 yang berisi antara lain slogan-slogan yang mengingatkan perlunya be-kerja dengan selamat

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Sarana peralatan yang melekat pada orang atau disebut perlengkapan perlindungan diri (personal protective equipment), diantaranya:

– Pelindung mata dan muka

Kaca mata safety (gambar 1.7a) merupakan peralatan yang paling banyak digunakan sebagai pelindung mata. Meskipun terlihat sama dengan kacamata biasa, namun kaca mata safety lebih kuat dan tahan benturan serta tahan panas dari pada kaca mata biasa. Goggle memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan safety glass sebab lebih menempel pada muka (gambar 1.7b) Pelindung muka (gambar 1.8a) memberikan perlindungan menyeluruh pada muka dari bahaya percikan bahan kimia, obyek yang beterbangan atau cairan besi. Banyak dari pelindung muka ini dapat digunakan bersamaan dengan menggunakanan helm. Helm pengelas (gambar 1.8b) memberikan perlindungan baik pada muka dan juga mata. Helm ini menggunakan lensa penahan khusus yang menyaring daya cahaya serta energi panas yang dihasilkan dari kegiatan pengelasan.

− Pelindung pendengaran, dan jenis yang paling banyak digunakan:
foam earplugs, PVC earplugs, earmuffs (gambar 1.9)

− Pelindung kepala atau helm (hard hat) yang melindungi kepala karena memiliki hal berikut: lapisan yang keras, tahan dan kuat terhadap benturan yang mengenai kepala; sistem suspensi yang ada didalamnya bertindak sebagai penahan goncangan; beberapa jenis dibuat tahan terhadap sengatan listrik; serta melindungi kulit kepala, muka, leher, dan bahu dari percikan, tumpahan, dan tetesan. Jenis-jenis pelindung kepala seperti pada gambar 1.10, antara lain: Kelas G untuk melindungi kepala dari benda yang ; dan melindungi dari sengatan listrik sampai 2.200 volts. Kelas E untuk melindungi kepala dari benda yang , dan dapat melindungi dari sengatan listrik sampai 20.000 volts. Kelas F untuk melindungi kepala dari benda yang , TIDAK melindungi dari sengatan listrik, dan TIDAK melindungi dari
bahan-bahan yang merusak (korosif)

− Pelindung kaki berupa sepatu dan sepatu boot, seperti terlihat pada
gambar 1.11a-g, antara lain:

a) Steel toe, sepatu yang dimodel untuk melindingi jari kaki dari kena benda
b) Metatarsal, sepatu yang dimodel khusus melindungi seluruh kaki dari untukan tuas sampai jari
c) Reinforced sole, sepatu ini dimodel dengan bahan penguat dari besi yang akan melindungi dari tusukan pada kaki
d) Latex/Rubber, sepatu yang tahan terhadap bahan kimia dan memberikan daya cengkeram yang lebih kuat pada permukaan yang licin.
e) PVC boots, sepatu yang melindungi dari lembab dan membantu berjalan di tempat becek
f) Vinyl boots, sepatu yang tahan larutan kimia, asam, alkali, garam, air dan darah
g) Nitrile boots, sepatu yang tahan terhadap lemak hewan, oli, dan bahan kimia

− Pelindung tangan berupa sarung tangan dengan jenis-jenisnya seperti terlihat pada gambar 1.12a-g,antara lain:
a) Metal mesh, sarung tangan yang tahan terhadap ujung benda yang tajam dan melindungi tangan dari terpotong
b) Leather gloves, melindungi tangan dari permukaan yang kasar.
c) Sarung tangan karets, melindungi tangan dari bahan kimia beracun
d) Rubber gloves, melindungi tangan saat bekerja dengan listrik
e) Padded cloth gloves, melindungi tangan dari sisi yang tajam, bergelombang dan kotor.
f) Heat resistant gloves, melindungi tangan dari panas dan api
g) Latex disposable gloves, melindungi tangan dari bakteri dan kuman

− Pelindung bahaya  dengan jenis-jenis antara lain: (gambar 1.13)

a) Full Body Hardness(Pakaian penahan Bahaya ), sistim yang dibuat untuk menyebarkan tenaga benturan atau goncangan pada saat melalui pundak, paha dan pantat.

Pakaian penahan bahaya  ini dibuat dengan model yang nyaman untuk si menggunakan dimana pengikat pundak, dada, dan kaitan paha dapat disesuaikan menurut menggunakannya. Pakaian penahan bahaya  ini dilengkapi dengan cincin “D” (high) yang terletak dibelakang dan di depan dimana tersambung kaitan pengikat, kaitan pengaman atau alat penolong lain yang dapat dipasangkan

b) Life Line (kaitan kaitan), kaitan kaitan lentur dengan kekuatan tarik minimum 500 kg yang salah satu ujungnya diikatkan ketempat kaitan dan menggantung secara vertikal, atau diikatkan pada tempat kaitan yang lain untuk digunakan secara horisontal
c) Anchor Point (Tempat Kaitan), tempat menyangkutkan kaitan yang sedikitnya harus mampu menahan 500 kg per pekerja yang menggunakan tempat kaitan tersebut. Tempat kaitan harus dipilih untuk mencegah kemungkinan . Tempat kaitan, jika memungkinkan harus ditempatkan lebih tinggi dari bahu menggunakannya

d) Lanyard (Kaitan Pengikat), kaitan pendek yang lentur atau anyaman kaitan, digunakan untuk menghubungkan pakaian pelin-dung pekerja ke tempat kaitan atau kaitan kaitan. Panjang kaitan pengikat tidak boleh melebihi 2 meter dan harus yang kancing kaitannya dapat mengunci secara mekanisme
e) Refracting Life Lines (Pengencang Kaitan kaitan), komponen yang digunakan untuk mencegah agar kaitan pengikat tidak terlalu Kaitan tersebut akan memanjang dan memendek secara mekanisme pada saat pekerja naik maupun pada saat turun.

Pelatihan K3 di Bidang IT

Pelatihan K3 di Bidang IT

Pelatihan K3 di Bidang ITDalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diseleng-garakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.

Baca juga : deltaindo.co.id

Cara-cara menjaga kesehatan mata, yaitu sebagai berikut.
– Istirahatkan mata anda, dengan melihat pemandangan yang bernuansa sejuk dan jauh ke depan secara rutin.
– Pastikan kacamata atau lensa kontak apabila anda menggunakannya, dan layar desktop selalu bersih.
– Gunakan tambahan layar anti radiasi.

Berikut adalah HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN PELAKSANAAN K3 IT
Aspek K3 perkantoran (tentang penggunaan komputer)
Pergunakan komputer secara sehat, benar dan nyaman :
Hal-hal yang harus diperhatikan :
1. Memanfaatkan kesepuluh jari.
2. Istirahatkan mata dengan melihat kejauhan setiap 15-20 menit.
3. Istirahat 5-10 menit tiap satu jam kerja.
4. Lakukan peregangan.
5. Sudut lampu 45 derajat.
6. Jangan sampai ada cahaya yang menyilaukan, cahaya datang harus dari belakang.
7. Sudut pandang 15 derajat, jarak layar dengan mata 30 – 50 cm
8. Kursi ergonomis (adjusted chair)
9. Jarak meja dengan paha 20 cm
10. Senam waktu istirahat.

Saran K3  di Perkantoran
Gunakan komputer yang bebas radiasi  atau LCD (Liquor Crystal Display). Dalam pelaksanaan K3 perkantoran perlu memperhatikan jaringan elektrik dan komunikasi, kualitas udara, kualitas pencahayaan, kebisingan, display unit (tata ruang dan alat), hygiene dan sanitasi, psikososial, pemeliharaan maupun aspek lain mengenai penggunaan komputer.

Hal yang mempengaruhi Penggunaan IT yang dapat membahayakan Pada Manusia :
1. Cahaya yang dipantulkan oleh laptop atau komputer dapat membuat mata iritasi karena kelelahan melihat monitor.
2. Apablika kita mendengarkan lagu menggunakan hea dset maka telinga kita akan rentan pada suara dan hanya dapat mendengar suara-suara yang besar dan dekat jika jauh dan kecil maka tidak akan terdengar.
3. Pada saat memasang peripheral pada CPU pastikan kabel listrik tidak dalam kondisi terhubung arus listrik karena tangan dapat terkena aliran listrik

Akibat Yang di Sebabkan Oleh Pengaruh Penggunaan IT Pada Manusia dan Peralatan :
Banyak kesehatan pada,organ tubuh kita yang gaya kinerjanya berkurang,contohnya dari mata telinga,tangan,kaki,dll.

Mengatasi hal berbahaya akibat Penggunaan IT pada Manusia dan Peralatan
– Berhati – hatilah ketika mengerjakan sesuatu dan jangan terlalu lelah karena dapat membuat tubuh / organ dalam tubuh kita yang berkurang kinerjanya.
– Jangan merokok, karena abu rokok bisa mengotori dan merusak komponen PC, terutama prosesor. Tempatkan air minum Anda jauh dari meja kerja. Gunakan pula lampu penerangan yang cukup kuat.
– Dalam menghindari arus statik sebaiknya pastikan lebih dulu outlet listrik di rumah Anda telah dibumikan
(grounding), basuhlah tangan Anda terlebih dahulu dan keringkan. Ini untuk menghindari keringat dan kotoran di tangan yang bisa menyebabkan komponen PC berkarat Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diseleng-garakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.

3 Langkah memilih keamanan peyedia training k3 tepat di Indonesia

3 Langkah memilih keamanan peyedia training tepat di Indonesia

3 Langkah memilih keamanan peyedia training k3 tepat di Indonesia

Semakin meningkatnya kesadaran akan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia dan dengan meningkatkan kebutuhan Pelatihan dan sertifikasi K3 oleh perusahaan, maka jumlah keamanan peyedia training ikut berkembang bagai cendawan di musim hujan.
Namun sayangnya, belum banyak yang tahu bagaimana memilah dan memilih keamanan peyedia training yang baik. Beberapa perusahaan hanya mementingkan harga yang ditawarkan sehingga kadang tertipu bekerja sama dengan Keamanan Peyedia training abal-abal/nakal.
Tidak perduli apakah Anda:
• Staff departemen HRD / Training yang ditugaskan memilih vendor keamanan peyedia training
• Praktisi K3 / Keamanan yang ingin meningkatkan skill dengan mengambil training dan sertifikasi.
• Lulusan baru yang akan mengambil sertifikasi untuk masuk ke bidang K3.
• Mahasiswa jurusan K3 atau lintas jurusan yang sedang membuat tugas akhir / tesis mengenai perkembangan K3 di Indonesia

 

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

 

Memilih Provider yang salah sangat merugikan diri sendiri dan perusahaan, karena
• Sertifikatnya bisa tidak diakui; Klien bisa meminta training diulang sehingga memakan biaya dan waktu
• Proses pengurusan sertifikat lama (terutama sertifikat yang dikeluarkan pemerintah Indonesia)
• Sertifikat diragukan/kurang dipercaya oleh pemberi kerja (terutama perusahaan asing)
Intinya memilih Keamanan Peyedia training kurang lebih sama seperti kata iklan obat batuk di televisi, “untuk kita kok coba coba”.
Jadi, Bagaimana memilih keamanan peyedia training agar tidak salah menjatuhkan pilihan ke provider yang tidak tepat atau malah yang abal abal?
1. Izin
Jika Anda / Perusahaan Anda memiliki banyak operator dan program K3 membutuhkan banyak SIO (surat izin Operator) atau tenaga ahli K3 sertifikasi dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemenaker), maka Anda harus tahu ini:
Kemenaker mengatur Perusahaan Pembina Jasa Kesehatan dan Keselamatan Kerja (PJK3 / Keamanan Peyedia training) dengan peraturan Per.04/Men/1995 dan Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan No. 48/DJPPK/VII/2011 serta SE.02/Men/DJPPK/I/2011. Dengan peraturan ini, PJK3 diatur agar memiliki sub bidang agar menjadi fokus dan menjaga kualitas dalam pembinaan.
Sejak dikeluarkannya peraturan ini, keamanan peyedia training yang hendak mengadakan pelatihan tidak bisa menggunakan satu sertifikat PJK3 untuk semua jenis training sertifikasi kemenakertrans. Para keamanan peyedia training diwajibkan mendapatkan izin PJK3 yang sesuai dengan bidangnya. Syarat mendapatkannya selain surat pendirian perusahaan yang lengkap, sebuah keamanan peyedia training juga harus memiliki penanggung jawab sesuai dengan bidangnya dan mengikuti sesi Training for Trainer yang diadakan kemenaker sesuai dengan bidangnya.
Saat ini izin PJK3 telah dibagi menjadi
• PJK3 bidang Penanggulangan Kebakaran
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan kebakaran mulai tingkat petugas penanggulangan kebakaran hingga Ahli K3 kebakaran
• PJK3 bidang Mekanik
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan juru ikat/rigger serta operator angkat angkut seperti operator forklift dan crane
• PJK3 bidang Lingkungan Kerja dan Bahan Berbahaya/LKBB
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti petugas ruang terbatas/Confined Space dan bekerja di ketinggian/Working at Height)
• PJK3 bidang Konstruksi Bangunan
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti operator perancah (scaffolding)
• PJK3 bidang Kesehatan kerja
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti petugas P3K
• PJK3 bidang Listrik
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti operator listrik dan Ahli K3 Listrik
• PJK3 bidang SMK3 dan Kelembagaan
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti P2K3 dan Ahli K3 Umum
• PJK3 bidang Pesawat Uap dan Bejana Tekan
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti Operator Pesawat Uap.
Demikian juga jika perusahaan tempat Anda bekerja atau yang Anda ingin masuki bergerak di bidang lain. Bidang Migas mewajibkan keamanan peyedia training memiliki setidaknya Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Migas sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.27 tahun 2008 sebagai kegiatan usaha penunjang minyak dan gas.
Bidang Pertambangan dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No 24 tahun 2012 tentang “Perubahan atas peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 28 taun 2009 tentang penyelenggaraan usaha jasa pertambangan mineral dan Batubara” mengharuskan untuk memiliki SKT ESDM atau Surat Izin Usaha Jasa Pertambangan (SIUJP)
Jika yang dibutuhkan adalah Sertifikasi Kompetensi dari Bagian Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), maka ketahuilah bahwa BNSP mewajibkan untuk memiliki sertifikasi Tempat Uji Kompetensi (TUK) sesuai bidangnya
Kenapa memiliki izin ini penting?
Dengan memiliki izin resmi,perusahaan bisa lebih tenang dan leluasa karena dapat berkoordinasi langsung dengan keamanan peyedia training untuk penentuan jadwal training In House, bisa mengeluarkan “certificate under process by Kemenaker/ Ministry” yang diakui serta sertifikat asli lebih cepat diterima.
2. Asosiasi
Meski belum begitu banyak diketahui, PJK3 resmi kemenaker/pemerintah memiliki Asosiasi, yaitu Asosiasi Lembaga Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Indonesia (ALPK3I) yang dalam bahasa inggris sering disebut Indonesian ATIOSH (Association of Training Institute of Occupational Keamanan and Health Indonesia). Asosiasi ini didirikan dengan konvensi di Jakarta pada 28 Januari 2002 dan bertujuan:
• Menggalang komunikasi dan mengadakan kerjasama antar anggotanya
• Membantu meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan khususnya bidang K3 dengan pengakuan nasional maupun internasional
• Memberikan sumbangan pemikiran kepada pemerintah dan masyarakat tentang pendidikan dan pelatihan khususnya bidang K3
Karena tugasnya itulah, maka ALPK3I mendaftar semua keamanan peyedia training yang telah memiliki sertifikat PJK3 resmi. Masyarakat dan dunia usaha dapat menghubungi ALPK3I untuk mendapatkan informasi PJK3 yang terdaftar di ALPK3I. Setidaknya data/informasi dari ALPK3I dapat mengurangi kemungkinan memilih keamanan peyedia training yang tidak tepat.
Jadi, Pastikan keamanan peyedia training/PJK3 kesayangan Anda telah terdaftar di ALPK3I.
3. Relasi
Cara lain untuk memastikan keamanan peyedia training kesayangan Anda bukan perusahaan nakal atau abal abal adalah dengan melihat relasinya. Relasi dengan bagian keamanan di luar negeri atau bagian otorisasi dari luar negeri akan sangat membantu. Karena seringnya bagian tersebut tidak akan mau bekerjasama dengan perusahaan yang baru/tidak mereka kenal.
Beberapa contoh yang baik adalah relasi dengan British Keamanan Council (BSC), OPITO (untuk training offshore), National Fire Protection Association (NFPA), American Heart Association (AHA), World Keamanan Council (WSC), dan masih banyak lagi termasuk NEBOSH dan NIOSH.
Seringnya para keamanan peyedia training ini mencantumkan logo relasinya di website atau surat penawaran mereka. Untungnya lagi buat kita, relasi ini biasanya juga akan berimbas kepada peningkatan kualitas training yang diberikan.
Demikianlah 3 langkah memilih keamanan peyedia training yang tepat di Indonesia. Semoga dapat memberi pencerahan untuk kita semua dan dapat memilih keamanan peyedia training yang tepat.
memberi masukan dan untuk memilih keamanan peyedia training dengan lebih baik lagi..f

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Arti Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Terdapat beberapa pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang dapat diambil dari beberapa sumber, di antaranya ialah pengertian dan arti K3 menurut Filosofi, menurut Ilmuan serta menurut standar OHSAS 18001:2007. Berikut adalah pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) tersebut :

·         Filosofi (Mangkunegara):

Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur.

·         Ilmuan:

Semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja,penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.

·         OHSAS 18001:2007:

Semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.

Pengertian/arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di atas merupakan pengertian/arti K3 yang secara umum digunakan dan diajarkan, namun di luar referensi di atas masih banyak referensi mengenai pengertian/arti K3 baik menurut ILO ataupun OSHA namun tidak kami bahas dalam artikel ini sehingga bisa didapatkan melalui penelusuran di mesin pencarian internet.

Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki beberapa dasar hukum pelaksanaan. Di antaranya ialah Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). Rangkuman dasar-dasar hukum tersebut antara lain:

UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja :

  1. Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.
  2. Adanya tenaga kerja yang bekerja di sana.
  3. Adanya bahaya kerja di tempat itu.

Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 Tentang Sistem Manajemen K3 :

Setiap perusahaan yang memiliki karyawan seratus tenaga kerja atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja (PAK).

Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 Tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3):

  1. Tempat kerja dimana pengusaha atau pengurus memiliki karyawan 100 orang atau lebih.
  2. Tempat kerja dimana pengusaha memiliki karyawan kurang dari seratus orang tetapi menggunakan bahan, proses dan instalasi yang memiliki resiko besar akan terjadinya peledakan, kebakaran, keracunan dan pencemaran radioaktif.

Tujuan Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki bebrapa tujuan dalam pelaksanaannya berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Di dalamnya terdapat 3 (tiga) tujuan utama dalam Penerapan K3 berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yaitu antara lain:

  1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja.
  2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
  3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

Dari melihat tujuan penerapan K3 di tempat kerja berdasarkan Undang-Undang nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja di atas terdapat harmoni mengenai penerapan K3 di tempat kerja antara Pengusaha, Tenaga Kerja dan Pemerintah/Negara. Sehingga di masa yang akan datang, baik dalam waktu dekat ataupun nanti, penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Indonesia dapat dilaksanakan secara nasional menyeluruh dari Sabang sampai Meraoke. Seluruh masyarakat Indonesia sadar dan paham betul mengenai pentingnya K3 sehingga dapat melaksanakannya dalam kegiatan sehari-hari baik di tempat kerja maupun di lingkungan tempat tinggal.

Arti Bahaya dan 5 Faktor Bahaya K3 di Tempat Kerja

Pengertian (arti) bahaya (hazard) ialah semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera (kecelakaan kerja) dan atau penyakit akibat kerja (PAK) – arti berdasarkan OHSAS 18001:2007. Secara umum terdapat 5 (lima) faktor bahaya K3 di tempat kerja, antara lain: faktor bahaya pikiran(s), faktor bahaya kimia, faktor bahaya fisik/mekanik, faktor bahaya biomekanik serta faktor bahaya sosial-psikologis. Tabel di bawah merupakan daftar singkat bahaya dari faktor-faktor bahaya di atas:

penilaian yang valid telah dibuat tentang risiko dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan; memastikan bahwa langkah-langkah pencegahan dan metode produksi, yang dianggap perlu dan dilaksanakan setelah penilaian risiko, memberikan peningkatan dalam perlindungan pekerja.

Memilih metode Pelatihan k3

Memilih metode Pelatihan k3

 

Memilih metode Pelatihan k3Dalam sistem manajemen K3 (SMK3) Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor PER.05/MEN/1996 pada lampiran I poin 3.1.5 tentang pepelatihan (pelatihan) disebutkan bahwa penerapan dan pengembangan sistem manajemen K3 yang efektif ditentukan oleh keahlian kerja dan pepelatihan dari setiap tenaga kerja di perusahaan. Pepelatihan merupakan salah satu alat penting dalam menjamin keahlian kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan keselamatan dan kesehatan kerja. OHSAS 18001 section 4.4.2 mensyaratkan bahwa setiap pekerjaharus memiliki keahlian untuk melakukan tugas-tugas yang berdampak pada K3. Keahlian harus ditetapkan dalam hal pendidikan yang sesuai, pepelatihan dan / atau pengalaman.

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Pelatihan K3 merupakan metode yang sangat penting dalam mengurangi terjadinya kecelakaan kerja, dari berbagai studi yang dilakukan terhadap prilaku tidak aman dari pekerja diperoleh beberapa alasan (National Safety Council, 1985):

  1. Pekerja tidak memperoleh perintah kerja secara spesifik dan detil.
  2. Kesalahpahaman terhadap perintah kerja.
  3. Tidak mengetahui perintah kerja.
  4. Menganggap perintah kerja tersebut tidak penting atau tidak perlu.
  5. Mengabaikan perintah kerja.

Untuk mengurangi hal tersebut diatas terjadi maka sangat diperlukan pelatihan  bagi pekerja untuk memahami setiap perintah kerja secara baik dan akibat yang dapat terjadi jika tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah kerja.

Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) menunjukkan bahwa pelatihan dapat meningkatkan keahlian dan pengetahuan pekerja. Kemudian pengetahuan dan keahlian pekerja tersebut dapat mengurangi kesalahan pencampuran dan parameter proses yang disebabkan oleh faktor pekerja, dimana kesalahan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya bahaya reaktifitas kimia. Hasil ini sejalan dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Dingsdag (2008) yang menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan budaya dan prilaku K3 untuk mengurangi kecelakaan kerja maka diperlukan pelatihan K3 untuk meningkatkan keahlian dan pemahaman K3 pada seluruh line management dan pekerja.

Setiap pekerja baru harus mendapatkan pelatihan yang cukup sebelum melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan dari area kerja masing-masing pekerja. Untuk memastikan bahwa pekerja baru sudah pandai tugas dan tanggung jawab yang diberikan maka diperlukan tolok ukur sebagai umpan balik dari pelatihan yang diberikan. Pelatihan tidak hanya diberikan pada pekerja baru, akan tetapi pekerja lamapun harus diberikan pelatihan penyegaran. Pihak manajemen perusahaan harus membuat metode pelatihan tahunan yang meliputi topik-topik baru maupun topik-topik lama sebagai penyegaran (re-fresh pelatihan).

Pelatihan yang diberikan harus meliputi pengetahuan (knowledge) dan keahlian (skill) untuk meningkat keahlian pokok (core competency) dan keahlian K3 (safety competency). Keahlian pokok adalah keahlian minimum yang harus dimiliki pekerja untuk menjalankan tugas pokok yang dibebankan, misalnya karyawan pembuatan harus memahami dan mampu menjalankan mesin pembuatan, laboran harus mampu melakukan analisa dasar bahan kimia dan seterusnya. Namun keahlian pokok saja tidak cukup untuk melakukan pekerjaan secara aman, maka diperlukan keahlian K3. Pada umumnya pelatihan keahlian pokok tidak dilengkapi dengan keahlian K3 atau tidak mengandung aspek-sapek K3 (Dingsdag, 2008).

Secara garis besar pelatihan K3 yang diperlukan adalah sebagai berikut (National Safety Council, 1985):

  1. Pelatihan untuk karyawan baru, misalnya: peraturan umum perusahaan, profil perusahaan, peraturan K3 secara umum, kebijakan K3, metode pencegahan kecelakaan, perintah kerja yang dibutuhkan, bahaya ditempat kerja, alat pelindung diri, dst.
  2. Job Safety Analysis (JSA); pemahaman terhadap JSA dan proses JSA.
  3. Job instruction pelatihan (JIT); pelatihan yang secara spesifik menjelaskan prosedur kerja standar di area kerja masing-masing, misalnya; prosedur kalibrasi, prosedur pembuatan produk, prosedur pembersihan tangki, dst.
  4. Metode perintah lainya; pelatihan untuk trainer, bagaimana mempersiapkan dan melakukan pelatihan secara baik.

Sebagai salah satu contoh topik-topik pelatihan untuk peningkatan keahlian pekerja dalam upaya mengurangi poetnsi risiko bahaya kimia adalah seperti terdapat didalam tabel berikut:

No Topik Pelatihan Keahlian Bagian Jabatan Keterangan
1 Prosedur kerja standar dan perintah kerja Pokok Semua Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan departemen masing-masing (SOP/WI)
2 Sistem Manajemen K3 Pokok/K3 Semua Spv s/d manager Pemahaman (SMK3, OHSAS 18001)
3 Respon keadaan darurat Pokok/K3 Semua Semua Pemahaman dan praktek (SOP)
4 Bahan kimia berbahaya dan Penaganannya Pokok/K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (NFPA, NIOSH)
5 MSDS dan Label Bahan Kimia (GHS) K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (GHS,NFPA, UN)
6 Tata Cara Penyimpanan Bahan Kimia di Gudang Pokok/K3 Gudang Karyawan s/d Manager Karyawan – UmumSpv& Mgr – Detil

(CCPS, NFPA)

7 Penanganan Tumpahan Bahan Kimia K3 Prod, Gudang dan Lab Karyawan s/d Manager Karyawan – praktekSpv&Mgr – + pengetahuan (NFPA, CCPS)
8 Bahaya Reaktifitas Kimia K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
9 Penanganan BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
10 Managemen BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman (CCPS)
11 Indentifikasi dan analisis BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman dan praktek (CCPS)
12 Analysis Tools untuk BRK K3 Lab Spv Pemahaman dan praktek (CCPS, CRW 2)

Topik dan isi pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan area kerja atau tanggung jawab dan tingkatan atau jabatan pekerja, karena umumnya tingkatan atau jabatan menunjukkan tingkat pendidikan pekerja. Sebagai contoh, karyawan bagian pembuatan memerlukan pelatihan keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan, sementara teknisi dari bagian enjinering memerlukan pelatihan keahlian dalam perawatan dan perbaikan mesin pembuatan. Supervisor pembuatan lebih memerlukan pelatihan pengetahuan proses pembuatan dari pada keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan.

Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) dapat di putuskan bahwa untuk mengurangi kesalahan pekerja yang berdampak pada bahaya kimia, maka diperlukan core competency dan safety competency yang baik. Tabel diatas merupakan topik pelatihan yang direkomendasikan untuk meningkatkan core dan safety competency pekerja sehingga dapat mengurangi risiko bahaya kimia dan bahaya reaktifitas kimia (BRK) ditempat kerja.

SEMOGA BERMANFAAT

 

 

 

Pentingnya Pelatihan K3 dan Tips Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pentingnya Pelatihan K3 dan Tips Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pelatihan k3 listrikKeselamatan & kesehatan kerja merupakan faktor yang sangat penting, bahkan harus menjadi prioritas dalam menjalankan pekerjaan. Ini berlaku terutama pada karyawan yang punya pekerjaan berisiko tinggi, seperti di sektor pertambangan, konstruksi, manufaktur, warehouse,transportation dan sejenisnya.

Baca juga : deltaindo.co.id
•    Desain area kerja yang aman.
Keselamatan harus direncanakan dalam area kerja Anda dari awal. Bagaimana mesin diposisikan, dimana bahan yang dipentaskan, bagaimana produk mengalir dari satu proses ke proses berikutnya. Merancang area kerja dengan keselamatan sebagai perhatian utama akan menghasilkan tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
•    Menjaga area kerja yang bersih.
Wilayah kerja yang paling produktif yang bersih, rapi dan terorganisir. Tidak hanya akan Anda menghapus banyak bahaya dari area kerja dengan menjaganya agar tetap bersih, tetapi Anda juga akan menyediakan lingkungan kerja yang lebih produktif bagi karyawan Anda.
•    Libatkan karyawan Anda dalam perencanaan keselamatan.
Tidak ada staf yang tahu lebih banyak tentang potensi bahaya di lantai produksi Anda dari karyawan sendiri. Dapatkan masukan dari mereka dan mengikuti saran mereka untuk mendapatkan informasi hal yang berhubungan dengan keamanan & keselamatan di daerah kerja mereka bukan mengandalkan peralatan perlindungan pribadi untuk menjaga kesehatan mereka.
•    Memberikan instruksi kerja yang jelas.
Pastikan karyawan Anda tahu persis apa yang Anda harapkan dari mereka dengan menyediakan pelatihan yang menyeluruh dan jelas, petunjuk tertulis. Meskipun mereka harus dibuat sadar akan masalah keamanan, program keselamatan yang efektif jauh melampaui daftar hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Bila Anda mendokumentasikan proses kerja Anda, pastikan bahwa Anda menyertakan petunjuk keselamatan dasar bahwa setiap pekerja membaca dan mengakui.
•    Fokus upaya keselamatan Anda pada masalah yang paling mungkin.
Pelanggaran keselamatan yang paling sering adalah bukan yang paling bahaya, mereka biasanya sering terkena dampak bahaya justru dari hal yang kecil,seperti punggung tegang dari menggunakan teknik mengangkat yang buruk atau menolak untuk menggunakan mengangkat membantu peralatan.
•    Dorong karyawan Anda untuk memberikan masukan apa saja kekurangan dalam hal keselamatan di tempat kerjanya ke tingkat atas/manajemen.
Keselamatan adalah keinginan setiap orang, karyawan Anda harus secara aktif didorong untuk membawa semua jenis kekhawatiran keamanan kepada manajemen, hal ini dibudayakan agar sekecil apapun yang menimbulkan dampak pada keselamatan segera diketahui dan diperbaiki untuk mencegah hal yang besar dikemudian hari.
•    Bagi bagian manajerial seharusnya sering melihat dan mempelajari bagaimana setiap karyawan melakukan pekerjaan mereka. Meskipun Anda mungkin telah mendokumentasikan prosedur yang tepat untuk setiap stasiun kerja, pekerja yang berbeda dapat melakukan bahkan pekerjaan yang sama dengan dokumen yang bervariasi. Perhatikan bagaimana karyawan anda melakukan pekerjaan mereka untuk melihat apakah mereka, melakukan prosedur yang ada atau mereka mengambil jalan pintas pekerjaan yang dapat mengurangi keamanan, atau dari observasi dari kerja mereka, akan mendapatkan hal yang bagus untuk diadopsi oleh operator lain.
•    Menjaga semua mesin dalam keadaan baik.
Sebagai pemilik bisnis, anda harus bertanggung jawab untuk memastikan bahwa anda memiliki program pemeliharaan rutin mesin-mesin di tempat kerja anda, sehingga mesin  anda bekerja dengan baik dan terjaga standard keselamatanya.
•    Hindari bahaya yang tidak perlu.
Periksa tempat kerja anda dengan seksama atau buatlah jadwal audit secara berkala untuk mengidentifikasi peralatan baru atau bahan yang dapat menimbulkan potensial bahaya dan mengidentifikasi perubahan dan mengevaluasi untuk mencegah timbulnya kekhawatiran akan potensial bahaya bagi keselamatan kerja.
•    Meninjau kembali pedoman keselamatan dan kesehatan kerja anda setiap tahun.
Tidak ada yang tetap sama di tempat kerja anda. Perubahan lingkungan kerja, baik itu perubahan mesin lama menjadi mesin baru, dan tata letak suatu lingkungan kerja mungkin berubah. Setiap perubahan berarti bahwa pedoman keselamatan anda sebelumnya mungkin sudah tidak relevan lagi dan harus ditinjau dan disesuaikan dengan kondisi perubahan yang ada.

Langkah Aman Bekerja di Pabrik Manufacture

Langkah Aman Bekerja di Pabrik Manufacture

pelatihank3manufakturAda sejumlah rangkaian tes yang perlu dilewati agar bisa bekerja sebagai seorang operator pabrik. Apabila Anda dapat lolos tes dan di terima bekerja di perusahaan tersebut jelas hal itu merupakan sebuah prestasi tersendiri.
Adapun setelah di terima bekerja, tugas baru siap menanti Anda. Ada beberapa hal yang harus dipelajari. Anda pun harus menguasai sistem produksi, SOP (Standard Operating Procedure), situasi tempat kerja, kesehatan dan keselamatan kerja. Tulisan ini yaitu mengenai 6 Tips Aman Bekerja di Pabrik Manufacture.

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/
Bekerja di pabrik pasti tidak terlepas dari potensi bahaya. Potensi bahaya itu dapat menjadi nyata yang mana menyebabkan terjadinya cedera hingga kematian. Terutama apabila dalam setiap prosesnya tidak disertai dengan pengetahui menjalankan pabrik secara aman.
Seorang pimpinan pabrik yang baik sudah semestinya memberikan info terkait pelatihan dan pendidikan yang diperlukan para pekerjanya. Selain itu, sebagai pekerja Anda juga harus aktif mencari info tambahan yang berguna. Karena itu sebelum mulai bekerja, pastikan Anda telah membaca dan mengerti beberapa tips aman bekerja di pabrik berikut ini :

  1. Mengerti Kebijakan dan Ketentuan Perusahaan
    Mengerti sepenuhnya mengenai kebijakan dan ketentuan yang berlaku di perusahaan terutama yang mencakup kesehatan dan keselamatan kerja. Pahami benar dan pastikan memperoleh penjelasan detail karena kebijakan dan ketentuan itu merupakan referensi utama.

 

Artikel pelatihan k3

  1. Kenali Tempat Kerja
    Kenali situasi dan kondisi tempat kerja Anda. Setiap bahan biasanya akan disimpan di tempat berbeda tergantung sifatnya contoh bahan kimia yang mudah terbakar dan lainnya.
  2. Kuasai Proses Produksi
    Agar selamat dalam bekerja pastikan untuk menguasai proses produksi dan keselamatan dalam prosesnya. Misalnya mengerti mengenai kondisi operasi, diagram instrumentasi, aliran material, sistem keamanan, serta sistem interlock. Dalam hal semacam ini Anda pun harus mempelajari cara penggunaan alat yang benar dan aman. Terlebih untuk alat-alat yang digerakkan secara manual.
  3. Mengerti Prosedur Operasi Standar
    Mengerti setiap prosedur operasi stadar yang berhubungan langsung dengan jenis pekerjaan yang harus Anda kerjakan setiap hari sebagai operator pabrik. Penting juga untuk mengetahui tindakan pencegahan pada setiap ancaman bahaya.
  4. Kuasai MSDS dan Simbol Penting
    Pelajari dan mengerti cara membaca MSDS atau Material Safety Data Sheet. Hindari berinterkasi dengan bahan apa pun sebelum membaca MSDS. Kuasai juga setiap simbol yang digunakan ditempat kerja. Pasalnya setiap simbol memiliki arti tersendiri dan harus menjadi perhatian.
  5. Bekerja Sesuai Kemampuan
    Hindari penugasan untuk pekerjaan diluar pemahaman Anda. Tetapi, tentunya pabrik yang bertanggungjawab tidak akan memberi pekerjaan kepada pekerjanya untuk pekerjaan yang tidak disertai dengan pelatihan.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan

pelatihank3tambangPengertian kerja tambang yaitu setiap tempat pegawaian yang bertujuan atau berhubungan langsung dengan pegawaian penyelidikan umum, eksplorasi, study kelayakan, konstruksi, operasi produksi, pengolahan/pemurnian dan pengangkutan bahan galian golongan a, b, c, termasuk sarana dan fasilitas penunjang yang ada diatas atau dibawah tanah/air, baik ada dalam satu wilayah atau tempat yang terpisah atau wilayah proyek.
Yang disebut kecelakaan tambang yakni :
1.    Kecelakaan Benar Terjadi
2.    Membuat Cidera Pegawai Tambang atau orang yang diizinkan di tambang oleh KTT
3.    Akibat Kegiatan Pertambangan
4.    Pada Jam Kerja Tambang
5.    Pada Wilayah Pertambangan

 

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/
Penggolongan Kecelakaan tambang
1.    Cidera Ringan (Kecelakaan Ringan)
Korban tidak dapat melakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 minggu.
2.    Cidera Berat (Kecelakaan Berat)
Korban tidak dapat melakukan tugas semula lebih dari 3 minggu.
Berdasarkan cedera korban, yakni :
1.    Retak Tengkorak kepala, tulang punggung pinggul, lengan bawah/atas, paha/kaki
2.    Pendarahan di dalam atau pingsan kurang oksigen
3.    Luka berat, terkoyak
4.    Persendian lepas
Perbuatan membahayakan oleh pegawai mencapai 96% antara lain berasal dari :
1.    Alat proteksi diri (12%)
2.    Posisi kerja (30%)
3.    Perbuatan seseorang (14%)
4.    Perkakas (equipment) (20%)
5.    Alat-alat berat (8%)
6.    Tata cara kerja (11%)
7.    Ketertiban kerja (1%)
A. Tindakan Setelah Kecelakaan Kerja
Manajemen K3
1.    Pengorganisasian dan Kebijakan K3
2.    Membangun Target dan Sasaran
3.    Administrasi, Dokumentasi, Pelaporan
4.    SOP
Prosedur kerja standard yaitu cara melaksanakan pegawaian yang ditentukan, untuk memperoleh hasil yang sama secara paling aman, rasional dan efisien, walaupun dikerjakan siapapun, kapanpun, di manapun. Tiap-tiap pegawaian Harus memiliki SOP agar pegawaian bisa dilakukan secara benar, efisien dan aman.
Pedoman Peraturan K3 Tambang
1.    Ruang Lingkup K3 Pertambangan : Wilayah KP/KK/PKP2B/SIPD Tahap Eksplorasi/Eksploitasi/Kontruksi & Produksi/Pengolahan/Pemurnian/Sarana Penunjang
2.    UU No. 11 Th. 1967
3.    UU No. 01 Th. 1970
4.    UU No. 23 Th. 1992
5.    PP No. 19 Th. 1970
6.    Kepmen Naker No. 245/MEN/1990
7.    Kepmen Naker No. 463/MEN/1993
8.    Kepmen Naker No. 05/MEN/1996
9.    Kepmen PE. No. 2555 K/26/MPE/1994
10.    Kepmen PE No. 555 K/26/MPE/1995
11.    Kepmen Kesehatan No. 260/MEN/KES/1998
12.    Kepmen ESDM No. 1453 K/29/MEM/2000
Contoh dan Aplikasi K3
Alat Proteksi Diri (APD) yaitu kelengkapan yang harus berfungsi saat bekerja sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pegawai tersebut dan orang di sekitarnya. Kewajiban itu telah disepakati oleh pemerintah lewat Departement Tenaga Kerja Republik Indonesia Ada beberapa perlengkapan yang berfungsi untuk melindungi seorang dari kecelakaan maupun bahaya yang kemungkinan dapat terjadi. Peralatan ini harus berfungsi oleh seseorang yang bekerja, seperti :
1.    Pakaian Kerja
Tujuan pemakaian baju kerja yaitu melindungi tubuh manusia pada pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan.
2.    Sepatu Kerja
Sepatu kerja (safety shoes) adalah perlindungan pada kaki. Setiap pegawai butuh memakai sepatu dengan sol yang tebal agar bisa bebas berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup kerja agar kaki tidak terluka bila tertimpa benda dari atas.
3.    Kacamata kerja
Kacamata berfungsi untuk melindungi mata dari debu atau serpihan besi yang berterbangan di tiup angin. Oleh karena itu mata perlu diberikan perlindungan. Biasanya pegawaian yang membutuhkan kacamata yaitu mengelas.
4.    Sarung Tangan
Sarung tangan begitu diperlukan untuk beberapa jenis pegawaian. Tujuan utama penggunaan sarung tangan yaitu melindungi tangan dari benda-benda keras dan mengangkat barang berbahaya. Pegawaian yang sifatnya berulang seperti mendorong gerobak secara terus menerus bisa mengakibatkan lecet pada tangan yang bersentuhan dengan besi pada gerobak.
5.    Helm
Helm sangat penting dipakai sebagai proteksi kepala dan telah adalah keharusan bagi setiap pegawai untuk menggunakannya dengan benar sesuai sama ketentuan.
6.    Tali Pengaman (Safety Harness)
Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diharuskan menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1, 8 meter.
7.    Penutup Telinga (Ear Plug/Ear Muff)
Berfungsi sebagai proteksi telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.
8.    Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas udara buruk (contoh berdebu, beracun, dll).
9.    Proteksi wajah (Face Shield)
Berperan sebagai proteksi wajah dari percikan benda asing saat bekerja (contoh pegawaian menggerinda)
B. Sistem manajemen k3 di pertambangan
Manajemen resiko (risk Management) Pertambangan yaitu satu proses interaksi yang dipakai oleh perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi bahaya ditempat kerja guna mengurangi resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem, dll. Jadi, manajemen resiko (risk Management) adalah suatu alat yang bila berfungsi dengan cara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang aman, bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja.
Mengenai Faktor Kemungkinan yang kerap didapati pada Perusahaan Pertambangan yaitu longsor di pertambangan umumnya datang dari gempa bumi, ledakan yang terjadi didalam tambang, dan keadaan tanah yang rentan mengalami longsor. Hal ini dapat pula disebabkan oleh tidak ada penyusunan pembuatan terowongan untuk tambang.
Kontrolling resiko diperlukan untuk mengamankan pegawai dari bahaya yang ada ditempat kerja sesuai sama persyaratan kerja Peran penilaian resiko dalam kegiatan pengelolaan di terima dengan baik di banyak industri. Pendekatan ini ditandai dengan empat step proses pengelolaan resiko manajemen resiko (risk Management) yaitu seperti berikut :
1.    Identifikasi resiko yaitu mengidentifikasi bahaya dan kondisi yang berpotensi menyebabkan bahaya atau kerugian (kadang-kadang disebut ‘kejadian yang tidak diinginkan’).
2.    Analisa resiko yaitu menganalisis besarnya resiko yang mungkin timbul dari peristiwa yg tidak diinginkan.
3.    Kontrolling resiko adalah memutuskan langkah yang pas untuk mengurangi atau mengendalikan resiko yang tidak bisa di terima.
4.    Mengaplikasikan dan memelihara kontrol aksi yaitu menerapkan kontrol dan meyakinkan mereka efektif.
Manajemen resiko (risk Management) pertambangan diawali dengan melaksanakan identifikasi bahaya untuk tahu aspek dan potensi bahaya yang ada yang akhirnya nanti sebagai bahan untuk dianalisa, pelaksanaan identifikasi bahaya diawali dengan membuat Standart Operational Procedure (SOP). Lalu sebagai langkah analisis dikerjakanlah observasi dan inspeksi. Sesudah dianalisa, aksi setelah itu yang butuh dikerjakan yaitu pelajari resiko untuk menilai seberapa besar tingkat resikonya yang selanjutnya untuk dilakukan kontrol atau kontrolling resiko.
Kegiatan kontrolling resiko ini ditandai dengan menyediakan alat deteksi, penyediaan APD, pemasangan rambu-rambu dan penunjukan personel yang bertanggung jawab sebagai pengawas. Setelah dikerjakan kontrolling resiko untuk aksi pengawasan yaitu dengan melakukan monitoring dan peninjauan lagi bahaya atau resiko.

Peran K3 sebagai salah satu sistem program yang di buat untuk para pekerja ataupun entrepreneur, kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan bisa menjadi sebuah usaha preventif akan munculnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat interaksi kerja dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengetahui penyebab yang berpotensi bisa menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan aksi antisipatif apabila terjadi hal demikian.
Saran
Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit dan kecelakaan kerja akan dapat menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) sebuah perusahaan, kerugian pada seorang pekerja, bahkan juga kerugian pada Negara. Oleh karena itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola dengan cara yang maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan namun semua orang-orang khusunya orang-orang pekerja di pertambangan itu guna meminimalisir segala kerugian yang bisa terjadi.

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

  1. Definisi

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja adalah bagian dari sistem manjemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, tanggung jawab, implementasi, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka penanganan risiko yang berkaitan dengan aktivitas kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan efektif. 

Baca Juga : http://deltaindo.co.id
B. Tujuan Dan Sasaran K3

Menciptakan suatu sistim keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan menyangkut unsur manajemen, pekerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mengelakkan dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan efektif.

Sebagai mana yang telah tercantum didalam Undang Undang No. 1 Tahun 1970

Tentang : Keselamatan Kerja

  1. Setiap pekerja berhak mendapat proteksi atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas Nasional
  2. Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya
  3. Sahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan effisien
  4. Bahwa berhubung dengan itu perlu diadakan segala usaha untuk membina norma-norma proteksi kerja
  5. Bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam Undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi.
  1. Rambu – rambu keselamatan kerja
    1. Larangan

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

Gambar lingkaran dengan diagonal berwarna merah di atas putih. Peringatan tersebut berarti suatu larangan. Contoh: sebatang rokok sedang sudah di bakar dengan warna hitam, berarti larangan merokok.

  1. Perintah

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

Gambar putih di atas biru mempunyai arti suatu perintah, contoh :

  • Helm Safety

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

Berkegunaan sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala secara langsung.

  • Safety Belt

pelatihank3safetybelt

Berkegunaan sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat transportasi ataupun instrumen lain yang sejenis (mobil,pesawat, alat berat, dan lain-lain).

  • Sepatu Karet (sepatu boot)

pelatihank3sepatukaret

Berkegunaan sebagai alat pengaman saat bekerja di tempat yang becek ataupun berlumpur. Kebanyakan di lapisi dengan metal untuk memproteksi kaki dari benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.

 

Lihat Pelatihan K3

  • Sepatu pelindung (safety shoes)

pelatihank3sepatupelindung

Seperti sepatu biasa, tapi dari terbuat dari bahan kulit dilapisi metal dengan sol dari karet tebal dan kuat. Berkegunaan untuk mengelakkan kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena tertiban benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.

  • sarung tangan

pelatihank3sarungtangan

Berkegunaan sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk sarung tangan di sesuaikan dengan kegunaan masing-masing pekerjaan.

  • Penutup Telinga (Ear Plug / Ear Muff)

pelatihank3penutuptelinga
Berkegunaan sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.

  • Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)

pelatihank3kacamatapengaman

Berkegunaan sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas).

  • Masker (Respirator)

pelatihank3maskerBerkegunaan sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan mutu udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).

  • Pelindung wajah (Face Shield)

pelatihank3pelindungwajah

Berkegunaan sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja ( misal pekerjaan menggerinda ).

  • Jas Hujan (Rain Coat)

pelatihank3jashujan

Berkegunaan memproteksi dari percikan air saat bekerja ( tanda bekerja pada waktu hujan atau sedang mencuci alat ).

  1. Peringatan

pelatihank3peringatan

Tanda peringatan ini berbentuk segitiga dengan warna hitam diatas putih.

  1. Pemberitahuan

pelatihank3pemberitahuan

Tanda/petunjuk ini berbentuk segi empat dengan gambar sebuah palang tengah-tengah warna putih di atas hijau. Peringatan Ini berarti tempat untuk memberikan pertolongan pada waktu terjadi kecelakaan atau PPPK.

  1. Akibat yang ditimbulkan apabila mengindahkan K3 di atas

Kecelakaan kerja tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri dari teknik keselamatan. Hal tersebut menunjukkan cara yang lebih baik selamat untuk melenyapkan kondisi kelalaian dan memperbaiki kesadaran mengenai keselamatan setiap karyawan pabrik. Dari hasil analisa kebanyakan kecelakaan biasanya terjadi karena mereka lalai ataupun kondisi kerja yang kurang aman.

Di dalam menganalisa pekerjaan seorang pekerja, teknisi keselamatan dapat mengantisipasi kemungkinan kesukaran dan ketergantungan di dalam bekerja. Sebagai contoh, jika analisanya dapat berjalan dengan lancar untuk menjalankan roda gigi dan memakai tangannya tanpa kesukaran, menunjukkan bahwa ia mampu menjalankan mesin dengan baik walaupun mesin tadi dapat ditinggal-tinggal.

Dengan cara yang sama bahwa analisa metode suatu pekerjaan terhadap elemen-elemennya untuk menganalisa gerak pribadi dan waktu masing-masing, atau dengan cara yang sama meneliti analisa seperti aspek-aspek suatu tingkatan pekerjaan, tanggung jawab dan juga pelatihan, analisa keselamatan juga memandang tugas dari seorang operator untuk menghindari terjadinya kecelakaan.

Sebelum menyelesaikan suatu studi kasus, analisa keselamatan harus bisa menentukan, tujuan setiap pekerjaan. Jika fakta-fakta tersebut ditentukan sebelumnya, menyaring dan penempatan, kedua perusahaan dan pekerja mendapatkan keuntungan.

  1. Penyelidikan Terhadap Kecelakaa

Walaupun analisa keselamatan kerja dan penyelidikan terhadap pabrik dapat mengelakkan kecelakaan, beberapa kecelakaan masih akan terjadi sebagai bukti kekurangan dari manusia. Ketika kecelakaan terjadi, melalui penyelidikan mungkin akan mengetahui bahaya yang sering terjadi dan sebagai koreksi pekerjaan dalam suatu pabrik, kegagalan penyelidikan dapat mengakibatkan kecelakan yang fatal hingga menyebabkan kematian.

Tanpa sebab penyelidikan kecelakaan seharusnya direncanakan dengan menunjukkan bagian pekerjaan ini yang salah dalam bekerja. Tujuan penyelidikan adalah memberikan fakta-fakta agar kecelakaan tidak terulang kembali. Lebih baik memberi peringatan daripada setelah terjadinya suatu kecelakaan,Dan kenyataan bahwa kecelakaan tidak terjadi selama beberapa kecelakaan yang ada, tidak menjamin bahwa kecelakan itu tidak mungkin terjadi lagi.

  1. Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tujuan pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja adalah mengelakkan terjadinya kecelakaan. Cara efektif untuk mengelakkan terjadinya kecelakaan, harus diambil tindakan yang tepat terhadap pekerja dan perlengkapan, agar pekerja memiliki konsep keselamatan dan kesehatan kerja demi mengelakkan terjadinya kecelakaan.

Sumber : http://neineni.blogspot.com/2013/03/keselamatan-dan-kesehatan-kerja-k3-di.html