Macam macam Gondola

Macam macam Gondola

Pelatihan K3

MEMAHAMI GONDOLA

Gondola juga dapat disebut sebagai Platform Kerja yang Ditangguhkan dalam SWPR didefinisikan sebagai “Perancah (bukan perancah tersampir) atau platform kerja yang ditangguhkan dari suatu bangunan atau struktur dengan cara mengangkat gigi dan mampu dinaikkan atau diturunkan oleh peralatan pengangkat (tetapi tidak termasuk kursi juru masak atau perangkat serupa).

Ini juga mencakup semua peralatan pengangkat, roda-gigi pengangkat, penyeimbang, pemberat, cadik, penyangga lainnya, dan seluruh peralatan mekanis dan listrik yang diperlukan sehubungan dengan operasi dan keselamatan perancah atau platform kerja semacam itu “.

Perancah atau platform kerja yang ditangguhkan atau digantung dari bangunan atau struktur bangunan dengan menggunakan alat bantu pengangkat yang dapat digunakan naik turun dengan peralatan pengangkat (tetapi tidak termasuk tempat duduk platform tunggal atau perangkat serupa).

Ini mencakup semua peralatan pengangkat, alat bantu pengangkat, pemberat, ballast, cadik, penyangga lainnya, dan semua personel mekanik dan kelistrikan yang diperlukan sehubungan dengan pengoperasian dan keselamatan perancah atau platform kerja.

Secara umum, gondola diartikan sebagai alat atau alat bantu pendukung bagi pekerja, operator, pembersih yang akan bekerja di luar gedung bertingkat, tangki minyak, menara industri, dinding kapal, dll.

Yang digerakkan dengan bantuan motor listrik atau manual dan bergerak secara vertikal maupun horizontal. Pergerakan gondola baik vertikal maupun horizontal dapat dilakukan secara manual atau dengan bantuan motor listrik.

BAGIAN GONDOLA

Secara umum gondola memiliki bagian-bagian yang penting antara lain: Anjungan / kandang / buaian / kereta api sebagai tempat pekerja melakukan pekerjaan.

Konstruksi hanger memiliki model yang sesuai dengan bentuk bangunan, kegunaan dan keinginan konsumen

  1. Wire Rope / tali kawat baja sebagai platform gantung dengan atap mobil.
  2. Mesin penggerak.
  3. Aksesoris lainnya seperti:
  4. Strirrup
  5. Perangkat Keamanan
  6. Panel kontrol dan kabel daya
  7. Roda dinding dan roda platform
  8. Penjepit kawat, bidal, dan belenggu

JENIS GONDOLA

Berdasarkan konstruksi yang digunakan, gondola dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu gondola sementara dan gondola permanen.

SEMENTARA GONDOLA

Gondola Sementara adalah Satuan Gondola yang terdiri dari berbagai komponen yang dapat dipisahkan dan dapat dipindahkan ke berbagai konstruksi gantungan atau dapat dipindahkan ke bangunan lain. Gondola sementara dapat dibedakan menjadi berbagai macam antara lain:

1. Penjepit Paraphet/paraphet clamp

Pelatihan Gondola

Paraphet Clamp adalah suatu konstruksi yang digunakan untuk bangunan yang hanya mempunyai ruang / luas terbatas di lantai paling atas. Jenis konstruksi ini hanya digunakan pada bangunan yang struktur paraphetnya terbuat dari beton bertulang penuh.

2. T-Jack Manual

Pelatihan K3 Gondola

Konstruksi Gantung T-Jack adalah suatu konstruksi yang terdiri dari Mekanisme Suspended dan Counterweight, biasa digunakan oleh kontraktor proyek konstruksi bangunan.

3. David Socket

K3 Gondola

Konstruksi gantung digunakan untuk bangunan yang memiliki ruang terbatas. Area minimum yang dibutuhkan untuk konstruksi tipe soket david adalah 80 cm dari paraphet bagian dalam.

David Socket memiliki batas maksimum yang direkomendasikan oleh Kementerian Ketenagakerjaan yaitu hanya boleh digunakan untuk gedung dengan maksimal 10 lantai, dan dimensi yang diperbolehkan adalah tinggi konstruksi 2 meter dan panjang lengan saku 2 meter.

4. Monorel

Pelatihan K3 Gondola

Gondola Type Monorail adalah jenis gondola yang digunakan untuk bangunan yang tidak memiliki luas atap sama sekali.

Konstruksi terdiri dari rel yang dilas ke penyangga yang dipasang pada struktur kolom bangunan. Peron digantung pada trolly yang diikatkan pada rel.

5. Mobile Roof Double Arm

Pelatihan K3 Gondola

Konstruksi Mobile Double Arm merupakan jenis konstruksi yang digerakkan secara manual oleh beberapa orang dan ada pula yang digerakkan dengan sistem bermotor serta dapat diparkir di lantai atas.

6. Mobile Roof Single Arm

Pelatihan K3 Gondola

Menggunakan kontrol listrik yang digerakkan oleh motor dan gearbox. Untuk merubah posisi, gunakan kontrol dengan menggunakan tombol tekan yang dibantu oleh seekor steer.

7. Jalur Rel Atap

Pelatihan K3 Gondola

Transfer konstruksi memiliki rel yang dipasang di sekitar area yang dibutuhkan.

Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/beberapa-aturan-riksa-uji-k3-di-lingkungan-kerja.html

GONDOLA PERMANEN

Gondola Permanen adalah Satuan Gondola yang terdiri dari berbagai komponen menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan bersifat Permanen pada suatu lokasi / bangunan, berdasarkan konstruksi tersebut maka gondola permanen dibagi menjadi:

1. Lengan Tetap

Pelatihan

Jenis gondola ini digunakan untuk karakteristik bangunan dimana seluruh keliling lantai atas atap memiliki jarak yang sama dari rel ke paraphet atau memiliki selisih tidak lebih dari 3 meter.

2. Luffing

Operator Gondola

Digunakan untuk paraphet yang memiliki ketinggian lebih dari 2 meter, gondola jenis ini menjadi pilihan utama

Jenis gondola yang digunakan bila jangkauan lengan boom dari yang terdekat hingga terjauh memiliki selisih lebih dari 3 meter.

PERBEDAAN MEKANISME KERJA SISTEM PENGANGKATAN

Sistem Pengangkatan Gondola Sementara

Jika hoist berada pada platform (keranjang) gondola maka akan menaiki tali kawat yang terpasang pada konstruksi hanger sehingga platform (keranjang) akan naik ke atas.

Sistem Gondola Pengangkat Permanen

Saat winch berada dalam konstruksi roof car, jika digunakan winch drum akan menggulung tali kawat (sling) sehingga platform (keranjang) akan bergerak ke atas.

Pelatihan K3 Gondola

di sadur dan edit dari http://nusantaratraisser.co.id/responsiveweb/blog/2019/01/18/gondola-masa-kini/

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan

pelatihank3tambangPengertian kerja tambang yaitu setiap tempat pegawaian yang bertujuan atau berhubungan langsung dengan pegawaian penyelidikan umum, eksplorasi, study kelayakan, konstruksi, operasi produksi, pengolahan/pemurnian dan pengangkutan bahan galian golongan a, b, c, termasuk sarana dan fasilitas penunjang yang ada diatas atau dibawah tanah/air, baik ada dalam satu wilayah atau tempat yang terpisah atau wilayah proyek.
Yang disebut kecelakaan tambang yakni :
1.    Kecelakaan Benar Terjadi
2.    Membuat Cidera Pegawai Tambang atau orang yang diizinkan di tambang oleh KTT
3.    Akibat Kegiatan Pertambangan
4.    Pada Jam Kerja Tambang
5.    Pada Wilayah Pertambangan

Lihat : https://nusantara.deltaindo.co.id/

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/
Penggolongan Kecelakaan tambang
1.    Cidera Ringan (Kecelakaan Ringan)
Korban tidak dapat melakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 minggu.
2.    Cidera Berat (Kecelakaan Berat)
Korban tidak dapat melakukan tugas semula lebih dari 3 minggu.
Berdasarkan cedera korban, yakni :
1.    Retak Tengkorak kepala, tulang punggung pinggul, lengan bawah/atas, paha/kaki
2.    Pendarahan di dalam atau pingsan kurang oksigen
3.    Luka berat, terkoyak
4.    Persendian lepas
Perbuatan membahayakan oleh pegawai mencapai 96% antara lain berasal dari :
1.    Alat proteksi diri (12%)
2.    Posisi kerja (30%)
3.    Perbuatan seseorang (14%)
4.    Perkakas (equipment) (20%)
5.    Alat-alat berat (8%)
6.    Tata cara kerja (11%)
7.    Ketertiban kerja (1%)
A. Tindakan Setelah Kecelakaan Kerja
Manajemen K3
1.    Pengorganisasian dan Kebijakan K3
2.    Membangun Target dan Sasaran
3.    Administrasi, Dokumentasi, Pelaporan
4.    SOP
Prosedur kerja standard yaitu cara melaksanakan pegawaian yang ditentukan, untuk memperoleh hasil yang sama secara paling aman, rasional dan efisien, walaupun dikerjakan siapapun, kapanpun, di manapun. Tiap-tiap pegawaian Harus memiliki SOP agar pegawaian bisa dilakukan secara benar, efisien dan aman.
Pedoman Peraturan K3 Tambang
1.    Ruang Lingkup K3 Pertambangan : Wilayah KP/KK/PKP2B/SIPD Tahap Eksplorasi/Eksploitasi/Kontruksi & Produksi/Pengolahan/Pemurnian/Sarana Penunjang
2.    UU No. 11 Th. 1967
3.    UU No. 01 Th. 1970
4.    UU No. 23 Th. 1992
5.    PP No. 19 Th. 1970
6.    Kepmen Naker No. 245/MEN/1990
7.    Kepmen Naker No. 463/MEN/1993
8.    Kepmen Naker No. 05/MEN/1996
9.    Kepmen PE. No. 2555 K/26/MPE/1994
10.    Kepmen PE No. 555 K/26/MPE/1995
11.    Kepmen Kesehatan No. 260/MEN/KES/1998
12.    Kepmen ESDM No. 1453 K/29/MEM/2000
Contoh dan Aplikasi K3
Alat Proteksi Diri (APD) yaitu kelengkapan yang harus berfungsi saat bekerja sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pegawai tersebut dan orang di sekitarnya. Kewajiban itu telah disepakati oleh pemerintah lewat Departement Tenaga Kerja Republik Indonesia Ada beberapa perlengkapan yang berfungsi untuk melindungi seorang dari kecelakaan maupun bahaya yang kemungkinan dapat terjadi. Peralatan ini harus berfungsi oleh seseorang yang bekerja, seperti :
1.    Pakaian Kerja
Tujuan pemakaian baju kerja yaitu melindungi tubuh manusia pada pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan.
2.    Sepatu Kerja
Sepatu kerja (safety shoes) adalah perlindungan pada kaki. Setiap pegawai butuh memakai sepatu dengan sol yang tebal agar bisa bebas berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup kerja agar kaki tidak terluka bila tertimpa benda dari atas.
3.    Kacamata kerja
Kacamata berfungsi untuk melindungi mata dari debu atau serpihan besi yang berterbangan di tiup angin. Oleh karena itu mata perlu diberikan perlindungan. Biasanya pegawaian yang membutuhkan kacamata yaitu mengelas.
4.    Sarung Tangan
Sarung tangan begitu diperlukan untuk beberapa jenis pegawaian. Tujuan utama penggunaan sarung tangan yaitu melindungi tangan dari benda-benda keras dan mengangkat barang berbahaya. Pegawaian yang sifatnya berulang seperti mendorong gerobak secara terus menerus bisa mengakibatkan lecet pada tangan yang bersentuhan dengan besi pada gerobak.
5.    Helm
Helm sangat penting dipakai sebagai proteksi kepala dan telah adalah keharusan bagi setiap pegawai untuk menggunakannya dengan benar sesuai sama ketentuan.
6.    Tali Pengaman (Safety Harness)
Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diharuskan menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1, 8 meter.
7.    Penutup Telinga (Ear Plug/Ear Muff)
Berfungsi sebagai proteksi telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.
8.    Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas udara buruk (contoh berdebu, beracun, dll).
9.    Proteksi wajah (Face Shield)
Berperan sebagai proteksi wajah dari percikan benda asing saat bekerja (contoh pegawaian menggerinda)
B. Sistem manajemen k3 di pertambangan
Manajemen resiko (risk Management) Pertambangan yaitu satu proses interaksi yang dipakai oleh perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi bahaya ditempat kerja guna mengurangi resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem, dll. Jadi, manajemen resiko (risk Management) adalah suatu alat yang bila berfungsi dengan cara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang aman, bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja.
Mengenai Faktor Kemungkinan yang kerap didapati pada Perusahaan Pertambangan yaitu longsor di pertambangan umumnya datang dari gempa bumi, ledakan yang terjadi didalam tambang, dan keadaan tanah yang rentan mengalami longsor. Hal ini dapat pula disebabkan oleh tidak ada penyusunan pembuatan terowongan untuk tambang.
Kontrolling resiko diperlukan untuk mengamankan pegawai dari bahaya yang ada ditempat kerja sesuai sama persyaratan kerja Peran penilaian resiko dalam kegiatan pengelolaan di terima dengan baik di banyak industri. Pendekatan ini ditandai dengan empat step proses pengelolaan resiko manajemen resiko (risk Management) yaitu seperti berikut :
1.    Identifikasi resiko yaitu mengidentifikasi bahaya dan kondisi yang berpotensi menyebabkan bahaya atau kerugian (kadang-kadang disebut ‘kejadian yang tidak diinginkan’).
2.    Analisa resiko yaitu menganalisis besarnya resiko yang mungkin timbul dari peristiwa yg tidak diinginkan.
3.    Kontrolling resiko adalah memutuskan langkah yang pas untuk mengurangi atau mengendalikan resiko yang tidak bisa di terima.
4.    Mengaplikasikan dan memelihara kontrol aksi yaitu menerapkan kontrol dan meyakinkan mereka efektif.
Manajemen resiko (risk Management) pertambangan diawali dengan melaksanakan identifikasi bahaya untuk tahu aspek dan potensi bahaya yang ada yang akhirnya nanti sebagai bahan untuk dianalisa, pelaksanaan identifikasi bahaya diawali dengan membuat Standart Operational Procedure (SOP). Lalu sebagai langkah analisis dikerjakanlah observasi dan inspeksi. Sesudah dianalisa, aksi setelah itu yang butuh dikerjakan yaitu pelajari resiko untuk menilai seberapa besar tingkat resikonya yang selanjutnya untuk dilakukan kontrol atau kontrolling resiko.
Kegiatan kontrolling resiko ini ditandai dengan menyediakan alat deteksi, penyediaan APD, pemasangan rambu-rambu dan penunjukan personel yang bertanggung jawab sebagai pengawas. Setelah dikerjakan kontrolling resiko untuk aksi pengawasan yaitu dengan melakukan monitoring dan peninjauan lagi bahaya atau resiko.

Peran K3 sebagai salah satu sistem program yang di buat untuk para pekerja ataupun entrepreneur, kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan bisa menjadi sebuah usaha preventif akan munculnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat interaksi kerja dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengetahui penyebab yang berpotensi bisa menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan aksi antisipatif apabila terjadi hal demikian.

 

Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/pelatihan-k3-crane-beserta-pengertiannya.html

Saran
Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit dan kecelakaan kerja akan dapat menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) sebuah perusahaan, kerugian pada seorang pekerja, bahkan juga kerugian pada Negara. Oleh karena itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola dengan cara yang maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan namun semua orang-orang khusunya orang-orang pekerja di pertambangan itu guna meminimalisir segala kerugian yang bisa terjadi.

Jenis jenis Crane beserta pengertiannya

Jenis jenis Crane beserta pengertiannya

Penjelasan tentang crane serta penggunaan dan jenisnya. Derek dan fungsi penggunaannya dapat berbeda-beda.

Kita sering melihat dan tentunya paham bahwa alat ini digunakan untuk membantu dalam pengangkatan. Alat angkat ini biasanya digunakan pada proyek konstruksi atau pekerjaan yang membutuhkan alat bantu untuk membantu mengangkat atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Cara kerja crane adalah dengan mengangkat material yang akan dipindahkan, menggerakkannya secara horizontal, kemudian menurunkan material tersebut ke tempat yang diinginkan. Beberapa jenis crane yang umum digunakan adalah:

Berbagai jenis crane:
1. Derek Perayap

Pelatihan K3 Crane

Jenis ini memiliki permukaan bergerak 3600. Dengan roda perayap, crane jenis ini dapat bergerak di dalam lokasi proyek sambil melakukan tugasnya. Ketika derek akan digunakan pada proyek lain, derek diangkut menggunakan trailer lowbed. Pengangkutan ini dilakukan dengan membongkar boom menjadi beberapa bagian untuk memudahkan penyelenggaraan pengangkutan.

  1. Truk Derek
    Crane jenis ini dapat berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya tanpa bantuan alat angkut. Namun, bagian dari crane tersebut tetap harus dibongkar untuk memudahkan pergerakan. Layaknya crawler crane, truck crane ini dapat berputar 360 derajat. Untuk menjaga keseimbangan alat, truk derek memiliki kaki-kaki. Dalam pengoperasiannya kaki harus dipasang dan roda diangkat dari tanah sehingga keselamatan pengoperasian dengan boom yang panjang tetap terjaga.
  2. Derek untuk Lokasi Terbatas
    Crane jenis ini ditempatkan pada dua as dimana kedua asnya bergerak secara bersamaan. Dengan kelebihan tersebut, crane jenis ini dapat bergerak dengan leluasa. Penggerak crane jenis ini merupakan roda yang sangat besar yang dapat meningkatkan kemampuan alat untuk bergerak di medan dan dapat melaju di jalan raya dengan kecepatan maksimal 30 mph. Lokasi ruang operator crane biasanya pada bagian geladak yang berputar.
  3. Tower Crane
    Tower crane adalah alat yang digunakan untuk mengangkat material secara vertikal dan horizontal ke suatu tempat yang tinggi dalam ruang yang terbatas. Jenis crane ini dibagi berdasarkan cara berdiri crane, yaitu crane berdiri bebas, crane terpasang rel, crane tower terikat dan crane panjat.

untuk bisa mengoperasikan ini harus ikut Pelatihan K3 Crane

Pelatihan K3 Crane
Crane is used in the construction of buildings.

 

Bagian Crane

Bagian dari crane adalah tiang atau tiang utama, jib dan counter jib, counterweight, trolley dan tali pengikat. Tiang tiang adalah tiang vertikal yang berdiri di atas alas atau alas. Jib adalah tiang horizontal yang panjangnya ditentukan berdasarkan jarak yang diinginkan.

  1. Kriteria pemilihan Tower Crane
    Pemilihan tower crane sebagai alat pemindah material didasarkan pada kondisi lapangan yang tidak besar, ketinggian yang tidak terjangkau alat lain. Dan tidak perlu alat bergerak. Pemilihan jenis tower crane yang akan digunakan harus memperhatikan situasi proyek, bentuk struktur bangunan, kemudahan pengoperasian baik pada saat pemasangan maupun pada saat pembongkaran.

Baca Juga : riksa-uji-alat.html

Sedangkan pemilihan kapasitas tower crane didasarkan pada berat, dimensi, dan jangkauan beban terberat, tinggi maksimum alat, proyeksi perakitan alat, berat alat yang harus ditopang oleh struktur, ruang yang tersedia untuk alat, luas yang harus dijangkau alat dan kecepatan alat untuk menggerakkannya. bahan. Pelatihan K3 Crane bisa di ikuti di sini.

2. Kapasitas Tower Crane
Kapasitas tower crane tergantung pada beberapa faktor. Yang perlu diperhatikan adalah jika material yang diangkut crane melebihi kapasitasnya maka akan terjadi jungkir balik. Oleh karena itu, berat material yang diangkut haruslah sebagai berikut:
1). Untuk roda perayap, 75% dari kapasitas perkakas
2). Untuk mesin beroda ban karet sudah 85% dari kapasitas alat
3). Untuk mesin yang memiliki kaki-kaki ini adalah 85% dari kapasitas perkakas

Faktor eksternal yang harus diperhatikan dalam menentukan kapasitas alat adalah
1). Kekuatan angin melawan alat tersebut
2). Beban ayun saat digerakkan
3). Kecepatan transfer material
4). Pengereman mesin sedang bergerak

Pelatihan K3 Crane baca di deltaindo

di edit dan disadur dari https://www.elhifa.co.id/penjelasan-tentang-crane-dan-kegunaanya-serta-jenisnya/

Pelatihan K3 Sistem Manajemen HSE

Pelatihan K3 Sistem Manajemen HSE

Sistem Manajemen HSE
HSE sistem manajemen sistem membantu memastikan bahwa kegiatan usaha ukuran persegi yang dilakukan selama dengan cara bertanggung jawab secara sosial yang aman, sehat, dan lingkungan dan, ditujukan ke arah mencegah insiden, cedera, aktivitas penyakit, polusi dan cedera aset. Hal ini memungkinkan orang dan komunitas untuk berkembang, yang membantu menjaga bisnis kita sehat.

pelatihan k3 hse

Baca Juga : https://nusantara.deltaindo.co.id/

Kami percaya insiden persegi mengukur dicegah yang masalah HSE harus tertanam dalam setiap tugas dan bisnis call. HSE sistem manajemen ukuran persegi dinilai setiap tahun menggunakan alat umum untuk memandu perbaikan terus-menerus dan akhirnya mencapai standar terbaik keunggulan.
strategi lingkungan kami berfokus pada pengelolaan masalah lingkungan kunci, mengukur kinerja dan menerapkan mekanisme pemerintahan yang ukuran persegi penting untuk mempertahankan tingkat tinggi kinerja lingkungan dan melayani ke Amerika Serikat masih drive budaya keunggulan lingkungan.
Unit bisnis
Dalam Pelatihan K3 Sistem Manajemen HSE  Semua unit bisnis kami secara sporadis meninjau sistem manajemen mereka terhadap standar perusahaan dan ukuran persegi jawab untuk masalah properti integrasi ke operasi sehari-hari, pengembangan proyek dan pengambilan keputusan. Mereka menganalisis berdiri saat ini, menentukan daerah untuk perbaikan potensial, kemudian melaksanakan kegiatan kunci untuk mengurangi risiko dan lebih meningkatkan kinerja HSE. mereka perintah yang bertanggung jawab melalui Associate in Keperawatan penilaian kinerja tahunan.

Baca Jua : https://deltaindo.co.id/

Operasi
Setelah proyek dipersiapkan untuk operasi, ditambah manajer bertanggung jawab untuk memimpin kinerja pembangunan properti ditambah sesuai dengan sistem manajemen HSE dan perusahaan alternatif kebutuhan properti dan tips. Audit membagikan oleh perusahaan dan unit bisnis karyawan menjamin harapan ini ukuran persegi bertemu.
topik Audit meliputi:
• Kesehatan, Keselamatan dan Kebijakan suasana
• Sistem Manajemen dan Audit
• Keselamatan & amp; Kesehatan
• pengetahuan Kinerja
Penilaian Siklus Hidup (LCA)
Sebuah Penilaian Siklus Hidup memungkinkan Amerika Serikat untuk menilai emisi proyek, penggunaan sumber daya alam, dan jejak sosial.
Dengan menilai emisi proyek, penggunaan sumber daya alam, dan jejak sosial, unit bisnis akan melihat kinerja masing-masing, jejak mereka relatif terhadap minyak dan gas alternatif datang, dan dampaknya relatif terhadap sumber energi yang kompetitif melalui Pengkajian Siklus Hidup.

Tugas Ahli Teknik Bangunan Gedung – Konsultan Teknik Bangunan Gedung

Tugas Ahli Teknik Bangunan Gedung – Konsultan Teknik Bangunan Gedung

Konsultan Teknik Bangunan Gedung

Konsultan Teknik Bangunan Gedung – Tugas dan Tanggung Jawab Ahli Teknik Bangunan. Berikut adalah beberapa tugas dan tanggung jawab seorang Ahli Teknik Bangunan, antara lain:
Klasifikasi Insinyur Bangunan Dibagi menjadi 3 Bagian

Ahli Teknik Bangunan Muda
Tugas ahli teknik bangunan muda adalah sebagai berikut:

  1. Menerapkan SMM, SMK3-L, Green Building, dan regulasi terkait gedung
  2. Kumpulkan data geoteknik dan parameter tanah di lokasi yang dipilih
  3. Lakukan perhitungan pada struktur atas dan bawah bangunan
  4. Buatlah gambar rencana struktur bangunan
  5. Buatlah gambar denah rinci dari suatu struktur bangunan
  6. Menyiapkan data teknis untuk penyusunan spesifikasi teknis gedung
  7. Melakukan aktivitas pengamanan bangunan
  8. Buat persiapan untuk konstruksi
  9. Melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai gambar rencana
  10. Mempersiapkan kegiatan uji fungsi gedung dan fasilitas pada gedung
  11. Siapkan data serah terima pekerjaan
  12. Buat laporan pekerjaan

 

Baca Juga : https://nusantara.deltaindo.co.id/layanan/

Adapun tugas dari Ahli Teknik Bangunan Madya adalah sebagai berikut:

  1. Menerapkan SMM, SMK3-L, Green Building, dan regulasi terkait gedung
  2. Periksa data geoteknik dan parameter tanah di lokasi yang dipilih
  3. Melakukan kajian terhadap hasil perhitungan struktur atas dan bawah bangunan
  4. Periksa gambar denah struktur bangunan
  5. Buatlah gambar denah rinci dari suatu struktur bangunan
  6. Menyiapkan data teknis untuk penyusunan spesifikasi teknis gedung
  7. Kontrol pengamanan bangunan
  8. Memeriksa persiapan konstruksi
  9. Mengontrol pelaksanaan pekerjaan konstruksi sesuai dengan gambar rencana
  10. Melakukan uji fungsi gedung dan fasilitas pada suatu gedung
  11. Siapkan serah terima pekerjaan
  12. Buat laporan pekerjaan

 

Ahli Teknik Bangunan Utama

Tugas Insinyur Bangunan Adalah Sebagai Berikut:

  1. Menerapkan SMM, SMK3-L, Green Building, dan regulasi terkait gedung
  2. Melakukan desain bangunan
  3. Analisis data geoteknik dan parameter tanah di lokasi yang dipilih
  4. Melakukan kajian terhadap hasil perhitungan struktur atas dan struktur bawah bangunan
  5. Menyusun spesifikasi teknik bangunan
  6. Kontrol pengamanan bangunan
  7. Tentukan metode konstruksi bangunan
  8. Memeriksa persiapan konstruksi
  9. Mengontrol pelaksanaan pekerjaan konstruksi sesuai dengan gambar rencana

 

Konstruksi, Jenis, Penjelasan dan Contohnya

Konstruksi, Jenis, Penjelasan dan Contohnya

Pelatihan K3 Konstruksi
Pelatihan K3 Konstruksi

Konstruksi adalah terminologi yang luar biasa dengan perkembangan. Kata ini memiliki beberapa arti berbeda berdasarkan konteksnya. Konstruksi penting untuk mewujudkan hasil bangunan yang sesuai dengan rencana. Namun, apa arti konstruksi itu sendiri? Pelatihan K3 Konstruksi

Ada banyak istilah yang juga berhubungan dengan konstruksi seperti perusahaan konstruksi, jasa konstruksi, proyek konstruksi dan manajemen konstruksi.

Pada artikel berikut ini kita akan membahas pengertian dari masing-masing istilah tersebut, serta jenis usaha konstruksi yang diatur dalam Undang-Undang Jasa Konstruksi (UUJK) di Indonesia serta beberapa contoh jenis konstruksi yang ada.

Pengertian dari Konstruksi

Pada hakikatnya konstruksi adalah penataan atau model suatu sarana dan prasarana yang dibuat sebelum konstruksi. Dalam konteks yang berbeda, konstruksi dapat didefinisikan sebagai aktivitas atau aktivitas konstruksi yang menggunakan jasa kontraktor atau perusahaan konstruksi lainnya.

Sedangkan dalam konteks arsitektural dan sipil, konstruksi dapat merujuk pada makna dari satu atau lebih objek atau infrastruktur bangunan itu sendiri. Apabila dapat disimpulkan, konstruksi adalah suatu kesatuan yang meliputi kegiatan bangunan dan objek bangunan yang didalamnya terdapat beberapa bagian struktur.

Selain dari arti konstruksi tunggal, ada juga beberapa istilah lain yang sering dikaitkan dengan kata konstruksi. Berikut ini adalah istilah-istilah ini dan artinya.

  1. Perusahaan Konstruksi : Perusahaan konstruksi adalah suatu bentuk usaha di bidang ekonomi yang berkaitan dengan perencanaan, pembangunan, dan pengawasan pembangunan sarana dan prasarana untuk kepentingan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku
  2. Jasa Konstruksi : Dalam Undang-Undang tentang Jasa Konstruksi (UUJK), jasa konstruksi adalah serangkaian layanan jasa konsultasi konstruksi yang meliputi perencanaan pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan, dan pengawasan pekerjaan konstruksi. Badan usaha yang bergerak untuk melakukan pekerjaan ini biasa disebut dengan penyedia jasa konstruksi.
  3. Proyek Konstruksi : Proyek konstruksi adalah rangkaian kegiatan membangun dan membangun fasilitas seperti jalan, jembatan, bendungan, gedung, sesuai dengan rencana yang telah dibuat termasuk jangka waktu pembangunan, sumber daya manusia, dan anggaran.Proyek konstruksi adalah kegiatan yang sifatnya waktu terbatas atau sementara, tidak berulang, tidak rutin, berdurasi, dan memiliki sumber daya yang telah ditentukan dalam rencana.
  4. Manajemen Konstruksi :Manajemen konstruksi adalah penerapan fungsi manajemen seperti perencanaan, pelaksanaan, dan pelaksanaan dalam suatu proyek konstruksi terstruktur dengan memanfaatkan sumber daya untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan rencana proyek.Manajemen konstruksi mempunyai fungsi pekerjaan yang meliputi pengendalian kualitas fisik konstruksi, penganggaran biaya, dan pemantauan durasi pembangunan proyek.

Baca juga : http://blog.deltaindo.co.id/riksa-uji-alat.html

Fungsi Konstruksi Pada Sebuah Proyek

Sarana dan prasarana membutuhkan perencanaan – yang meliputi perhitungan yang tepat dan rencana tata letak bangunan – agar dapat menghasilkan bangunan yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Fungsi konstruksi diperlukan untuk kelancaran dan efektivitas konstruksi suatu proyek.

Fungsi konstruksi lainnya adalah sebagai berikut.

  1. Memberikan gambaran desain bangunan yang efektif dan efisien
  2. Memberikan perkiraan anggaran biaya untuk pengeluaran material dan pemilihan jenis material yang dibutuhkan
  3. Memberikan kalkulasi dalam hal konstruksi yang presisi

Beberapa Jenis Usaha Konstruksi

Seperti halnya badan usaha di bidang ekonomi lainnya, beberapa penyedia jasa konstruksi atau perusahaan konstruksi berbentuk perseorangan dan ada pula yang berbentuk badan usaha.

Bisnis individu umumnya melakukan pekerjaan konstruksi dengan risiko rendah, anggaran rendah, dan teknologi sederhana. Sedangkan badan usaha pada umumnya mengerjakan proyek dengan resiko lebih besar dan membutuhkan banyak perencanaan dan pengawasan.

Jenis usaha jasa konstruksi di Indonesia diatur dalam UU No. 18 Tahun 1999. Usaha jasa konstruksi ada tiga jenis, antara lain:

1. Perencana konstruksi
Perencana konstruksi adalah jenis usaha yang menyediakan jasa untuk serangkaian pekerjaan sebelum konstruksi.

Rangkaian pekerjaan layanan ini biasanya meliputi, studi pembangunan, penyusunan kontrak kerja konstruksi, penentuan anggaran biaya, perkiraan durasi pembangunan, survei dampak terhadap lingkungan, keamanan, dan menjaga kenyamanan ruang publik. Secara umum seorang perencana konstruksi disebut juga sebagai Konsultan Perencanaan.

2. Pelaksana konstruksi
Pelaksana Konstruksi adalah penyedia jasa konstruksi dengan fungsi pekerjaan yang meliputi penyiapan lapangan, pengerjaan, dan penyerahan hasil konstruksi yang sudah menjadi bangunan atau bentuk lain. Umumnya pekerjaan ini disebut juga sebagai kontraktor konstruksi.

3. Pengawasan konstruksi
Pengawasan konstruksi adalah jenis usaha jasa konstruksi yang memberikan jasa untuk mengawasi sebagian atau seluruh pekerjaan proyek mulai dari proses persiapan lapangan hingga penyerahan hasil akhir konstruksi. Fungsi kerja ini dikenal sebagai Konsultan Pengawas. Pelatihan K3 Konstruksi

Contoh Jenis Jenis Konstruksi

Pada dasarnya bangunan yang memiliki desain ruang dan memiliki model awal yang telah direncanakan dengan tepat dapat disebut dengan konstruksi. Namun, berikut adalah beberapa kategori jenis konstruksi yang biasa ditemukan di sekitar kita.

1. Pembangunan gedung
Konstruksi gedung adalah suatu konstruksi yang direncanakan sebagai suatu gedung dengan beberapa fungsi yang dapat digunakan oleh masyarakat umum misalnya seperti pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, gedung perguruan tinggi, dan rumah sakit.

2. Konstruksi teknik
Konstruksi teknik meliputi konstruksi infrastruktur seperti jalan raya, jembatan dan bendungan. Konstruksi teknik dapat dibagi menjadi dua jenis, konstruksi jalan dan konstruksi berat.

3. Konstruksi industri
Konstruksi industri adalah pembangunan proyek pabrik, seperti pertambangan mineral, minyak dan gas.

Itulah pembahasan singkat mengenai konstruksi, mulai dari pengertian konstruksi itu sendiri, istilah terkait, jenis usaha jasa konstruksi, hingga beberapa contoh jenis konstruksi.

Konstruksi sudah tidak asing lagi jika dikaitkan dengan kegiatan pembangunan fasilitas umum. Dengan adanya konstruksi maka proses pembangunan proyek dapat menjadi lebih efisien dan efektif.

Pelatihan K3 Konstruksi

sedikit di edit dari artikel di https://wira.co.id/konstruksi-adalah/

Fungsi dan Jenis jenis Alat Berat

Fungsi dan Jenis jenis Alat Berat

Penggunaan alat berat dalam bidang pekerjaan teknik sipil sudah menjadi hal yang lumrah bahkan mungkin menjadi kewajiban. Alat berat yang digunakan dalam suatu proyek dibuat oleh pabrik untuk membantu dan memfasilitasi pekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing, seperti penggali, pemuat, pengangkut, penyebar, dan pemadat.

Sebagai pengguna, alat berat harus digunakan secara efisien agar tingkat produktivitas alat tercapai sesuai dengan jadwal dan biaya tambahan yang dikeluarkan, misalnya saat menyewa alat berat. Agar dapat digunakan secara efisien, pengguna perlu mengetahui kemampuan alat, jenis dan fungsi alat berat, keterbatasan alat, serta biaya operasional alat tersebut.

Jenis Jenis Alat Berat

Alat berat merupakan alat yang digunakan untuk mempermudah proses kerja agar menjadi lebih cepat, mudah, dan hasil sesuai dengan harapan. Penggunaan alat berat tersebut harus tepat dan disesuaikan dengan kondisi dan situasi di lapangan. Karena itu, Anda harus tahu sebelum menyewa atau menggunakannya. Berikut ini adalah jenis dan fungsi alat berat yang di fabrikasi oleh perusahaan manufaktur.

Excavator

Alat berat inilah yang paling banyak digunakan dan paling sering dikenal masyarakat sering disebut dengan Pull Shovel atau Backhoe. Penggunaan excavator harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Umumnya excavator menggunakan tenaga mesin diesel dan full hydraulic system yang terbagi menjadi beberapa tipe sesuai dengan digger di bagian depan.

lihat juga : Pelatihan K3

Pengoperasian ekskavator yang paling efisien adalah menggunakan metode tumit dan ujung kaki, mulai dari atas hingga bawah. Bagian atas excavator dapat berputar (unit berputar) 360 derajat. Excavator mampu mendistribusikan kargo secara merata ke seluruh kapal.

Excavator memiliki dua jenis penggerak yaitu ban dan crawler. Ekskavator dilengkapi dengan perayap yang memungkinkannya beroperasi pada permukaan yang kasar atau kurang padat dan tidak memerlukan banyak pergerakan. Sedangkan penggunaan ekskavator beroda lebih efisien jika digunakan untuk pekerjaan dengan mobilitas tinggi.

Loader

Loader merupakan salah satu jenis alat berat yang mirip dengan Dozer Shovel, namun dengan menggunakan velg (ban) karet sehingga memiliki kemampuan dan kegunaan yang sedikit berbeda. Loader hanya mampu beroperasi di area yang keras, datar, kering, dan tidak licin. Alat berat loader ini umumnya digunakan untuk menangani material proyek terutama material galian atau untuk membuat material pile.

Loader

Keunggulan Wheel Loader adalah:

  1. Mobilitas tinggi
  2. Area manuver titik muat (titik lokasi pengangkutan) lebih sempit dibandingkan dengan alat berat jenis truck shovel.
  3. Menghasilkan kerusakan permukaan titik muat yang lebih kecil karena penggunaan ban karet.

Sedangkan kekurangannya adalah proses penempatan kargo ke dalam dump truck sulit dilakukan secara merata dan terkadang bisa miring sehingga dalam pengoperasiannya membutuhkan operator yang sudah memiliki sertifikat resmi.

Truck

Dump Truck
Dump Truck

Truk merupakan salah satu kendaraan dalam jenis alat berat yang khusus digunakan sebagai alat transportasi karena kemampuannya yang dapat bergerak dengan cepat, dan biaya operasional yang relatif murah. Truk biasanya digunakan untuk mengangkut material konstruksi seperti batu besar, batu celah, pasir, tanah, aspal, dan lain-lain. Keunggulan truk sebagai alat angkut adalah sangat efisien untuk transportasi jarak jauh dengan kapasitas muat yang besar. Selain kelebihan tersebut di atas, alat ini juga memiliki kekurangan yaitu dalam proses pengangkutan material ke truk yang masih membutuhkan alat pemuatan lainnya.

Grader

Grader
Grader

Grader berasal dari kata grade = slope (permukaan), yaitu alat yang dibuat khusus untuk pekerjaan membentuk kemiringan permukaan tanah secara mekanis. Alat berat ini memiliki fungsi memotong, mendorong, dan meratakan tanah terutama pada tahap finishing agar diperoleh perataan dan akurasi yang optimal dalam pekerjaan tanah. Selain itu, grader juga bisa digunakan untuk membuat lereng tanah atau badan jalan atau lereng. Tak kalah kerennya, alat ini juga digunakan untuk membuat parit-parit kecil.

Bilah motor grader ini dapat disetel sesuai keinginan operator, dan dapat diubah menjadi dozer sudut, buldoser, dan dozer kemiringan. Tentu ini jauh lebih fleksibel dibanding jenis dozer. Namun demikian, variasi yang dimiliki perata pada posisi bilah tidak berarti bahwa perata motor adalah tipe dozer. Jika digunakan untuk pekerjaan tanah, buldoser jauh lebih efektif daripada alat perata, hal ini disebabkan oleh daya yang tersedia dan juga lokasi sentroid (pusat gravitasi) pada bilah buldoser.

Compactor

Compactor
Compactor

Kepadatan tanah dapat terjadi secara alami atau melalui pemadatan secara mekanis atau dengan alat. Pemadatan adalah upaya menyusun butiran bahan yang dipadatkan agar rongga udara dan air yang semula ada di antara butiran dapat dihilangkan atau dibatasi dengan proporsi dan kondisi yang ditentukan dalam percobaan laboratorium. Di bawah ini adalah jenis-jenis compactor yang biasa digunakan pada proyek pemadatan jalan.

Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/beberapa-aturan-riksa-uji-k3-di-lingkungan-kerja.html

  • Tundem Roller Compactor

Jenis pemadat ini biasanya digunakan untuk penggilingan akhir, artinya fungsi dari Tundem Roller Compactor adalah untuk meratakan permukaan. Jangan gunakan roller tandem untuk memadatkan permukaan batu yang keras dan tajam karena dapat merusak roda. Ada dua model roller tandem, yaitu dua roller tandem gandar dan tiga gandar tandem roller. Rol tandem tiga gardan berfungsi untuk meningkatkan kepadatan yang biasanya digunakan untuk proyek bandar udara

  • Vibration Roller Compactor

Rol getaran memiliki fungsi yang sama dengan roller tundem. Namun, roller Vibratioan memiliki efisiensi pemadatan yang sangat baik. Jenis pemadat ini memungkinkan penggunaan yang luas dalam semua jenis pekerjaan pemadatan. Efek yang didapat dari penggunaan vibrator roller adalah gaya dinamis pada tanah. Tanah yang terkena giling akan mengisi ruang kosong di antara biji-bijian. Sehingga akibat getaran tersebut, tanah menjadi lebih padat dengan penataan yang lebih kompak.

  • Roller Compactor Lelah Pneumatik

Pneumatic Tired Roller memadatkan tanah menggunakan dua metode gabungan, yaitu aksi adonan dan beban statis. Tekanan pada model compactor ini dapat diatur dengan mengatur bobot perkakas, menambah atau mengurangi tekanan ban, mengatur lebar ban, dan mengatur tekanan ban.

Asphalt Finisher

Asphalt Finisher
Asphalt Finisher

Asphalt finisher atau asphalt paver adalah alat berat dengan ban atau roda perayap yang dilengkapi dengan sistem yang mampu meletakkan campuran aspal pada permukaan pondasi jalan. Pengerasan jalan aspal dengan roda ban harus digunakan pada jalan pengerasan jalan dimana alat tersebut sering dipindahkan.

Sedangkan penggunaan alat pengerasan jalan aspal dengan roda perayap akan berfungsi dengan baik dan lebih pas jika kondisi jalan yang akan dibangun menanjak atau menurun. Ini karena perayap roda perayap lebih stabil daripada penurap aspal dengan ban. Di bagian depan terdapat hopper yang berfungsi untuk menerima campuran aspal dari dump truck belakang atau dari dump truck bagian bawah.

Asphalt finisher akan bekerja dengan menyebarkan campuran aspal di atas permukaan pondasi jalan menggunakan conveyor dan auger. Dengan konveyor, campuran aspal dapat didistribusikan secara merata dan menghindari pemisahan.

Crane

alat berat
Crane is used in the construction of buildings.

Crane merupakan alat berat untuk pekerjaan proyek konstruksi yang keberadaannya dapat dilihat bahkan dari jarak jauh. Crane memiliki tinggi dan ukuran yang besar mengingat fungsinya untuk mengangkat material yang akan dipindahkan. Keunggulan crane adalah dapat dioperasikan secara vertikal maupun horizontal, dalam jarak tertentu. Karena itulah alat ini sangat dibutuhkan dalam konstruksi.

Derek memiliki berbagai jenis dalam pengoperasiannya. Anda harus jeli dalam memilih crane yang benar-benar sesuai dengan kondisi proyek yang akan dikerjakan karena pemilihan crane akan berdampak besar yang dapat mempengaruhi waktu dan untung atau rugi dalam pelaksanaan proyek. Jadi, Anda harus mengetahui kebutuhan Anda terlebih dahulu sebelum memilih crane yang akan digunakan.

Penggunaan alat berat sangat dibutuhkan untuk pekerjaan proyek besar. Jika Anda akan mengerjakan sebuah proyek besar dalam waktu dekat dan membutuhkannya untuk jangka waktu tertentu, lebih baik Anda menyewanya saja. Ini akan lebih menguntungkan dan menghemat biaya, karena harga alat berat tersebut tidak murah. Itulah ulasan mengenai jenis-jenis alat berat yang biasa digunakan dalam sebuah proyek. Semoga bermanfaat.

Beberapa Aturan Riksa Uji K3 di Lingkungan Kerja

Beberapa Aturan Riksa Uji K3 di Lingkungan Kerja

Riksa Uji Alat

Riksa Uji ALat K3 – Setiap perusahaan atau pabrik yang memproduksi barang dalam jumlah besar memiliki potensi bahaya. Lingkungan Kerja harus diinspeksi dan / atau diuji. Pemeriksaan dan pengujian ini didasarkan pada Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja, Pasal 58.
Pemeriksaan adalah kegiatan mengamati, menganalisis, membandingkan, dan mengevaluasi kondisi Lingkungan Kerja untuk memastikan terpenuhinya persyaratan sesuai dengan Pasal 3. Pengujian adalah kegiatan menguji dan mengukur kondisi Lingkungan Kerja yang bersumber dari alat. bahan dan proses kerja untuk menentukan tingkat konsentrasi dan paparan Tenaga Kerja untuk memastikan terpenuhinya persyaratan Pasal 3. Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja, Pasal 3 menyatakan: Persyaratan K3 bagi Tenaga Kerja Lingkungan Kerja tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja meliputi:

  • Pengendalian Faktor Fisik dan Faktor Kimia berada di bawah TLV.
  • Pengendalian Faktor Biologis, Faktor Ergonomis, dan Faktor Psikologis Kerja agar memenuhi standar.
  • Penyediaan fasilitas kebersihan dan kebersihan yang bersih dan sehat serta fasilitas kebersihan di tempat kerja.
  • Penyediaan tenaga K3 yang memiliki kompetensi dan kewenangan K3 di bidang lingkungan kerja.

Aturan Penguji atau Pemeriksa

Inspeksi dan / atau Pengujian dilakukan secara internal atau melibatkan instansi eksternal dari luar Tempat Kerja. Pemeriksaan internal dilakukan oleh tim yang telah memiliki sertifikasi Tenaga Ahli K3 Lingkungan Kerja dengan jenjang Muda, Menengah, hingga Utama. Meski pemeriksaan internal telah dilakukan oleh perusahaan oleh tim sendiri, pihak eksternal tetap harus melakukan pemeriksaan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan bisa saling cek silang. Berbagai kesalahan atau mungkin kecurangan tidak akan terjadi. Pengecekan K3 lingkungan kerja internal harus dilakukan secara rutin atau berkala. Apalagi perusahaan atau pabrik yang dimiliki memiliki faktor risiko yang sangat besar dan berbahaya bagi Lingkungan Kerja K3. Misalnya faktor kimiawi berupa zat berbahaya atau faktor biologis berupa penularan patogen.

Lembaga eksternal yang berpartisipasi dalam inspeksi atau pengujian terdiri dari:

Unit Teknis Pengawasan Ketenagakerjaan.
Direktorat Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Unit Pelaksana Teknis K3.
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang membidangi pelayanan Pengujian K3.
lembaga lain yang diakreditasi dan ditunjuk oleh Menteri.
Selanjutnya untuk pemeriksaan Lingkungan Kerja K3 dilakukan dengan:

K3 Spesialis Pengawas Ketenagakerjaan Lingkungan.
Pemeriksa K3.
Ahli Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Jenis Inspeksi atau Pengujian
Jenis pemeriksaan atau pengujian yang dilakukan oleh tim internal atau eksternal umumnya dibagi menjadi empat.

Pertama.
Perkala.
Setel ulang.
Khusus.
Kajian lengkap jenis pemeriksaan K3 lingkungan kerja sesuai dengan Pasal 60 Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja dapat Anda lihat di bawah ini.

1. Pertama
Pemeriksaan dan / atau pengujian pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dilakukan untuk mengidentifikasi potensi bahaya Lingkungan Kerja di Tempat Kerja. Pemeriksaan dan / atau pengujian sebagaimana dimaksud meliputi:

Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/riksa-uji-alat.html

Area kerja yang terpapar Faktor Fisik, Faktor Kimia, Faktor Biologis, Faktor Ergonomis, dan Faktor Psikologis.
KUDR.
Fasilitas dan fasilitas sanitasi.
2. Secara berkala
Pemeriksaan dan / atau pengujian berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dilakukan secara eksternal paling kurang setahun sekali atau sesuai dengan penilaian risiko atau ketentuan peraturan perundang-undangan. Ujian dan / atau Tes yang dilakukan meliputi:

Area kerja yang terpapar Faktor Fisik, Faktor Kimia, Faktor Biologis, Faktor Ergonomis, dan Faktor Psikologis.
KUDR.
Fasilitas dan fasilitas sanitasi.

3. Atur ulang
Pemeriksaan dan / atau pengujian ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dilakukan apabila hasil Pemeriksaan dan / atau Pengujian sebelumnya, baik internal maupun eksternal meragukan. Misalnya terdapat perbedaan yang signifikan dan sangat mempengaruhi hasil dan kesimpulan.

Jika ini terjadi, pemeriksaan ulang akan dilakukan oleh pihak internal dan eksternal. Caranya sama dan sudah diatur sesuai undang-undang. Jika dari pengukuran sudah didapatkan hasil yang tepat, maka hasilnya bisa diberikan.

4. Istimewa
Pemeriksaan dan / atau pengujian khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 adalah kegiatan pemeriksaan dan / atau pengujian yang dilakukan setelah terjadinya kecelakaan kerja atau laporan dugaan tingkat keterpaparan di atas NAB. Inspeksi dan pengujian harus dilakukan untuk menghindari adanya korban baru baik di dalam maupun di luar perusahaan. Pemeriksaan akan dilakukan secara cermat untuk mendapatkan hasil yang akurat dengan menggunakan metode yang diatur oleh undang-undang.
Pelaporan Hasil Inspeksi atau Pengujian
Pemeriksaan dan / atau pengujian yang dilakukan oleh lembaga eksternal dilakukan berkoordinasi dengan Satuan Pengawasan Ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perusahaan dapat mengajukan sendiri atau pihak eksternal mengajukan pengujian jika ada kasus atau kecurigaan. Hasil Pemeriksaan dan / atau Pengujian dilaporkan kepada Unit Pengawasan Ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya hasil pemeriksaan dan / atau pengujian disetujui oleh manajer teknis.

Perusahaan berhak meminta hasil Ujian dan / atau Ujian dari instansi luar. Selanjutnya, hasil pemeriksaan dan / atau pengujian harus dituangkan dalam surat keterangan memenuhi / tidak memenuhi persyaratan K3 yang diterbitkan oleh satuan kerja pengawasan ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Jika saat melaporkan status Lingkungan Kerja K3 perusahaan buruk, biasanya akan diberikan stiker. Perusahaan wajib memperbaiki suku cadang yang masih kurang agar dapat dilakukan Pemeriksaan dan / atau pengujian ulang lebih lanjut.

Ini merupakan review atas ketentuan Pemeriksaan dan / atau Pengujian K3 Lingkungan Kerja sesuai Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja. Diharapkan setelah membaca ulasan di atas, Anda dapat lebih memahami tentang Lingkungan Kerja K3.

 

arttikel ini tayang di Disnakertransbanten dengan link : https://disnakertrans.bantenprov.go.id/Berita/topic/269

RIKSA UJI ALAT (PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN PERALATAN)  K3

RIKSA UJI ALAT (PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN PERALATAN) K3

RIKSA UJI ALAT

Latar belakang riksa uji alat

Pada saat ini pembangunan fisik yang menggunakan alat alat modern sangat pesat peningkatannya. Untuk itu harus diimbangi juga dengan usaha keselamatan dan kesehatan kerja untuk tenaga kerja maupun orang lain baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung yang berada dilingkungan tempat kerja sesuai dengan Undang undang No 1 Tahun 1970

pesawat angkat angkut

Untuk itu sangat diperlukan sebuah perlindungan terhadap tenaga kerja dan pelaksanaan teknis K3 khususnya pada bidang pemeriksaan dan pengujian alat serta teknik kerja, untuk itu sangat diperlukan sebuah Riksa Uji Peralatan yang sesuai dengan masing masing alat yang akan digunakan yaitu:

  1. Riksa Uji Peralatan Pesawat Uap dan Bejana Tekan (PUBT)
  2. Riksa Uji Peralatan Pesawat Angkat & Angkut (Forklift, Crane & Alat Berat)
  3. Riksa Uji Peralatan Pesawat Tenaga dan Produksi (PTP) (Genset, Tanur, Turbin)
  4. Riksa Uji Peralatan Instalasi Listrik, Petir dan Lift
  5. Riksa Uji Elevator (Lift) & Eskalator.
  6. Riksa Uji Peralatan Instalasi Proteksi Kebakaran
  7. Pemeriksaan NDT, Ultrasonic, Radiografy, Wire Rope Tester.

 

Baca Juga : Pelatihan K3

 

Adapun Ruang Lingkup pada Uji Riksa Peralatan adalah.

  1. Pemeriksaan dan Pengujian dalam proses pembuatan peralatan
  2. Pemeriksaan dan Pengujian pertama dalam penggunaan dan pemakaian serta implementasi peralatan / instalasi baru atau setelah pemasangan.

c.     Pemeriksaan dan pengujian secara berkala dan reguler sesuai dengan masa berlaku serta berdasarkan kepada peraturan perundang-undangan.

Pada prosesnya, pemeriksaan dan pengujian alat K3 ini sangat diperlukan agar supaya  pemenuhan terhadap keselamatn dan kesehatan kerja karyawan ataupun pegawai bisa terlaksana. Sebab bagaimanapun keselamatn karyawan adalah hal yang utama. Jadi diharapkan perusahaan tidak hanya memikirkan keuntungan sementara dan mengabaikan pegawainya. Dengan Peraturan perundangan ini, maka hak hak pegawai dan karyawan baik yang bersifat sementara / kontrak maupun yang karyawan tetap, akan terjaga dan terjamin keselamatan dan kesehatan kerjanya. Karena pegawai atau karyawan adalah asset yang paling berharga dari sebuah perusahaan.

 

Baca Juga : Sertifikasi SMK3

 

Karena dalam melaksanakan pekerjaan para pegawai menggunakan alat alat bantu untuk memperlancar dan memudahkan mereka dalam mencapai target target kerja, maka pemeriksaan dan pengujian terhadap peralatan tersebut bersifat mutlak. Tidak bisa tidak harus dilaksanakan secara reguler dan periodik. Jangan sampai ada alat alat kerja yang tidak laik pakai tetapi dioperasikan. akan sangat berbahaya untuk semua yang terlibat baim secara langung maupun tak langsung.

Pelatihan k3 Training Penyetaraan Ahli K3 Listrik & Teknisi Listrik

Pelatihan k3 Training Penyetaraan Ahli K3 Listrik & Teknisi ListrikPelatihan k3 Training Penyetaraan Ahli K3 Listrik & Teknisi Listrik
Semarang, 24 s.d 28 Juli 2017
Telah sukses dilaksanakan oleh PT. Delta Indonesia  Training Penyetaraan Ahli K3 Listrik & Teknisi Listrik dan berjalan dengan lancer & sukses. Training dilaksanakan pada tanggal 24 s.d 28 Juli 2017 di DPD AKLI Jawa Tengah di Semarang. Selama kegiatan berlangsung dengan baik dan berjalan dengan.
Terima kasih kepada para seluruh peserta training, semoga Training Penyetaraan Ahli K3 Listrik & Teknisi Listrik tersebut dapat bermanfaat bagi seluruh peserta dan dapat diterapkan di perusahaan. Semoga kita bisa berjumpa lagi di training lainnya.
Jika bapak/ibu tertarik untuk mengikuti training ini, silahkan menghubungi kami langsung di :
PT. Delta Indonesia Pranenggar
Komplek Suncity Square H-20
Jl. M. Hasibuan, Margajaya, Bekasi
Telp. (021) 888 69 010/ 888 69 021 Fax. 888 68 969
Email : deltaindonesia@gmail.com
Website : deltaindo.co.id