Perlengkapan dan Peralatan K3

Perlengkapan dan Peralatan K3

By : Taufiqullah Neutron (Masteropik)
Perlengkapan dan peralatan penunjang program K3, meliputi:

Perlengkapan dan Peralatan K3

Promosi program K3; yang terdiri dari:

− pemasangan bendera K3,
bendera RI, bendera perusahaan.
− Pemasangan sign-board K3 yang berisi antara lain slogan-slogan yang mengingatkan perlunya be-kerja dengan selamat

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Sarana peralatan yang melekat pada orang atau disebut perlengkapan perlindungan diri (personal protective equipment), diantaranya:

– Pelindung mata dan muka

Kaca mata safety (gambar 1.7a) merupakan peralatan yang paling banyak digunakan sebagai pelindung mata. Meskipun terlihat sama dengan kacamata biasa, namun kaca mata safety lebih kuat dan tahan benturan serta tahan panas dari pada kaca mata biasa. Goggle memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan safety glass sebab lebih menempel pada muka (gambar 1.7b) Pelindung muka (gambar 1.8a) memberikan perlindungan menyeluruh pada muka dari bahaya percikan bahan kimia, obyek yang beterbangan atau cairan besi. Banyak dari pelindung muka ini dapat digunakan bersamaan dengan menggunakanan helm. Helm pengelas (gambar 1.8b) memberikan perlindungan baik pada muka dan juga mata. Helm ini menggunakan lensa penahan khusus yang menyaring daya cahaya serta energi panas yang dihasilkan dari kegiatan pengelasan.

− Pelindung pendengaran, dan jenis yang paling banyak digunakan:
foam earplugs, PVC earplugs, earmuffs (gambar 1.9)

− Pelindung kepala atau helm (hard hat) yang melindungi kepala karena memiliki hal berikut: lapisan yang keras, tahan dan kuat terhadap benturan yang mengenai kepala; sistem suspensi yang ada didalamnya bertindak sebagai penahan goncangan; beberapa jenis dibuat tahan terhadap sengatan listrik; serta melindungi kulit kepala, muka, leher, dan bahu dari percikan, tumpahan, dan tetesan. Jenis-jenis pelindung kepala seperti pada gambar 1.10, antara lain: Kelas G untuk melindungi kepala dari benda yang ; dan melindungi dari sengatan listrik sampai 2.200 volts. Kelas E untuk melindungi kepala dari benda yang , dan dapat melindungi dari sengatan listrik sampai 20.000 volts. Kelas F untuk melindungi kepala dari benda yang , TIDAK melindungi dari sengatan listrik, dan TIDAK melindungi dari bahan-bahan yang merusak (korosif)

Baca Juga : https://nusantara.deltaindo.co.id/

 

− Pelindung kaki berupa sepatu dan sepatu boot, seperti terlihat pada
gambar 1.11a-g, antara lain:

a) Steel toe, sepatu yang dimodel untuk melindingi jari kaki dari kena benda
b) Metatarsal, sepatu yang dimodel khusus melindungi seluruh kaki dari untukan tuas sampai jari
c) Reinforced sole, sepatu ini dimodel dengan bahan penguat dari besi yang akan melindungi dari tusukan pada kaki
d) Latex/Rubber, sepatu yang tahan terhadap bahan kimia dan memberikan daya cengkeram yang lebih kuat pada permukaan yang licin.
e) PVC boots, sepatu yang melindungi dari lembab dan membantu berjalan di tempat becek
f) Vinyl boots, sepatu yang tahan larutan kimia, asam, alkali, garam, air dan darah
g) Nitrile boots, sepatu yang tahan terhadap lemak hewan, oli, dan bahan kimia

− Pelindung tangan berupa sarung tangan dengan jenis-jenisnya seperti terlihat pada gambar 1.12a-g,antara lain:
a) Metal mesh, sarung tangan yang tahan terhadap ujung benda yang tajam dan melindungi tangan dari terpotong
b) Leather gloves, melindungi tangan dari permukaan yang kasar.
c) Sarung tangan karets, melindungi tangan dari bahan kimia beracun
d) Rubber gloves, melindungi tangan saat bekerja dengan listrik
e) Padded cloth gloves, melindungi tangan dari sisi yang tajam, bergelombang dan kotor.
f) Heat resistant gloves, melindungi tangan dari panas dan api
g) Latex disposable gloves, melindungi tangan dari bakteri dan kuman

− Pelindung bahaya  dengan jenis-jenis antara lain: (gambar 1.13)

a) Full Body Hardness(Pakaian penahan Bahaya ), sistim yang dibuat untuk menyebarkan tenaga benturan atau goncangan pada saat melalui pundak, paha dan pantat.

Pakaian penahan bahaya  ini dibuat dengan model yang nyaman untuk si menggunakan dimana pengikat pundak, dada, dan kaitan paha dapat disesuaikan menurut menggunakannya. Pakaian penahan bahaya  ini dilengkapi dengan cincin “D” (high) yang terletak dibelakang dan di depan dimana tersambung kaitan pengikat, kaitan pengaman atau alat penolong lain yang dapat dipasangkan

b) Life Line (kaitan kaitan), kaitan kaitan lentur dengan kekuatan tarik minimum 500 kg yang salah satu ujungnya diikatkan ketempat kaitan dan menggantung secara vertikal, atau diikatkan pada tempat kaitan yang lain untuk digunakan secara horisontal
c) Anchor Point (Tempat Kaitan), tempat menyangkutkan kaitan yang sedikitnya harus mampu menahan 500 kg per pekerja yang menggunakan tempat kaitan tersebut. Tempat kaitan harus dipilih untuk mencegah kemungkinan . Tempat kaitan, jika memungkinkan harus ditempatkan lebih tinggi dari bahu menggunakannya

d) Lanyard (Kaitan Pengikat), kaitan pendek yang lentur atau anyaman kaitan, digunakan untuk menghubungkan pakaian pelin-dung pekerja ke tempat kaitan atau kaitan kaitan. Panjang kaitan pengikat tidak boleh melebihi 2 meter dan harus yang kancing kaitannya dapat mengunci secara mekanisme
e) Refracting Life Lines (Pengencang Kaitan kaitan), komponen yang digunakan untuk mencegah agar kaitan pengikat tidak terlalu Kaitan tersebut akan memanjang dan memendek secara mekanisme pada saat pekerja naik maupun pada saat turun.

3 Langkah memilih keamanan penyedia training k3 tepat di Indonesia

3 Langkah memilih keamanan penyedia training k3 tepat di Indonesia

3 Langkah memilih keamanan penyedia training tepat di Indonesia

3 Langkah memilih keamanan peyedia training k3 tepat di Indonesia

Semakin meningkatnya kesadaran akan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia dan dengan meningkatkan kebutuhan Pelatihan dan sertifikasi K3 oleh perusahaan, maka jumlah keamanan peyedia training ikut berkembang bagai cendawan di musim hujan.
Namun sayangnya, belum banyak yang tahu bagaimana memilah dan memilih keamanan peyedia training yang baik. Beberapa perusahaan hanya mementingkan harga yang ditawarkan sehingga kadang tertipu bekerja sama dengan Keamanan Peyedia training abal-abal/nakal.
Tidak perduli apakah Anda:
• Staff departemen HRD / Training yang ditugaskan memilih vendor keamanan peyedia training
• Praktisi K3 / Keamanan yang ingin meningkatkan skill dengan mengambil training dan sertifikasi.
• Lulusan baru yang akan mengambil sertifikasi untuk masuk ke bidang K3.
• Mahasiswa jurusan K3 atau lintas jurusan yang sedang membuat tugas akhir / tesis mengenai perkembangan K3 di Indonesia

 

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

 

Memilih Provider yang salah sangat merugikan diri sendiri dan perusahaan, karena
• Sertifikatnya bisa tidak diakui; Klien bisa meminta training diulang sehingga memakan biaya dan waktu
• Proses pengurusan sertifikat lama (terutama sertifikat yang dikeluarkan pemerintah Indonesia)
• Sertifikat diragukan/kurang dipercaya oleh pemberi kerja (terutama perusahaan asing)
Intinya memilih Keamanan Peyedia training kurang lebih sama seperti kata iklan obat batuk di televisi, “untuk kita kok coba coba”.
Jadi, Bagaimana memilih keamanan peyedia training agar tidak salah menjatuhkan pilihan ke provider yang tidak tepat atau malah yang abal abal?
1. Izin
Jika Anda / Perusahaan Anda memiliki banyak operator dan program K3 membutuhkan banyak SIO (surat izin Operator) atau tenaga ahli K3 sertifikasi dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemenaker), maka Anda harus tahu ini:
Kemenaker mengatur Perusahaan Pembina Jasa Kesehatan dan Keselamatan Kerja (PJK3 / Keamanan Peyedia training) dengan peraturan Per.04/Men/1995 dan Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan No. 48/DJPPK/VII/2011 serta SE.02/Men/DJPPK/I/2011. Dengan peraturan ini, PJK3 diatur agar memiliki sub bidang agar menjadi fokus dan menjaga kualitas dalam pembinaan.
Sejak dikeluarkannya peraturan ini, keamanan peyedia training yang hendak mengadakan pelatihan tidak bisa menggunakan satu sertifikat PJK3 untuk semua jenis training sertifikasi kemenakertrans. Para keamanan peyedia training diwajibkan mendapatkan izin PJK3 yang sesuai dengan bidangnya. Syarat mendapatkannya selain surat pendirian perusahaan yang lengkap, sebuah keamanan peyedia training juga harus memiliki penanggung jawab sesuai dengan bidangnya dan mengikuti sesi Training for Trainer yang diadakan kemenaker sesuai dengan bidangnya.
Saat ini izin PJK3 telah dibagi menjadi
• PJK3 bidang Penanggulangan Kebakaran
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan kebakaran mulai tingkat petugas penanggulangan kebakaran hingga Ahli K3 kebakaran
• PJK3 bidang Mekanik
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan juru ikat/rigger serta operator angkat angkut seperti operator forklift dan crane
• PJK3 bidang Lingkungan Kerja dan Bahan Berbahaya/LKBB
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti petugas ruang terbatas/Confined Space dan bekerja di ketinggian/Working at Height)
• PJK3 bidang Konstruksi Bangunan
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti operator perancah (scaffolding)
• PJK3 bidang Kesehatan kerja
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti petugas P3K
• PJK3 bidang Listrik
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti operator listrik dan Ahli K3 Listrik
• PJK3 bidang SMK3 dan Kelembagaan
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti P2K3 dan Ahli K3 Umum
• PJK3 bidang Pesawat Uap dan Bejana Tekan
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti Operator Pesawat Uap.
Demikian juga jika perusahaan tempat Anda bekerja atau yang Anda ingin masuki bergerak di bidang lain. Bidang Migas mewajibkan keamanan peyedia training memiliki setidaknya Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Migas sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.27 tahun 2008 sebagai kegiatan usaha penunjang minyak dan gas.
Bidang Pertambangan dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No 24 tahun 2012 tentang “Perubahan atas peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 28 taun 2009 tentang penyelenggaraan usaha jasa pertambangan mineral dan Batubara” mengharuskan untuk memiliki SKT ESDM atau Surat Izin Usaha Jasa Pertambangan (SIUJP)
Jika yang dibutuhkan adalah Sertifikasi Kompetensi dari Bagian Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), maka ketahuilah bahwa BNSP mewajibkan untuk memiliki sertifikasi Tempat Uji Kompetensi (TUK) sesuai bidangnya
Kenapa memiliki izin ini penting?
Dengan memiliki izin resmi,perusahaan bisa lebih tenang dan leluasa karena dapat berkoordinasi langsung dengan keamanan peyedia training untuk penentuan jadwal training In House, bisa mengeluarkan “certificate under process by Kemenaker/ Ministry” yang diakui serta sertifikat asli lebih cepat diterima.
2. Asosiasi
Meski belum begitu banyak diketahui, PJK3 resmi kemenaker/pemerintah memiliki Asosiasi, yaitu Asosiasi Lembaga Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Indonesia (ALPK3I) yang dalam bahasa inggris sering disebut Indonesian ATIOSH (Association of Training Institute of Occupational Keamanan and Health Indonesia). Asosiasi ini didirikan dengan konvensi di Jakarta pada 28 Januari 2002 dan bertujuan:
• Menggalang komunikasi dan mengadakan kerjasama antar anggotanya
• Membantu meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan khususnya bidang K3 dengan pengakuan nasional maupun internasional
• Memberikan sumbangan pemikiran kepada pemerintah dan masyarakat tentang pendidikan dan pelatihan khususnya bidang K3
Karena tugasnya itulah, maka ALPK3I mendaftar semua keamanan peyedia training yang telah memiliki sertifikat PJK3 resmi. Masyarakat dan dunia usaha dapat menghubungi ALPK3I untuk mendapatkan informasi PJK3 yang terdaftar di ALPK3I. Setidaknya data/informasi dari ALPK3I dapat mengurangi kemungkinan memilih keamanan peyedia training yang tidak tepat.
Jadi, Pastikan keamanan peyedia training/PJK3 kesayangan Anda telah terdaftar di ALPK3I.
3. Relasi
Cara lain untuk memastikan keamanan peyedia training kesayangan Anda bukan perusahaan nakal atau abal abal adalah dengan melihat relasinya. Relasi dengan bagian keamanan di luar negeri atau bagian otorisasi dari luar negeri akan sangat membantu. Karena seringnya bagian tersebut tidak akan mau bekerjasama dengan perusahaan yang baru/tidak mereka kenal.
Beberapa contoh yang baik adalah relasi dengan British Keamanan Council (BSC), OPITO (untuk training offshore), National Fire Protection Association (NFPA), American Heart Association (AHA), World Keamanan Council (WSC), dan masih banyak lagi termasuk NEBOSH dan NIOSH.
Seringnya para keamanan peyedia training ini mencantumkan logo relasinya di website atau surat penawaran mereka. Untungnya lagi buat kita, relasi ini biasanya juga akan berimbas kepada peningkatan kualitas training yang diberikan.
Demikianlah 3 langkah memilih keamanan peyedia training yang tepat di Indonesia. Semoga dapat memberi pencerahan untuk kita semua dan dapat memilih keamanan peyedia training yang tepat.
memberi masukan dan untuk memilih keamanan peyedia training dengan lebih baik lagi..f

Pelatihan K3 di perkantoran

Pelatihan K3 di perkantoran

Pelatihan K3 di perkantoran

Pada hari-hari dari usia proses ekonomi telah terus menuntut setiap pelaksanaan pembinaan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di setiap titik geografis dan di kantor-kantor. K3 harus dikembangkan mengenai kemajuan sektor kesehatan, itu tambahan usang untuk menekankan minimal bahaya kecelakaan masih karena tidak adanya penyakit yang timbul dari kehadiran hubungan penggunaan. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan potensi. dalam pelaksanaan pekerjaan biasanya dilakukan pekerja sehari-hari dan staf tempat kerja dalam sektor kesehatan badan PBB ar di rumah sakit dan di kantor-kantor dapat keahlian bahaya bahaya titik geografis. Risiko Ditimbuklan tambahan bervariasi luas sebagai risiko signifikan dan sedikit risiko.
Ada ar banyak pembinaan K3, saling solusi dari penilaian mereka khusus untuk tenaga teknis atau memiliki beberapa pelatihan mengenai petugas K3 atau petugas keamanan dan kursus guru K3. kadang-kadang dalam dunia kerja atau kerja yang berbeda, ada ar banyak kebutuhan yang harus dipenuhi untuk melakukan pembinaan K3 umum. Berikut ada ar beberapa kebutuhan yang akan melakukan pembinaan dalam perusahaan atau tempat kerja. Diantaranya adalah:
Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/

  • Sarjana Pendidikan dengan keahlian sepotong tentang sepasang tahun, atau dengan pendidikan D3 tanda, dan keahlian kerja minimal empat tahun.
    • Bagi mereka yang memiliki kelulusan terbaik di sederajat SMA, dan memiliki keahlian beroperasi selama empat tahun. Diizinkan untuk mengikuti pembinaan mereka dari K3, dan karena itu tentu saja diberikan sertifikat pelatihan.
    • permintaan konsekuen adalah bagi anda badan PBB harus mengikuti pembinaan Anda akan mengirimkan resume dan menyediakan kepercayaan terbaru.
    • Anda akan mengirimkan surat rasionalisasi bekerja penuh selama perusahaan.
    Biasanya dalam pembinaan K3 pembinaan dalam kerja dari topik yang disebutkan ar topik yang mendukung perlindungan pada bangunan yang dibuat atau tentang perlindungan offset semua faktor yang membahayakan. ar sebagai berikut:
    • Melakukan pengembangan bangunan dan oleh karena itu instrumentasi dan melakukan operasi yang ada dengan bahaya perapian dengan pelaksanaan kode.
    • Jaringan fisika dan komunikasi.
    • Kualitas udara di sana.
    • standar pencahayaan dari blok kantor.
    • Kebisingan disediakan dari luar daerah.
    • menunjukkan spasial dan alat-alat di tempat kerja.
    • psikososial.
    • pemanfaatan komputer dalam perusahaan.
    • Kebersihan dan sanitasi.

artikel pelatihan K3 bisa dibaca disini
Membangun sesuai dengan perkembangan yang konsisten dengan K3 akan memiliki resiko yang sangat kecil untuk kecelakaan. namun jika bangunan ar menciptakan banyak K3 maka akan ada hal-hal baik datang kembali | kembali | kembali} mengenai bahaya kecelakaan yang mungkin bisa datang kapan saja dan kapanpun itu. Berikut tambahan ada ar beberapa masalah mengenai K3 di kantor dan pembinaan sejumlah saran mengenai K3 dalam konstruksi bangunan:
• gaya dan aspek subjek K3 untuk melihat bahwa dari bagian tampilan.
• Pilihan kain yang digunakan. Untuk bahan yang digunakan tidak harus menggunakan produk yang ar berbahaya ke atmosfer dan oleh karena itu orang-orang sekitar, misalnya seperti amphibole, dll
• membangun pilihan dekorasi interior. Dekorasi interior harus disesuaikan dengan tujuan, karena penggunaan warna harus disesuaikan dan oleh karena itu seharusnya diperlukan.
• menyediakan untuk khusus tanda, yang diberi warna kontrastif atau mungkin kode pada objek yang ar berpikir-tentang vital. seperti alarm perapian, tangga darurat, pintu darurat, masih tanda-tanda sebagai yang berbeda. jangan lupa untuk menyajikan arah di peta area manapun atau unit kerja, seperti lift, lampu darurat, pintu keluar, dan lain-lain.
Selain penataan daerah yang harus berpikir-tentang dalam pembinaan K3, jaringan elektronik dan komunikasi adalah tambahan penting, karena mereka elektronik dan komunikasi jaringan, bahaya dikendalikan, berikut faktor interior dan eksternal yang membutuhkan untuk menjadi mulia dan diakui:

 

Pelatihan k3 umum bisa anda baca di link teersebut
Faktor internal:
1. Lebih dari tegangan
2. Induksi
3. kabel Korosif
4. sirkuit singkat
5. Arus Lebih
instalasi 6. kebocoran
7. campuran gas ledak
8. Faktor fisika dan kimia
9. faktor mekanis
Faktor eksternal
10. tikus, tikus-mana mungkin menyebabkan cedera, yang mengarah ke sirkuit singkat
11. Bencana alam yang diciptakan oleh manusia
12. Beberapa kelengahan disebabkan oleh pendekatan manusia untuk risiko dan SOP.
Dari sejumlah hal penting yang disebutkan di Keselamatan Kesehatan aktivitas (K3) di tempat kerja, tentu saja, dapat membantu Anda wawasan tentang pertanyaan keamanan atau faktor yang akan menyebabkan kecelakaan. sebagai akibat dari dalam pelaksanaan K3 masalah yang perlu diperhatikan adalah masalah dalam ruangan dan keluar dari pintu. masing-masing memperhatikan perakitan konstruksi ar dibuat dan operasi terhadap risiko yang kadang-kadang dapat kembali. Atau dari dalam daerah pada t tata letak  membutuhkan perhatian seperti pencahayaan, jaringan ELKTRIK et al. Tentu saja, masing-masing faktor tersebut harus berpikir-tentang masing-masing dalam ruangan dan keluar dari pintu.

 

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Arti Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Terdapat beberapa pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang dapat diambil dari beberapa sumber, di antaranya ialah pengertian dan arti K3 menurut Filosofi, menurut Ilmuan serta menurut standar OHSAS 18001:2007. Berikut adalah pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) tersebut :

·         Filosofi (Mangkunegara):

Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur.

·         Ilmuan:

Semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja,penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.

·         OHSAS 18001:2007:

Semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.

Pengertian/arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di atas merupakan pengertian/arti K3 yang secara umum digunakan dan diajarkan, namun di luar referensi di atas masih banyak referensi mengenai pengertian/arti K3 baik menurut ILO ataupun OSHA namun tidak kami bahas dalam artikel ini sehingga bisa didapatkan melalui penelusuran di mesin pencarian internet.

Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki beberapa dasar hukum pelaksanaan. Di antaranya ialah Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). Rangkuman dasar-dasar hukum tersebut antara lain:

UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja :

  1. Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.
  2. Adanya tenaga kerja yang bekerja di sana.
  3. Adanya bahaya kerja di tempat itu.

Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 Tentang Sistem Manajemen K3 :

Setiap perusahaan yang memiliki karyawan seratus tenaga kerja atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja (PAK).

Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 Tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3):

  1. Tempat kerja dimana pengusaha atau pengurus memiliki karyawan 100 orang atau lebih.
  2. Tempat kerja dimana pengusaha memiliki karyawan kurang dari seratus orang tetapi menggunakan bahan, proses dan instalasi yang memiliki resiko besar akan terjadinya peledakan, kebakaran, keracunan dan pencemaran radioaktif.

Tujuan Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki bebrapa tujuan dalam pelaksanaannya berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Di dalamnya terdapat 3 (tiga) tujuan utama dalam Penerapan K3 berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yaitu antara lain:

  1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja.
  2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
  3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

Dari melihat tujuan penerapan K3 di tempat kerja berdasarkan Undang-Undang nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja di atas terdapat harmoni mengenai penerapan K3 di tempat kerja antara Pengusaha, Tenaga Kerja dan Pemerintah/Negara. Sehingga di masa yang akan datang, baik dalam waktu dekat ataupun nanti, penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Indonesia dapat dilaksanakan secara nasional menyeluruh dari Sabang sampai Meraoke. Seluruh masyarakat Indonesia sadar dan paham betul mengenai pentingnya K3 sehingga dapat melaksanakannya dalam kegiatan sehari-hari baik di tempat kerja maupun di lingkungan tempat tinggal.

Arti Bahaya dan 5 Faktor Bahaya K3 di Tempat Kerja

Pengertian (arti) bahaya (hazard) ialah semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera (kecelakaan kerja) dan atau penyakit akibat kerja (PAK) – arti berdasarkan OHSAS 18001:2007. Secara umum terdapat 5 (lima) faktor bahaya K3 di tempat kerja, antara lain: faktor bahaya pikiran(s), faktor bahaya kimia, faktor bahaya fisik/mekanik, faktor bahaya biomekanik serta faktor bahaya sosial-psikologis. Tabel di bawah merupakan daftar singkat bahaya dari faktor-faktor bahaya di atas:

penilaian yang valid telah dibuat tentang risiko dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan; memastikan bahwa langkah-langkah pencegahan dan metode produksi, yang dianggap perlu dan dilaksanakan setelah penilaian risiko, memberikan peningkatan dalam perlindungan pekerja.

Memilih metode Pelatihan k3

Memilih metode Pelatihan k3

 

Memilih metode Pelatihan k3Dalam sistem manajemen K3 (SMK3) Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor PER.05/MEN/1996 pada lampiran I poin 3.1.5 tentang pepelatihan (pelatihan) disebutkan bahwa penerapan dan pengembangan sistem manajemen K3 yang efektif ditentukan oleh keahlian kerja dan pepelatihan dari setiap tenaga kerja di perusahaan. Pepelatihan merupakan salah satu alat penting dalam menjamin keahlian kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan keselamatan dan kesehatan kerja. OHSAS 18001 section 4.4.2 mensyaratkan bahwa setiap pekerjaharus memiliki keahlian untuk melakukan tugas-tugas yang berdampak pada K3. Keahlian harus ditetapkan dalam hal pendidikan yang sesuai, pepelatihan dan / atau pengalaman.

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Pelatihan K3 merupakan metode yang sangat penting dalam mengurangi terjadinya kecelakaan kerja, dari berbagai studi yang dilakukan terhadap prilaku tidak aman dari pekerja diperoleh beberapa alasan (National Safety Council, 1985):

  1. Pekerja tidak memperoleh perintah kerja secara spesifik dan detil.
  2. Kesalahpahaman terhadap perintah kerja.
  3. Tidak mengetahui perintah kerja.
  4. Menganggap perintah kerja tersebut tidak penting atau tidak perlu.
  5. Mengabaikan perintah kerja.

Untuk mengurangi hal tersebut diatas terjadi maka sangat diperlukan pelatihan  bagi pekerja untuk memahami setiap perintah kerja secara baik dan akibat yang dapat terjadi jika tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah kerja.

Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) menunjukkan bahwa pelatihan dapat meningkatkan keahlian dan pengetahuan pekerja. Kemudian pengetahuan dan keahlian pekerja tersebut dapat mengurangi kesalahan pencampuran dan parameter proses yang disebabkan oleh faktor pekerja, dimana kesalahan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya bahaya reaktifitas kimia. Hasil ini sejalan dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Dingsdag (2008) yang menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan budaya dan prilaku K3 untuk mengurangi kecelakaan kerja maka diperlukan pelatihan K3 untuk meningkatkan keahlian dan pemahaman K3 pada seluruh line management dan pekerja.

Setiap pekerja baru harus mendapatkan pelatihan yang cukup sebelum melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan dari area kerja masing-masing pekerja. Untuk memastikan bahwa pekerja baru sudah pandai tugas dan tanggung jawab yang diberikan maka diperlukan tolok ukur sebagai umpan balik dari pelatihan yang diberikan. Pelatihan tidak hanya diberikan pada pekerja baru, akan tetapi pekerja lamapun harus diberikan pelatihan penyegaran. Pihak manajemen perusahaan harus membuat metode pelatihan tahunan yang meliputi topik-topik baru maupun topik-topik lama sebagai penyegaran (re-fresh pelatihan).

Pelatihan yang diberikan harus meliputi pengetahuan (knowledge) dan keahlian (skill) untuk meningkat keahlian pokok (core competency) dan keahlian K3 (safety competency). Keahlian pokok adalah keahlian minimum yang harus dimiliki pekerja untuk menjalankan tugas pokok yang dibebankan, misalnya karyawan pembuatan harus memahami dan mampu menjalankan mesin pembuatan, laboran harus mampu melakukan analisa dasar bahan kimia dan seterusnya. Namun keahlian pokok saja tidak cukup untuk melakukan pekerjaan secara aman, maka diperlukan keahlian K3. Pada umumnya pelatihan keahlian pokok tidak dilengkapi dengan keahlian K3 atau tidak mengandung aspek-sapek K3 (Dingsdag, 2008).

Secara garis besar pelatihan K3 yang diperlukan adalah sebagai berikut (National Safety Council, 1985):

  1. Pelatihan untuk karyawan baru, misalnya: peraturan umum perusahaan, profil perusahaan, peraturan K3 secara umum, kebijakan K3, metode pencegahan kecelakaan, perintah kerja yang dibutuhkan, bahaya ditempat kerja, alat pelindung diri, dst.
  2. Job Safety Analysis (JSA); pemahaman terhadap JSA dan proses JSA.
  3. Job instruction pelatihan (JIT); pelatihan yang secara spesifik menjelaskan prosedur kerja standar di area kerja masing-masing, misalnya; prosedur kalibrasi, prosedur pembuatan produk, prosedur pembersihan tangki, dst.
  4. Metode perintah lainya; pelatihan untuk trainer, bagaimana mempersiapkan dan melakukan pelatihan secara baik.

Sebagai salah satu contoh topik-topik pelatihan untuk peningkatan keahlian pekerja dalam upaya mengurangi poetnsi risiko bahaya kimia adalah seperti terdapat didalam tabel berikut:

No Topik Pelatihan Keahlian Bagian Jabatan Keterangan
1 Prosedur kerja standar dan perintah kerja Pokok Semua Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan departemen masing-masing (SOP/WI)
2 Sistem Manajemen K3 Pokok/K3 Semua Spv s/d manager Pemahaman (SMK3, OHSAS 18001)
3 Respon keadaan darurat Pokok/K3 Semua Semua Pemahaman dan praktek (SOP)
4 Bahan kimia berbahaya dan Penaganannya Pokok/K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (NFPA, NIOSH)
5 MSDS dan Label Bahan Kimia (GHS) K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (GHS,NFPA, UN)
6 Tata Cara Penyimpanan Bahan Kimia di Gudang Pokok/K3 Gudang Karyawan s/d Manager Karyawan – UmumSpv& Mgr – Detil

(CCPS, NFPA)

7 Penanganan Tumpahan Bahan Kimia K3 Prod, Gudang dan Lab Karyawan s/d Manager Karyawan – praktekSpv&Mgr – + pengetahuan (NFPA, CCPS)
8 Bahaya Reaktifitas Kimia K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
9 Penanganan BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
10 Managemen BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman (CCPS)
11 Indentifikasi dan analisis BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman dan praktek (CCPS)
12 Analysis Tools untuk BRK K3 Lab Spv Pemahaman dan praktek (CCPS, CRW 2)

Topik dan isi pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan area kerja atau tanggung jawab dan tingkatan atau jabatan pekerja, karena umumnya tingkatan atau jabatan menunjukkan tingkat pendidikan pekerja. Sebagai contoh, karyawan bagian pembuatan memerlukan pelatihan keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan, sementara teknisi dari bagian enjinering memerlukan pelatihan keahlian dalam perawatan dan perbaikan mesin pembuatan. Supervisor pembuatan lebih memerlukan pelatihan pengetahuan proses pembuatan dari pada keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan.

Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) dapat di putuskan bahwa untuk mengurangi kesalahan pekerja yang berdampak pada bahaya kimia, maka diperlukan core competency dan safety competency yang baik. Tabel diatas merupakan topik pelatihan yang direkomendasikan untuk meningkatkan core dan safety competency pekerja sehingga dapat mengurangi risiko bahaya kimia dan bahaya reaktifitas kimia (BRK) ditempat kerja.

SEMOGA BERMANFAAT