Memilih metode Pelatihan k3

Pentingnya Pelatihan K3 dan Tips Keselamatan dan Kesehatan Kerja
April 17, 2017
Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
April 19, 2017

Memilih metode Pelatihan k3

Memilih metode Pelatihan k3

 

Memilih metode Pelatihan k3Dalam sistem manajemen K3 (SMK3) Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor PER.05/MEN/1996 pada lampiran I poin 3.1.5 tentang pepelatihan (pelatihan) disebutkan bahwa penerapan dan pengembangan sistem manajemen K3 yang efektif ditentukan oleh keahlian kerja dan pepelatihan dari setiap tenaga kerja di perusahaan. Pepelatihan merupakan salah satu alat penting dalam menjamin keahlian kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan keselamatan dan kesehatan kerja. OHSAS 18001 section 4.4.2 mensyaratkan bahwa setiap pekerjaharus memiliki keahlian untuk melakukan tugas-tugas yang berdampak pada K3. Keahlian harus ditetapkan dalam hal pendidikan yang sesuai, pepelatihan dan / atau pengalaman.

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Pelatihan K3 merupakan metode yang sangat penting dalam mengurangi terjadinya kecelakaan kerja, dari berbagai studi yang dilakukan terhadap prilaku tidak aman dari pekerja diperoleh beberapa alasan (National Safety Council, 1985):

  1. Pekerja tidak memperoleh perintah kerja secara spesifik dan detil.
  2. Kesalahpahaman terhadap perintah kerja.
  3. Tidak mengetahui perintah kerja.
  4. Menganggap perintah kerja tersebut tidak penting atau tidak perlu.
  5. Mengabaikan perintah kerja.

Untuk mengurangi hal tersebut diatas terjadi maka sangat diperlukan pelatihan  bagi pekerja untuk memahami setiap perintah kerja secara baik dan akibat yang dapat terjadi jika tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah kerja.

Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) menunjukkan bahwa pelatihan dapat meningkatkan keahlian dan pengetahuan pekerja. Kemudian pengetahuan dan keahlian pekerja tersebut dapat mengurangi kesalahan pencampuran dan parameter proses yang disebabkan oleh faktor pekerja, dimana kesalahan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya bahaya reaktifitas kimia. Hasil ini sejalan dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Dingsdag (2008) yang menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan budaya dan prilaku K3 untuk mengurangi kecelakaan kerja maka diperlukan pelatihan K3 untuk meningkatkan keahlian dan pemahaman K3 pada seluruh line management dan pekerja.

Setiap pekerja baru harus mendapatkan pelatihan yang cukup sebelum melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan dari area kerja masing-masing pekerja. Untuk memastikan bahwa pekerja baru sudah pandai tugas dan tanggung jawab yang diberikan maka diperlukan tolok ukur sebagai umpan balik dari pelatihan yang diberikan. Pelatihan tidak hanya diberikan pada pekerja baru, akan tetapi pekerja lamapun harus diberikan pelatihan penyegaran. Pihak manajemen perusahaan harus membuat metode pelatihan tahunan yang meliputi topik-topik baru maupun topik-topik lama sebagai penyegaran (re-fresh pelatihan).

Pelatihan yang diberikan harus meliputi pengetahuan (knowledge) dan keahlian (skill) untuk meningkat keahlian pokok (core competency) dan keahlian K3 (safety competency). Keahlian pokok adalah keahlian minimum yang harus dimiliki pekerja untuk menjalankan tugas pokok yang dibebankan, misalnya karyawan pembuatan harus memahami dan mampu menjalankan mesin pembuatan, laboran harus mampu melakukan analisa dasar bahan kimia dan seterusnya. Namun keahlian pokok saja tidak cukup untuk melakukan pekerjaan secara aman, maka diperlukan keahlian K3. Pada umumnya pelatihan keahlian pokok tidak dilengkapi dengan keahlian K3 atau tidak mengandung aspek-sapek K3 (Dingsdag, 2008).

Secara garis besar pelatihan K3 yang diperlukan adalah sebagai berikut (National Safety Council, 1985):

  1. Pelatihan untuk karyawan baru, misalnya: peraturan umum perusahaan, profil perusahaan, peraturan K3 secara umum, kebijakan K3, metode pencegahan kecelakaan, perintah kerja yang dibutuhkan, bahaya ditempat kerja, alat pelindung diri, dst.
  2. Job Safety Analysis (JSA); pemahaman terhadap JSA dan proses JSA.
  3. Job instruction pelatihan (JIT); pelatihan yang secara spesifik menjelaskan prosedur kerja standar di area kerja masing-masing, misalnya; prosedur kalibrasi, prosedur pembuatan produk, prosedur pembersihan tangki, dst.
  4. Metode perintah lainya; pelatihan untuk trainer, bagaimana mempersiapkan dan melakukan pelatihan secara baik.

Sebagai salah satu contoh topik-topik pelatihan untuk peningkatan keahlian pekerja dalam upaya mengurangi poetnsi risiko bahaya kimia adalah seperti terdapat didalam tabel berikut:

No Topik Pelatihan Keahlian Bagian Jabatan Keterangan
1 Prosedur kerja standar dan perintah kerja Pokok Semua Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan departemen masing-masing (SOP/WI)
2 Sistem Manajemen K3 Pokok/K3 Semua Spv s/d manager Pemahaman (SMK3, OHSAS 18001)
3 Respon keadaan darurat Pokok/K3 Semua Semua Pemahaman dan praktek (SOP)
4 Bahan kimia berbahaya dan Penaganannya Pokok/K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (NFPA, NIOSH)
5 MSDS dan Label Bahan Kimia (GHS) K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (GHS,NFPA, UN)
6 Tata Cara Penyimpanan Bahan Kimia di Gudang Pokok/K3 Gudang Karyawan s/d Manager Karyawan – UmumSpv& Mgr – Detil

(CCPS, NFPA)

7 Penanganan Tumpahan Bahan Kimia K3 Prod, Gudang dan Lab Karyawan s/d Manager Karyawan – praktekSpv&Mgr – + pengetahuan (NFPA, CCPS)
8 Bahaya Reaktifitas Kimia K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
9 Penanganan BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
10 Managemen BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman (CCPS)
11 Indentifikasi dan analisis BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman dan praktek (CCPS)
12 Analysis Tools untuk BRK K3 Lab Spv Pemahaman dan praktek (CCPS, CRW 2)

Topik dan isi pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan area kerja atau tanggung jawab dan tingkatan atau jabatan pekerja, karena umumnya tingkatan atau jabatan menunjukkan tingkat pendidikan pekerja. Sebagai contoh, karyawan bagian pembuatan memerlukan pelatihan keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan, sementara teknisi dari bagian enjinering memerlukan pelatihan keahlian dalam perawatan dan perbaikan mesin pembuatan. Supervisor pembuatan lebih memerlukan pelatihan pengetahuan proses pembuatan dari pada keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan.

Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) dapat di putuskan bahwa untuk mengurangi kesalahan pekerja yang berdampak pada bahaya kimia, maka diperlukan core competency dan safety competency yang baik. Tabel diatas merupakan topik pelatihan yang direkomendasikan untuk meningkatkan core dan safety competency pekerja sehingga dapat mengurangi risiko bahaya kimia dan bahaya reaktifitas kimia (BRK) ditempat kerja.

SEMOGA BERMANFAAT

 

 

 

Comments

comments

Powered by rumahentrepreneur.org anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com