Jenis Jenis Forklift

Jenis Jenis Forklift

Jenis Jenis Forklift – Mesin Angkat adalah alat untuk memudahkan proses pengangkatan benda berat dari satu tempat ke tempat lain, baik di dalam maupun di luar ruang, namun forklift biasanya hanya digunakan untuk jarak dekat (lingkup area kerja). berbeda satu sama lain. Untuk itu mari kita simak beberapa jenis forklift yang ada.

 

  • Forklift Diesel
    Forklift Diesel paling terkenal dan paling banyak digunakan. Forklift jenis ini menjadi incaran perusahaan dan pabrikan karena harga sewa yang murah dan perawatan yang mudah.
    Kemampuan forklift diesel adalah mengangkat beban maksimal 10 ton dan mampu mengangkat hingga ketinggian 6 meter.
    Forklift jenis ini jarang digunakan di dalam ruangan karena berbahan bakar solar yang mengeluarkan emisi gas berbahaya. Jika emisi atau gas buang yang terhirup terlalu banyak dapat menyebabkan sesak napas dan membahayakan kesehatan.

Jenis Jenis Forklift

  • Forklift Bensin (LPG)
    Forklift berbahan bakar bensin ramah lingkungan karena menggunakan bahan bakar gas. Selain ramah lingkungan, harga sewanya pun masih sangat terjangkau.
    Kapasitas angkat forklift bensin hanya 2 meter dengan kapasitas 2 ton karena ukuran forklift jenis ini relatif kecil.
    Forklift bensin banyak digunakan di dalam ruangan karena ukurannya yang kecil dan bahan bakarnya yang ramah lingkungan.
    Namun karena bahan bakar yang digunakan berupa gas, banyak tenant yang mempertimbangkan untuk memilih forklift jenis ini terkait pengisian bahan bakar. Pasalnya, saat bahan bakar habis di tengah jalan, akan sulit mencari lokasi untuk mengisi ulang.

Jenis Jenis Forklift

  • Forklift Listrik
    Mesin listrik banyak digunakan di dalam ruangan karena
    Ini didukung oleh baterai dan dapat diisi ulang dengan listrik. Jadi, forklift jenis ini merupakan forklift yang ramah lingkungan.
    Kemampuan angkat jenis ini mampu mengangkat hingga ketinggian 6 meter dengan kapasitas maksimal 5 ton.
    Sayangnya, mesin elektrik ini tidak dapat dioperasikan secara terus menerus, mengingat kapasitas baterainya yang hanya mampu bertahan kurang dari 8 jam.

Forklift

 

  • Truk Jangkauan Forklift
    Forklift jenis ini mirip dengan forklift listrik karena sama-sama menggunakan baterai isi ulang sebagai sumber tenaganya.
    Lifting dan kapasitasnya tidak jauh berbeda. Perbedaan satu-satunya adalah truk penjangkau forklift ini dilengkapi dengan palet sehingga memudahkan dalam memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain.
    Truk penjangkau forklift ini banyak direkomendasikan oleh layanan persewaan. Alasannya jelas, karena ukuran, daya yang digunakan dan juga kapasitasnya.
    Penggunaan forklift sangat membantu untuk aktivitas di pabrik. Baik untuk mengangkat barang di dalam maupun di luar ruangan. Pastikan Anda menggunakan jenis forklift yang sesuai dengan kebutuhan Anda agar tidak cepat merusak forklift. Perawatan forklift terbilang mudah dan murah, sehingga dengan menggunakan porsi yang tepat akan membantu membuatnya lebih awet.

 

Forklift sendiri mempunyai bagian-bagian komponen kerja, bagian-bagian tersebut adalah:

  • Garpu / Fork
    Garpu berfungsi untuk menopang benda yang akan anda bawa atau angkat. Benda yang terbuat dari dua potongan besi sepanjang 2,5 m ini mampu mengangkat beban berat. Selain itu, jika Anda mampu menentukan posisi benda dengan berat maksimum.
    Tiang kapal
    Tiang berfungsi sebagai miring dan mengangkat, dirancang dengan dua potong besi tebal yang terkait dengan sistem hidrolik yang dirangkai menjadi satu dengan forklift ini.

Baca Juga : pelatihan-k3-crane-beserta-pengertiannya

  • Pengangkutan / Carriage
    Karies merupakan penghubung antara garpu dan tiang, yang dapat menunjang kinerja forklift dengan baik. Benda ini berfungsi sebagai sandaran dan pengaman barang yang dibawa di atas pallet untuk memudahkan Anda mengangkat dan mengangkutnya. Garpu inilah yang digunakan sebagai tempat meletakkan benda-benda yang dapat dibawa dengan sempurna.
  • Pengimbang / Counterweight
    Counterweight merupakan suatu benda yang mampu menyeimbangkan beban yang anda bawa di forklift. Bagian ini berlawanan dengan posisi garpu.
  • Roda atau ban
    Ban roda atau forklift pada umumnya ada 2 jenis yaitu ban pneumatik (udara) dan ban padat. Ban padat biasanya digunakan di area ekstrim yang memiliki medan berbahaya (tajam). Ban forklift terdiri dari 2 ban depan dan 2 ban belakang dimana ukuran ban depan lebih besar dari ban belakang karena ban depan mempunyai tugas vital sebagai pusat penopang beban yang menyeimbangkan beban & penyeimbang.
  • Overhead Guard
    Overhead Guard merupakan pelindung bagi pengemudi alat berat atau yang sering disebut dengan istilah supir forklift. Melindungi dari kecelakaan atau jatuhnya barang bawaan yang sedang dibawa dan melindungi dari panas matahari dan hujan.

 

Sumber di ambil dari : https://forkliftsemarang.com/distributor-berbagai-jenis-forklift/

PROSES SAFETY MANAGEMENT (PSM)

PROSES SAFETY MANAGEMENT (PSM)

Pendahuluan
Secara umum Process Safety Management (PSM)/ Manajemen Keselamatan Proses (MKP) mengacu kepada prinsip dan sistem manajemen kepada identifikasi, pengertian dan pengontrolan pada bahaya akibat kegiatan proses produksi sebagai upaya perlindungan pada area kerja.
PSM/MKP berfokus kepada:
– Pencegahan
– Persiapan
– Mitigasi
– Respons
– Pemulihan
dari bencana industri
Proses yang dimaksud dalam PSM tersebut adalah untuk perusahaan yang menyimpan, memproduksi dan menggunakan bahan kimia berbahaya ataupun kombinasi dari aktifitas tersebut.

Latar Belakang
Beberapa bencana industri seperti di Bhopal (1984) India yang menyebabkan >2000 orang meninggal, Pasadena (1989) mengakibatkan 23 orang meninggal dan 132 cidera, Piper Alpha (1988) mengakibatkan 167 meninngal dan beberapa b encana industri lainnya yang melibatkan bahan kimia berbahaya yang diikuti dengan kebakaran, peledakan serta paparan bahan kimia beracun.

flixborough & piper alpha

Dari beberapa bencana industri di atas menunjukkan bahwa bencana tersebut sulit dicegah dengan pendekatan traditional occupational safety and health yang berfokus kepada hubungan individu pekerja dengan peralatan maupun proses. Banyak keputusan penting yang mengarah kepada insiden serius, kejadian yang tidak terduga diluar kontrol pekerja ataupun atasan.
Dibutuhkan pengontrolan yang efektif yang memperhitungkan aktifitas proses, termasuk peralatan, prosedur serta organisasi yang dikelola oleh sistem manajemen untuk memastikan bahwa semua bahaya telah diidentifikasi dan dikontrol demi kelangsungan suatu proses produksi.

Occupational Safety & Health vs Process Safety Management
psm vs occ

Untuk membedakan occupational accident dan process safety accident dapat dianalogikan sebagai berikut :
Occupational Accident :
Seorang pekerja terjepit tangannya di pulley motor karena ketika melakukan perbaikan motor tidak mematikan motor sebelumnya sesuai instruksi kerja yang ada.
Proses Safety Accident:
Sejak pagi diketahui ada kenaikan temperatur pada salah satu bejana tekan, namun dengan kenaikan temperatur tersebut manajemen berupaya mengatasi dengan mendinginkan temperatur dengan air sehingga bejana tersebut meledak pada sore harinya, karena material yang ada di dalam bejana tersebut mudah terbakar maka mengakibatkan kebakaran yang hebat.

Elemen Process Safety Management
Standar PSM sesuai OSHA 29 CFR 1910.119 terdapat 14 elemen sebagai berikut :
1. Employee Participation
2. Process Safety Information
3. Process Hazards Analysis
4. Operating Procedures
5. Training
6. Contractor’s obligation
7. Pre-startup safety review
8. Mecahnical Integrity
9. Hot Work Permit
10. Management of Change
11. Incident Investigation
12. Emergency Planning and Response
13. Compliance Audit
14. Trade Secret

1. Employee Participation
Organisasi harus merencanakan upaya PSM, dan rencana harus mencakup ruang lingkup upaya, peran dan tanggung jawab, persyaratan pelaporan, pendekatan analisis bahaya, proses pengendalian dokumen, dan strategi pengendalian bahaya.
Sebagai bagian dari upaya PSM, pengusaha harus berkonsultasi dengan pekerja dan perwakilan mereka untuk memastikan bahwa semua pihak memahami bahaya dan risiko dalam proses. Secara khusus, pekerja harus memiliki akses ke analisis bahaya proses dan informasi yang digunakan untuk mendukung analisis tersebut. Tanpa partisipasi pekerja risiko mungkin tidak sepenuhnya dipahami atau tepat dikomunikasikan.

2. Process Safety Information (PSI)
Organisasi / Pengusaha harus mengumpulkan dan mencatat Proses Safety Information (PSI) sebelum melakukan analisis bahaya.
Tujuan dari informasi tersebut adalah sebagai langkah awal melakukan identifikasi bahaya dan resiko yang terkait dengan aktifitas proses tersebut. Informasi tersebut meliputi bahan kimia yang digunakan / diproduksi, teknologi, serta peralatan yang dipergunakan. Secara khusus apabila mempergunakan bahan kimia berbahaya, informasi meliputi toksisitas, Nilai Ambang batas, sifat fisika & kimia, reaktifitas, corrosifitas, serta bahaya yang akan timbul saat bereaksi.
MSDS dan P&ID’s (diagram alir perpipaan dan instrumentasi) harus dibuat.
Critical Parameter seperti batasan maksimum dan minimum penyimpanan bahan kimia harus dipersiapkan. Informasi lain terkait sistim keselamatan seperti temperatur, tekanan minimum dan maksimum, sistem ventilasi dan kode standarisasi harus diperhitungkan dalam desain.

3. Process Hazards Analysis (PHA)
PHA (Process Hazards Analysis) didefinisikan oleh OSHA sebagai pendekatan, menyeluruh, teratur, sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya dari proses yang melibatkan bahan kimia berbahaya.
PHA adalah kunci untuk upaya K3 karena memberikan informasi untuk membantu manajemen dan pekerja meningkatkan keselamatan dan membuat keputusan yang tepat untuk menurunkan resiko.
Beberapa metode yang digunakan adalah
-Checklist
– What-if/checklist
– Hazards Operability Study(HAZOP)
– Failure Modes and Effect ANalysis(FMEA)\
– Fault Tree Analysis
Penekankan analisis tersebut adalah bahwa PHA harus dilakukan olem team yang mengetahui tentang proses dan teknik analisis bahaya.
Dalam PHA harus dijelaskan jangka waktu untuk melaksanakan rekomendasi tindak lanjut, dan di analisis ulang apabila ada perubahan.
PHA disarankan dievaluasi ulang tiap 5 tahun sekali.

4. Operating Procedure / Prosedur Operasi
Prosedur Operasi menggambarkan pekerjaan yang harus dilaksanakan, data-data harus dicatat (kondisi operasi normal, maksimum dan minimum paramater).
Prosedur juga harus mengidentifikasi tindakan pencegahan Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja. Prosedur Operasi harus jelas singkat dan konsisten dengan PSI (Process Safety Information) yang mengacu kepada PHA (Process Hazards Analysis).
Prosedur Operasi harus dievaluasi secara berkala dan diupadate apabila ada perubahan parameter, konsisten dengan proses yang ada.
Pelatihan untuk pelaksanaan prosedur operasi juga harus menjelaskan apa yang harus dilakukan pada kondisi darurat.

5. Training / Pelatihan
Pelatihan merupakan elemen yang cukup penting dalam penerapan PSM. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan training adalah sebagai berikut :
– pelaksanaan pelatihan harus dipastikan bahwa peserta dapat memahami resiko pekerjaan terkait proses ataupun bahayanya bekerja dengan bahan kimia berbahaya, termasuk mengerahui apa yang harus dilakukan dalam kondisi darurat.
– Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan
– Secara periodik dievaluasi keefektifan dari pelaksanaan teraining tersebut.

6. Contractor’s Obligation / Kewajiban kontraktor
Banyak perusahaan yang mempekerjakan kontraktor dalam pekerjannya. Meruypakan tanggungjawab perusahaan untuk memastikan bahwa kontraktor yang bekerja di area kerjanya telah memiliki cukup pengetahuan dan keahlian dalam melaksanaan pekerjaan sesuai dengan persyaratan K3 khususnya yang kontak dengan bahan kimia berbahaya. Kontraktor bertanggungjawab untuk melaksanakan prosedur kerja selamata yang ditetapkan oleh perusahaan.
Pihak perusahaan harus melakukan evaluasi terhadap kinerja kontraktor dalam melaksanakan prosedur kerja selamat.

7.Pre-Startup Safety Review
Banyak kecelakaan terjadi masa transisi ke fase operasi stabil, seperti pada saat start up atau commisioning pada peralatan baru, khususnya apabila ada perubahan /modifikasi peralatan. Pre startup sangat perlu dilakukam dan ditulis dalam prosedur operasi. Semua parameter telah ditulis dalam P&ID dan prosedur emergency shutdown telah dikomunikasikan.

8. Mechanical Integrity
Dalam pengoperasian peralatan, hal yang sangat penting adalah perawatan dari peralatan tersebut. Harus dipastikan bahwa peralatan tersebut dapat dioperasikan dengan baik.
PSM mempersyaratkan terdapat prosedur perawatan tertulis untuk peralatan sebagai berikut :
– Bejana Tekan dan tangki penyimpan
– Sistim perpipaan (termasuk komponennya seperti valve)
– Sistim Relief dan venting
– Sistim emergency shutdown
– Sistim kontrol (sensor, alarm, interlock)
– Pompa
Prosedur tersebut mencakup inspeksi dan testing

9. Hot Work Permit / Ijin Pekerjaan Panas
Pekerjaan perbaikan ataupun modfikasi yang sifatnya tidak rutin, khusunya hot work seperti aktifitas pengelasan berpotensi terhadap kebakaran dan peledakan. Organisasi harus mempunyai prosedur ijin pekerjaan panas untuk memastikan pekerjaan tersebut telah di analisa resikonya, terdapat upaya menurunkan resikonya (mitigasi) dan personil yang terlibat dalam pekerjaan tersebut telah mengetahui bahaya yang timbul akibat pekerjaan tersebut.

10. Management of Change / Manajemen Perubahan
Sistim yang digunakan dalam operasi seperti mesin, design, prosedur, bahan baku ataupun personil yang terlibat seringkali terdapat perubahan yang kadang-kadang bisa meningkatkan resiko. Untuk itu, perubahan tersebut harus dievaluasi untuk memastikan resiko dari segi K3-nya dapat dikontrol.
Analisis perubahan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
– Data Teknik perubahan
– Pengaruh perubahan terhadap pekerja ditinjua dari K3
– Modifikasi prosedur operasi
– Waktu yang dibutuhkan untuk perubahan
– Otorisasi persyaratan dari perubahan yang diusulkan
Organisasi tidak seharusnya berasumsi sedikit perubahan tidak berpengaruh kepada K3. Banyak kecelakaan yang berakibat dari perubahan kecil yang dianggap tidak berpengaruh terhadap K3.

11. Investigasi Kecelakaan
Problem atau masalah yang diketahui tidak seharusnya untuk dibiarkan. Kegagalan untuk investigasi serta memperbaiki dari akar permasahan (root cause) dapat berakibat kecelakaan akan terulang bahkan dapat berakibat lebih besar. Organisasi harus fokus terhadap pencegahan kecelakaan tidak hanya melaporkan problem dan ini membutuhkan analsis akar permasalahan. Organisasi harus memiliki program yang aktif untuk mengidentifikasi problem yang ada sehingga kecelakaan tidak terjadi. Nearmiss yang dapat berakibat kepada bencana industri harus segera di tindak lanjuti. Belajar dari bencana industri yang telah terjadi sebagai upaya pencegahan keelakaan sangatlah penting.

12. Rencana Tanggap Darurat
PSM sebagai upaya yang sangat penting sebagai pencegahan kecelakaan, tetapi bagus apapaun organisasi berupaya membangun sistim K3, desain bisa gagal, personil dapat berbuat kesalahan sehingga terjadi insiden diluar kendali perusahaan.
Oleh karena itu, organisasi harus merencanakan untuk keadaan darurat dan siap untuk merespon. Minimal, pengusaha harus mengembangkan rencana tanggap darurat yang meliputi tempat evakuasi dan pelatihan dalam penggunaan alat pelindung diri. Karyawan harus dilatih untuk rencana ini agar bisa efektif, dan sistem alarm harus diterapkan.

13. Compliance Audit
Audit ADALAH sarana untuk memastikan bahwa prosedur dan pelaksanaan PSM dilaksanakan dan memadai. Persyaratan PSM, audit harus dilakukan setidaknya setiap tiga tahun. Audit harus dilakukan oleh individu atau tim yang terlatih, dan audit harus direncanakan untuk memastikan keberhasilan pelaksanannya.

14. Trade Secret / Rahasia Dagang
Organisasi harus membuat informasi keselamatan penting tersedia bagi semua personil yang terlibat, mengembangkan analisis bahaya, membuat prosedur operasi, menyediakan perencanaan dan tanggap darurat, melakukan audit, dan berpartisipasi dalam penyelidikan kecelakaan.
Organisasi harus membuat informasi ini tersedia bahkan jika rahasia dagang disertakan. Namun, organisasi dapat membuat kesepakatan bahwa rahasia dagang tidak disebar luaskan.

KASUS KECELAKAAN DITINJAU DARI ELEMEN PSM

psm_kasus

KESIMPULAN
PSM adalah pendekatan proaktif dari sisi manajemen dan teknis untuk melindungi pekerja, kontraktor dan pihak lain terkait dari bahaya yang ada khususnya bahaya bahan kimia berbahaya.
Bahaya tersebut berpotensi terhadap bencana industri yang tidak terkontrol.
Persyaratan PSM ada 14 elemen yang sangat penting terhadap proses bahaya bahan kimia berbahaya.
Contoh kasus kecelakaan yang disebutkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program PSM.

Referensi
1. Occupational Safety & Health Administration, OHSA,3132,2000
2. Elemen of Process Safety Management: Case Studies, Terry L. Hardy, 2013

Info – Cara Mendapatkan Sertifikat SMK3

Info – Cara Mendapatkan Sertifikat SMK3

Construction workers talking about new construction site with copy space. Engineers in mechanical factory reading instructions. Architect in construction uniform holding blueprint and discussing.

Antusiasme pengusaha kontraktor jasa konstruksi untuk memperoleh sertifikat SMK3 perlu apresiasi dari semua pihak, baik pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pekerjaan Umum, LPJK, dan tentunya konsultan SMK3. Sertifikat SMK3 banyak bertumpu pada satu peraturan pemerintah yaitu PP 50 Tahun 2012 yang dilaksanakan oleh Disnakertrans, sehingga banyak hal yang akan bersinggungan langsung dengan kepentingan Disnaker ini.

Di awal tahun ini, banyak pertanyaan yang muncul seputar SMK3 PP 50 tahun 2012, diantaranya:

Bagaimana cara mendapatkan ijazah SMK3 berdasarkan PP 50 tahun 2012?
Apa yang Anda lakukan pertama kali untuk memasuki proses sertifikasi SMK3?
Apakah mudah menghadapi proses audit SMK3?
Apa yang disiapkan untuk persiapan audit SMK3?
dan masih banyak pertanyaan lain terkait proses sertifikasi audit SMK3.
Sebagai contoh konsultasi audit SMK3 yang telah kami lakukan dalam penerapan SMK3 di salah satu kontraktor jasa konstruksi untuk bilangan Menanggal di Surabaya.

Langkah pertama dalam proses mendapatkan sertifikat SMK3 bidang konstruksi adalah memilih konsultan audit SMK3 yang berpengalaman. Pengalaman petugas konsultan audit SMK3 akan sangat mempengaruhi kecepatan pelaksanaan proses sertifikasi SMK3, hal ini harus ditunjang dengan kompetensi petugas konsultan audit SMK3
dengan sekurang-kurangnya petugas harus memiliki Sertifikat Ahli K3 pada tingkat Madya yang berarti telah berpengalaman di bidang konstruksi K3 lebih dari 7 (tujuh) tahun.
Langkah kedua dari proses sertifikasi audit SMK3 yang dilakukan oleh konsultan audit SMK3 adalah pendataan pekerja kantoran dan proyek yang sedang berjalan (KTP – KSK – NPWP – Ahli K3 – Kartu JAMSOSTEK – SIO/operator alat berat – HIPERKES
Selanjutnya adalah menyiapkan dokumen sesuai PP 50 Tahun 2012.
peraturan dan undang-undang SMK3.
Pedoman K3.
Peraturan dan Peraturan Perundang-undangan tentang pembangunan K3.
Prosedur kerja K3.
Instruksi kerja K3.
Format konstruksi SMK3.
Kemudian implementasi penerapan konsultan SMK3 adalah sosialisasi SMK3 perusahaan.
Sosialisasi dokumen tentang aspek lingkungan kerja kantor dan proyek yang sedang berjalan.
Pelatihan identifikasi bahaya.
Pengenalan tanda bahaya.
Pengenalan tanda-tanda peringatan bahaya.
Pelatihan untuk audit SMK3.
Pelatihan tim darurat di kantor dan di proyek.
Pelatihan pemadam kebakaran.
Pelatihan bahaya.
Pelatihan kotak P3K.
Melaksanakan kepatuhan terhadap standar dan persyaratan alat dan perlengkapan.
Sertifikasi alat berat mendapatkan Lisensi Alat Berat SIA: Crane, Excavator, Dozer, Dumptruck.
Kalibrasi alat ukur.
Pemenuhan APD Alat Pelindung Diri.
Pemenuhan rambu K3.
Pembentukan Panitia P2K3 Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Memenuhi kebutuhan pelaksanaan proses audit SMK3.
Ketua P2k3.
Melaksanakan tugas P2K3.
Penerapan komitmen perusahaan kontraktor terhadap SMK3.
Penerapan PP 50 tahun 2012 oleh Disnakertrans sebenarnya dapat dikatakan menyelamatkan perusahaan yang sedang dan ingin berkembang dengan menerapkan sistem manajemen yang baik dan terukur di segala aspek terutama di bidang pengendalian, perancangan, pelaksanaan, pemeliharaan dan bahkan pengawasan melalui pola pelaporan yang intens.

Bagian terpenting dalam menunjang cara memperoleh Sertifikat SMK3 di atas adalah terlaksananya tugas Konsultan Audit SMK3 yang akan mengarahkan pelaksanaan proses sertifikasi SMK3 di jalan yang cepat, tepat dan efisien sesuai dengan kriteria suatu konstruksi. perusahaan kontraktor jasa.
Keunggulan petugas lembaga konsultan audit SMK3 dapat dibuktikan dengan bagaimana suatu perusahaan dapat menerima, mempelajari, melaksanakan dan juga yang terpenting adalah menerapkan Sistem Manajemen K3 ini secara sistematis dan berkesinambungan secara cepat dan benar.

Pengalaman mengajarkan bahwa petugas Konsultan Audit SMK3 harus memiliki komitmen dan tentunya petugas yang berpengalaman, ini bukan tentang perusahaan yang membawahinya melainkan dilaksanakan oleh konsultan audit SMK3 secara intensif dan dapat berempati dalam mengelola perusahaan dari dalam, sekaligus sebagai pemahaman seluk beluk permasalahan perusahaan kontraktor jasa konstruksi. akan melaksanakan SMK3.

Info Lebih Lanjut untuk Sertifikasi SMK3

Prosedur Keselamatan Kerja Listrik

Prosedur Keselamatan Kerja Listrik

Keselamatan kerja listrik adalah keselamatan kerja yang bertalian dengan alat, bahan, proses, tempat (lingkungan) dan cara-cara melakukan pekerjaan. Tujuan dari keselamatan kerja listrik adalah untuk melindungi tenaga kerja atau orang dalam melaksanakan tugas-tugas atau adanya tegangan listrik disekitarnya, baik dalam bentuk instalasi maupun jaringan.

Pada dasarnya keselamatan kerja listrik adalah tugas dan kewajiban dari, oleh dan untuk setiap orang yang menyediakan, melayani dan menggunakan daya listrik.    Undang undang no. 1 tahun 1970 adalah undang undang keselamatan kerja, yang di dalamnya telah diatur pasal-pasal tentang keselamatan kerja untuk pekerja-pekerja listrik.

Penyebab utama kematian atau kecelakaan serius yang berhubungan dengan pekerjaan listrik adalah sebagai berikut:

  • Menggunakan peralatan-peralatan tanpa maintenance yang baik
  • Kerja terlalu dekat dengan kabel listrik bertegangan tinggi
  • Penggalian kabel bawah tanah bertegangan
  • Praktek yang tidak aman saat menggunakan supply utama
  • Menggunakan peralatan-peralatan yang tidak standar

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Tipe Kecelakaan Listrik

Akibat yang diderita ketika seseorang terkena kontak listrik yaitu:

  • Electric shock
  • Electrical burns
  • Loss of muscle control

Electric Shock

Tegangan listrik dengan 50 Volt dalam suatu kesempatan, memblok sinyal ke otak dan otot yang dapat menyebabkan:

  • Jantung berhenti
  • Sulit bernafas
  • Kejang otot

Kejang otot dapat menyebabkan cedera fisik, dan kontraksi pada otot Anda.

Static Electricity

Tersengat listrik static dapat terjadi sebagai contoh ketika anda akan masuk ke dalam mobil, dan tegangannya bisa mencapai 10.000 volts. Namun demikian arusnya hanya mengalir dalam hitungan detik sehingga tidak terlalu menimbulkan gangguan kepada orang yang terkontak.

Di lokasi kerja dimana ada potensi kebakaran dan ledakan, maka tindakan pencegahan harus dilakukan sehingga electric static ini tidak menjadi pemicu.

Pelatihan K3 sebagai bentuk pengetahuan pemakain alat alat kerja.

Prosedur keselamatan saat bekerja dengan peralatan listrik:

  • Cek peralatan Anda apakah sesuai dan memenuhi standar
  • Gunakan equipment bertegangan rendah sedapat mungkin
  • Jika menggunakan 230 volt, gunakan peralatan ELCB
  • Cek peralatan Anda apakah masih valid sticker Portable Appliance Test (PAT)-nya.
  • Cek power point, three pin plug dalam keadaan bagus
  • Cek kabel-kabel dilantai jangan sampai menyebabkan tripping hazard.

Klik di sini untuk melihat Materi lengkap.

Prosedur keselamatan saat bekerja dengan Electrical Equipment, Mesin-mesin dan Instalasinya:

  • Perencanaan yang matang : pemilihan peralatan-peralatan yang tepat sebelum mulai kerja
  • Dikerjakan oleh orang yang kompeten
  • Gunakan equipment yang standar dan sesuai

Demikian tips-tips keselamatan kerja listrik yang dirangkum oleh Media K3 dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

sumber : http://mediak3.com

Macam macam Gondola

Macam macam Gondola

Pelatihan K3

MEMAHAMI GONDOLA

Gondola juga dapat disebut sebagai Platform Kerja yang Ditangguhkan dalam SWPR didefinisikan sebagai “Perancah (bukan perancah tersampir) atau platform kerja yang ditangguhkan dari suatu bangunan atau struktur dengan cara mengangkat gigi dan mampu dinaikkan atau diturunkan oleh peralatan pengangkat (tetapi tidak termasuk kursi juru masak atau perangkat serupa).

Ini juga mencakup semua peralatan pengangkat, roda-gigi pengangkat, penyeimbang, pemberat, cadik, penyangga lainnya, dan seluruh peralatan mekanis dan listrik yang diperlukan sehubungan dengan operasi dan keselamatan perancah atau platform kerja semacam itu “.

Perancah atau platform kerja yang ditangguhkan atau digantung dari bangunan atau struktur bangunan dengan menggunakan alat bantu pengangkat yang dapat digunakan naik turun dengan peralatan pengangkat (tetapi tidak termasuk tempat duduk platform tunggal atau perangkat serupa).

Ini mencakup semua peralatan pengangkat, alat bantu pengangkat, pemberat, ballast, cadik, penyangga lainnya, dan semua personel mekanik dan kelistrikan yang diperlukan sehubungan dengan pengoperasian dan keselamatan perancah atau platform kerja.

Secara umum, gondola diartikan sebagai alat atau alat bantu pendukung bagi pekerja, operator, pembersih yang akan bekerja di luar gedung bertingkat, tangki minyak, menara industri, dinding kapal, dll.

Yang digerakkan dengan bantuan motor listrik atau manual dan bergerak secara vertikal maupun horizontal. Pergerakan gondola baik vertikal maupun horizontal dapat dilakukan secara manual atau dengan bantuan motor listrik.

BAGIAN GONDOLA

Secara umum gondola memiliki bagian-bagian yang penting antara lain: Anjungan / kandang / buaian / kereta api sebagai tempat pekerja melakukan pekerjaan.

Konstruksi hanger memiliki model yang sesuai dengan bentuk bangunan, kegunaan dan keinginan konsumen

  1. Wire Rope / tali kawat baja sebagai platform gantung dengan atap mobil.
  2. Mesin penggerak.
  3. Aksesoris lainnya seperti:
  4. Strirrup
  5. Perangkat Keamanan
  6. Panel kontrol dan kabel daya
  7. Roda dinding dan roda platform
  8. Penjepit kawat, bidal, dan belenggu

JENIS GONDOLA

Berdasarkan konstruksi yang digunakan, gondola dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu gondola sementara dan gondola permanen.

SEMENTARA GONDOLA

Gondola Sementara adalah Satuan Gondola yang terdiri dari berbagai komponen yang dapat dipisahkan dan dapat dipindahkan ke berbagai konstruksi gantungan atau dapat dipindahkan ke bangunan lain. Gondola sementara dapat dibedakan menjadi berbagai macam antara lain:

1. Penjepit Paraphet/paraphet clamp

Pelatihan Gondola

Paraphet Clamp adalah suatu konstruksi yang digunakan untuk bangunan yang hanya mempunyai ruang / luas terbatas di lantai paling atas. Jenis konstruksi ini hanya digunakan pada bangunan yang struktur paraphetnya terbuat dari beton bertulang penuh.

2. T-Jack Manual

Pelatihan K3 Gondola

Konstruksi Gantung T-Jack adalah suatu konstruksi yang terdiri dari Mekanisme Suspended dan Counterweight, biasa digunakan oleh kontraktor proyek konstruksi bangunan.

3. David Socket

K3 Gondola

Konstruksi gantung digunakan untuk bangunan yang memiliki ruang terbatas. Area minimum yang dibutuhkan untuk konstruksi tipe soket david adalah 80 cm dari paraphet bagian dalam.

David Socket memiliki batas maksimum yang direkomendasikan oleh Kementerian Ketenagakerjaan yaitu hanya boleh digunakan untuk gedung dengan maksimal 10 lantai, dan dimensi yang diperbolehkan adalah tinggi konstruksi 2 meter dan panjang lengan saku 2 meter.

4. Monorel

Pelatihan K3 Gondola

Gondola Type Monorail adalah jenis gondola yang digunakan untuk bangunan yang tidak memiliki luas atap sama sekali.

Konstruksi terdiri dari rel yang dilas ke penyangga yang dipasang pada struktur kolom bangunan. Peron digantung pada trolly yang diikatkan pada rel.

5. Mobile Roof Double Arm

Pelatihan K3 Gondola

Konstruksi Mobile Double Arm merupakan jenis konstruksi yang digerakkan secara manual oleh beberapa orang dan ada pula yang digerakkan dengan sistem bermotor serta dapat diparkir di lantai atas.

6. Mobile Roof Single Arm

Pelatihan K3 Gondola

Menggunakan kontrol listrik yang digerakkan oleh motor dan gearbox. Untuk merubah posisi, gunakan kontrol dengan menggunakan tombol tekan yang dibantu oleh seekor steer.

7. Jalur Rel Atap

Pelatihan K3 Gondola

Transfer konstruksi memiliki rel yang dipasang di sekitar area yang dibutuhkan.

Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/beberapa-aturan-riksa-uji-k3-di-lingkungan-kerja.html

GONDOLA PERMANEN

Gondola Permanen adalah Satuan Gondola yang terdiri dari berbagai komponen menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan bersifat Permanen pada suatu lokasi / bangunan, berdasarkan konstruksi tersebut maka gondola permanen dibagi menjadi:

1. Lengan Tetap

Pelatihan

Jenis gondola ini digunakan untuk karakteristik bangunan dimana seluruh keliling lantai atas atap memiliki jarak yang sama dari rel ke paraphet atau memiliki selisih tidak lebih dari 3 meter.

2. Luffing

Operator Gondola

Digunakan untuk paraphet yang memiliki ketinggian lebih dari 2 meter, gondola jenis ini menjadi pilihan utama

Jenis gondola yang digunakan bila jangkauan lengan boom dari yang terdekat hingga terjauh memiliki selisih lebih dari 3 meter.

PERBEDAAN MEKANISME KERJA SISTEM PENGANGKATAN

Sistem Pengangkatan Gondola Sementara

Jika hoist berada pada platform (keranjang) gondola maka akan menaiki tali kawat yang terpasang pada konstruksi hanger sehingga platform (keranjang) akan naik ke atas.

Sistem Gondola Pengangkat Permanen

Saat winch berada dalam konstruksi roof car, jika digunakan winch drum akan menggulung tali kawat (sling) sehingga platform (keranjang) akan bergerak ke atas.

Pelatihan K3 Gondola

di sadur dan edit dari http://nusantaratraisser.co.id/responsiveweb/blog/2019/01/18/gondola-masa-kini/

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan

pelatihank3tambangPengertian kerja tambang yaitu setiap tempat pegawaian yang bertujuan atau berhubungan langsung dengan pegawaian penyelidikan umum, eksplorasi, study kelayakan, konstruksi, operasi produksi, pengolahan/pemurnian dan pengangkutan bahan galian golongan a, b, c, termasuk sarana dan fasilitas penunjang yang ada diatas atau dibawah tanah/air, baik ada dalam satu wilayah atau tempat yang terpisah atau wilayah proyek.
Yang disebut kecelakaan tambang yakni :
1.    Kecelakaan Benar Terjadi
2.    Membuat Cidera Pegawai Tambang atau orang yang diizinkan di tambang oleh KTT
3.    Akibat Kegiatan Pertambangan
4.    Pada Jam Kerja Tambang
5.    Pada Wilayah Pertambangan

Lihat : https://nusantara.deltaindo.co.id/

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/
Penggolongan Kecelakaan tambang
1.    Cidera Ringan (Kecelakaan Ringan)
Korban tidak dapat melakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 minggu.
2.    Cidera Berat (Kecelakaan Berat)
Korban tidak dapat melakukan tugas semula lebih dari 3 minggu.
Berdasarkan cedera korban, yakni :
1.    Retak Tengkorak kepala, tulang punggung pinggul, lengan bawah/atas, paha/kaki
2.    Pendarahan di dalam atau pingsan kurang oksigen
3.    Luka berat, terkoyak
4.    Persendian lepas
Perbuatan membahayakan oleh pegawai mencapai 96% antara lain berasal dari :
1.    Alat proteksi diri (12%)
2.    Posisi kerja (30%)
3.    Perbuatan seseorang (14%)
4.    Perkakas (equipment) (20%)
5.    Alat-alat berat (8%)
6.    Tata cara kerja (11%)
7.    Ketertiban kerja (1%)
A. Tindakan Setelah Kecelakaan Kerja
Manajemen K3
1.    Pengorganisasian dan Kebijakan K3
2.    Membangun Target dan Sasaran
3.    Administrasi, Dokumentasi, Pelaporan
4.    SOP
Prosedur kerja standard yaitu cara melaksanakan pegawaian yang ditentukan, untuk memperoleh hasil yang sama secara paling aman, rasional dan efisien, walaupun dikerjakan siapapun, kapanpun, di manapun. Tiap-tiap pegawaian Harus memiliki SOP agar pegawaian bisa dilakukan secara benar, efisien dan aman.
Pedoman Peraturan K3 Tambang
1.    Ruang Lingkup K3 Pertambangan : Wilayah KP/KK/PKP2B/SIPD Tahap Eksplorasi/Eksploitasi/Kontruksi & Produksi/Pengolahan/Pemurnian/Sarana Penunjang
2.    UU No. 11 Th. 1967
3.    UU No. 01 Th. 1970
4.    UU No. 23 Th. 1992
5.    PP No. 19 Th. 1970
6.    Kepmen Naker No. 245/MEN/1990
7.    Kepmen Naker No. 463/MEN/1993
8.    Kepmen Naker No. 05/MEN/1996
9.    Kepmen PE. No. 2555 K/26/MPE/1994
10.    Kepmen PE No. 555 K/26/MPE/1995
11.    Kepmen Kesehatan No. 260/MEN/KES/1998
12.    Kepmen ESDM No. 1453 K/29/MEM/2000
Contoh dan Aplikasi K3
Alat Proteksi Diri (APD) yaitu kelengkapan yang harus berfungsi saat bekerja sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pegawai tersebut dan orang di sekitarnya. Kewajiban itu telah disepakati oleh pemerintah lewat Departement Tenaga Kerja Republik Indonesia Ada beberapa perlengkapan yang berfungsi untuk melindungi seorang dari kecelakaan maupun bahaya yang kemungkinan dapat terjadi. Peralatan ini harus berfungsi oleh seseorang yang bekerja, seperti :
1.    Pakaian Kerja
Tujuan pemakaian baju kerja yaitu melindungi tubuh manusia pada pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan.
2.    Sepatu Kerja
Sepatu kerja (safety shoes) adalah perlindungan pada kaki. Setiap pegawai butuh memakai sepatu dengan sol yang tebal agar bisa bebas berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup kerja agar kaki tidak terluka bila tertimpa benda dari atas.
3.    Kacamata kerja
Kacamata berfungsi untuk melindungi mata dari debu atau serpihan besi yang berterbangan di tiup angin. Oleh karena itu mata perlu diberikan perlindungan. Biasanya pegawaian yang membutuhkan kacamata yaitu mengelas.
4.    Sarung Tangan
Sarung tangan begitu diperlukan untuk beberapa jenis pegawaian. Tujuan utama penggunaan sarung tangan yaitu melindungi tangan dari benda-benda keras dan mengangkat barang berbahaya. Pegawaian yang sifatnya berulang seperti mendorong gerobak secara terus menerus bisa mengakibatkan lecet pada tangan yang bersentuhan dengan besi pada gerobak.
5.    Helm
Helm sangat penting dipakai sebagai proteksi kepala dan telah adalah keharusan bagi setiap pegawai untuk menggunakannya dengan benar sesuai sama ketentuan.
6.    Tali Pengaman (Safety Harness)
Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diharuskan menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1, 8 meter.
7.    Penutup Telinga (Ear Plug/Ear Muff)
Berfungsi sebagai proteksi telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.
8.    Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas udara buruk (contoh berdebu, beracun, dll).
9.    Proteksi wajah (Face Shield)
Berperan sebagai proteksi wajah dari percikan benda asing saat bekerja (contoh pegawaian menggerinda)
B. Sistem manajemen k3 di pertambangan
Manajemen resiko (risk Management) Pertambangan yaitu satu proses interaksi yang dipakai oleh perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi bahaya ditempat kerja guna mengurangi resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem, dll. Jadi, manajemen resiko (risk Management) adalah suatu alat yang bila berfungsi dengan cara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang aman, bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja.
Mengenai Faktor Kemungkinan yang kerap didapati pada Perusahaan Pertambangan yaitu longsor di pertambangan umumnya datang dari gempa bumi, ledakan yang terjadi didalam tambang, dan keadaan tanah yang rentan mengalami longsor. Hal ini dapat pula disebabkan oleh tidak ada penyusunan pembuatan terowongan untuk tambang.
Kontrolling resiko diperlukan untuk mengamankan pegawai dari bahaya yang ada ditempat kerja sesuai sama persyaratan kerja Peran penilaian resiko dalam kegiatan pengelolaan di terima dengan baik di banyak industri. Pendekatan ini ditandai dengan empat step proses pengelolaan resiko manajemen resiko (risk Management) yaitu seperti berikut :
1.    Identifikasi resiko yaitu mengidentifikasi bahaya dan kondisi yang berpotensi menyebabkan bahaya atau kerugian (kadang-kadang disebut ‘kejadian yang tidak diinginkan’).
2.    Analisa resiko yaitu menganalisis besarnya resiko yang mungkin timbul dari peristiwa yg tidak diinginkan.
3.    Kontrolling resiko adalah memutuskan langkah yang pas untuk mengurangi atau mengendalikan resiko yang tidak bisa di terima.
4.    Mengaplikasikan dan memelihara kontrol aksi yaitu menerapkan kontrol dan meyakinkan mereka efektif.
Manajemen resiko (risk Management) pertambangan diawali dengan melaksanakan identifikasi bahaya untuk tahu aspek dan potensi bahaya yang ada yang akhirnya nanti sebagai bahan untuk dianalisa, pelaksanaan identifikasi bahaya diawali dengan membuat Standart Operational Procedure (SOP). Lalu sebagai langkah analisis dikerjakanlah observasi dan inspeksi. Sesudah dianalisa, aksi setelah itu yang butuh dikerjakan yaitu pelajari resiko untuk menilai seberapa besar tingkat resikonya yang selanjutnya untuk dilakukan kontrol atau kontrolling resiko.
Kegiatan kontrolling resiko ini ditandai dengan menyediakan alat deteksi, penyediaan APD, pemasangan rambu-rambu dan penunjukan personel yang bertanggung jawab sebagai pengawas. Setelah dikerjakan kontrolling resiko untuk aksi pengawasan yaitu dengan melakukan monitoring dan peninjauan lagi bahaya atau resiko.

Peran K3 sebagai salah satu sistem program yang di buat untuk para pekerja ataupun entrepreneur, kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan bisa menjadi sebuah usaha preventif akan munculnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat interaksi kerja dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengetahui penyebab yang berpotensi bisa menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan aksi antisipatif apabila terjadi hal demikian.

 

Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/pelatihan-k3-crane-beserta-pengertiannya.html

Saran
Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit dan kecelakaan kerja akan dapat menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) sebuah perusahaan, kerugian pada seorang pekerja, bahkan juga kerugian pada Negara. Oleh karena itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola dengan cara yang maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan namun semua orang-orang khusunya orang-orang pekerja di pertambangan itu guna meminimalisir segala kerugian yang bisa terjadi.

Jenis jenis Crane beserta pengertiannya

Jenis jenis Crane beserta pengertiannya

Penjelasan tentang crane serta penggunaan dan jenisnya. Derek dan fungsi penggunaannya dapat berbeda-beda.

Kita sering melihat dan tentunya paham bahwa alat ini digunakan untuk membantu dalam pengangkatan. Alat angkat ini biasanya digunakan pada proyek konstruksi atau pekerjaan yang membutuhkan alat bantu untuk membantu mengangkat atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Cara kerja crane adalah dengan mengangkat material yang akan dipindahkan, menggerakkannya secara horizontal, kemudian menurunkan material tersebut ke tempat yang diinginkan. Beberapa jenis crane yang umum digunakan adalah:

Berbagai jenis crane:
1. Derek Perayap

Pelatihan K3 Crane

Jenis ini memiliki permukaan bergerak 3600. Dengan roda perayap, crane jenis ini dapat bergerak di dalam lokasi proyek sambil melakukan tugasnya. Ketika derek akan digunakan pada proyek lain, derek diangkut menggunakan trailer lowbed. Pengangkutan ini dilakukan dengan membongkar boom menjadi beberapa bagian untuk memudahkan penyelenggaraan pengangkutan.

  1. Truk Derek
    Crane jenis ini dapat berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya tanpa bantuan alat angkut. Namun, bagian dari crane tersebut tetap harus dibongkar untuk memudahkan pergerakan. Layaknya crawler crane, truck crane ini dapat berputar 360 derajat. Untuk menjaga keseimbangan alat, truk derek memiliki kaki-kaki. Dalam pengoperasiannya kaki harus dipasang dan roda diangkat dari tanah sehingga keselamatan pengoperasian dengan boom yang panjang tetap terjaga.
  2. Derek untuk Lokasi Terbatas
    Crane jenis ini ditempatkan pada dua as dimana kedua asnya bergerak secara bersamaan. Dengan kelebihan tersebut, crane jenis ini dapat bergerak dengan leluasa. Penggerak crane jenis ini merupakan roda yang sangat besar yang dapat meningkatkan kemampuan alat untuk bergerak di medan dan dapat melaju di jalan raya dengan kecepatan maksimal 30 mph. Lokasi ruang operator crane biasanya pada bagian geladak yang berputar.
  3. Tower Crane
    Tower crane adalah alat yang digunakan untuk mengangkat material secara vertikal dan horizontal ke suatu tempat yang tinggi dalam ruang yang terbatas. Jenis crane ini dibagi berdasarkan cara berdiri crane, yaitu crane berdiri bebas, crane terpasang rel, crane tower terikat dan crane panjat.

untuk bisa mengoperasikan ini harus ikut Pelatihan K3 Crane

Pelatihan K3 Crane
Crane is used in the construction of buildings.

 

Bagian Crane

Bagian dari crane adalah tiang atau tiang utama, jib dan counter jib, counterweight, trolley dan tali pengikat. Tiang tiang adalah tiang vertikal yang berdiri di atas alas atau alas. Jib adalah tiang horizontal yang panjangnya ditentukan berdasarkan jarak yang diinginkan.

  1. Kriteria pemilihan Tower Crane
    Pemilihan tower crane sebagai alat pemindah material didasarkan pada kondisi lapangan yang tidak besar, ketinggian yang tidak terjangkau alat lain. Dan tidak perlu alat bergerak. Pemilihan jenis tower crane yang akan digunakan harus memperhatikan situasi proyek, bentuk struktur bangunan, kemudahan pengoperasian baik pada saat pemasangan maupun pada saat pembongkaran.

Baca Juga : riksa-uji-alat.html

Sedangkan pemilihan kapasitas tower crane didasarkan pada berat, dimensi, dan jangkauan beban terberat, tinggi maksimum alat, proyeksi perakitan alat, berat alat yang harus ditopang oleh struktur, ruang yang tersedia untuk alat, luas yang harus dijangkau alat dan kecepatan alat untuk menggerakkannya. bahan. Pelatihan K3 Crane bisa di ikuti di sini.

2. Kapasitas Tower Crane
Kapasitas tower crane tergantung pada beberapa faktor. Yang perlu diperhatikan adalah jika material yang diangkut crane melebihi kapasitasnya maka akan terjadi jungkir balik. Oleh karena itu, berat material yang diangkut haruslah sebagai berikut:
1). Untuk roda perayap, 75% dari kapasitas perkakas
2). Untuk mesin beroda ban karet sudah 85% dari kapasitas alat
3). Untuk mesin yang memiliki kaki-kaki ini adalah 85% dari kapasitas perkakas

Faktor eksternal yang harus diperhatikan dalam menentukan kapasitas alat adalah
1). Kekuatan angin melawan alat tersebut
2). Beban ayun saat digerakkan
3). Kecepatan transfer material
4). Pengereman mesin sedang bergerak

Pelatihan K3 Crane baca di deltaindo

di edit dan disadur dari https://www.elhifa.co.id/penjelasan-tentang-crane-dan-kegunaanya-serta-jenisnya/

Pelatihan K3 Sistem Manajemen HSE

Pelatihan K3 Sistem Manajemen HSE

Sistem Manajemen HSE
HSE sistem manajemen sistem membantu memastikan bahwa kegiatan usaha ukuran persegi yang dilakukan selama dengan cara bertanggung jawab secara sosial yang aman, sehat, dan lingkungan dan, ditujukan ke arah mencegah insiden, cedera, aktivitas penyakit, polusi dan cedera aset. Hal ini memungkinkan orang dan komunitas untuk berkembang, yang membantu menjaga bisnis kita sehat.

pelatihan k3 hse

Baca Juga : https://nusantara.deltaindo.co.id/

Kami percaya insiden persegi mengukur dicegah yang masalah HSE harus tertanam dalam setiap tugas dan bisnis call. HSE sistem manajemen ukuran persegi dinilai setiap tahun menggunakan alat umum untuk memandu perbaikan terus-menerus dan akhirnya mencapai standar terbaik keunggulan.
strategi lingkungan kami berfokus pada pengelolaan masalah lingkungan kunci, mengukur kinerja dan menerapkan mekanisme pemerintahan yang ukuran persegi penting untuk mempertahankan tingkat tinggi kinerja lingkungan dan melayani ke Amerika Serikat masih drive budaya keunggulan lingkungan.
Unit bisnis
Dalam Pelatihan K3 Sistem Manajemen HSE  Semua unit bisnis kami secara sporadis meninjau sistem manajemen mereka terhadap standar perusahaan dan ukuran persegi jawab untuk masalah properti integrasi ke operasi sehari-hari, pengembangan proyek dan pengambilan keputusan. Mereka menganalisis berdiri saat ini, menentukan daerah untuk perbaikan potensial, kemudian melaksanakan kegiatan kunci untuk mengurangi risiko dan lebih meningkatkan kinerja HSE. mereka perintah yang bertanggung jawab melalui Associate in Keperawatan penilaian kinerja tahunan.

Baca Jua : https://deltaindo.co.id/

Operasi
Setelah proyek dipersiapkan untuk operasi, ditambah manajer bertanggung jawab untuk memimpin kinerja pembangunan properti ditambah sesuai dengan sistem manajemen HSE dan perusahaan alternatif kebutuhan properti dan tips. Audit membagikan oleh perusahaan dan unit bisnis karyawan menjamin harapan ini ukuran persegi bertemu.
topik Audit meliputi:
• Kesehatan, Keselamatan dan Kebijakan suasana
• Sistem Manajemen dan Audit
• Keselamatan & amp; Kesehatan
• pengetahuan Kinerja
Penilaian Siklus Hidup (LCA)
Sebuah Penilaian Siklus Hidup memungkinkan Amerika Serikat untuk menilai emisi proyek, penggunaan sumber daya alam, dan jejak sosial.
Dengan menilai emisi proyek, penggunaan sumber daya alam, dan jejak sosial, unit bisnis akan melihat kinerja masing-masing, jejak mereka relatif terhadap minyak dan gas alternatif datang, dan dampaknya relatif terhadap sumber energi yang kompetitif melalui Pengkajian Siklus Hidup.

Tugas Ahli Teknik Bangunan Gedung – Konsultan Teknik Bangunan Gedung

Tugas Ahli Teknik Bangunan Gedung – Konsultan Teknik Bangunan Gedung

Konsultan Teknik Bangunan Gedung

Konsultan Teknik Bangunan Gedung – Tugas dan Tanggung Jawab Ahli Teknik Bangunan. Berikut adalah beberapa tugas dan tanggung jawab seorang Ahli Teknik Bangunan, antara lain:
Klasifikasi Insinyur Bangunan Dibagi menjadi 3 Bagian

Ahli Teknik Bangunan Muda
Tugas ahli teknik bangunan muda adalah sebagai berikut:

  1. Menerapkan SMM, SMK3-L, Green Building, dan regulasi terkait gedung
  2. Kumpulkan data geoteknik dan parameter tanah di lokasi yang dipilih
  3. Lakukan perhitungan pada struktur atas dan bawah bangunan
  4. Buatlah gambar rencana struktur bangunan
  5. Buatlah gambar denah rinci dari suatu struktur bangunan
  6. Menyiapkan data teknis untuk penyusunan spesifikasi teknis gedung
  7. Melakukan aktivitas pengamanan bangunan
  8. Buat persiapan untuk konstruksi
  9. Melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai gambar rencana
  10. Mempersiapkan kegiatan uji fungsi gedung dan fasilitas pada gedung
  11. Siapkan data serah terima pekerjaan
  12. Buat laporan pekerjaan

 

Baca Juga : https://nusantara.deltaindo.co.id/layanan/

Adapun tugas dari Ahli Teknik Bangunan Madya adalah sebagai berikut:

  1. Menerapkan SMM, SMK3-L, Green Building, dan regulasi terkait gedung
  2. Periksa data geoteknik dan parameter tanah di lokasi yang dipilih
  3. Melakukan kajian terhadap hasil perhitungan struktur atas dan bawah bangunan
  4. Periksa gambar denah struktur bangunan
  5. Buatlah gambar denah rinci dari suatu struktur bangunan
  6. Menyiapkan data teknis untuk penyusunan spesifikasi teknis gedung
  7. Kontrol pengamanan bangunan
  8. Memeriksa persiapan konstruksi
  9. Mengontrol pelaksanaan pekerjaan konstruksi sesuai dengan gambar rencana
  10. Melakukan uji fungsi gedung dan fasilitas pada suatu gedung
  11. Siapkan serah terima pekerjaan
  12. Buat laporan pekerjaan

 

Ahli Teknik Bangunan Utama

Tugas Insinyur Bangunan Adalah Sebagai Berikut:

  1. Menerapkan SMM, SMK3-L, Green Building, dan regulasi terkait gedung
  2. Melakukan desain bangunan
  3. Analisis data geoteknik dan parameter tanah di lokasi yang dipilih
  4. Melakukan kajian terhadap hasil perhitungan struktur atas dan struktur bawah bangunan
  5. Menyusun spesifikasi teknik bangunan
  6. Kontrol pengamanan bangunan
  7. Tentukan metode konstruksi bangunan
  8. Memeriksa persiapan konstruksi
  9. Mengontrol pelaksanaan pekerjaan konstruksi sesuai dengan gambar rencana

 

Konstruksi, Jenis, Penjelasan dan Contohnya

Konstruksi, Jenis, Penjelasan dan Contohnya

Pelatihan K3 Konstruksi
Pelatihan K3 Konstruksi

Konstruksi adalah terminologi yang luar biasa dengan perkembangan. Kata ini memiliki beberapa arti berbeda berdasarkan konteksnya. Konstruksi penting untuk mewujudkan hasil bangunan yang sesuai dengan rencana. Namun, apa arti konstruksi itu sendiri? Pelatihan K3 Konstruksi

Ada banyak istilah yang juga berhubungan dengan konstruksi seperti perusahaan konstruksi, jasa konstruksi, proyek konstruksi dan manajemen konstruksi.

Pada artikel berikut ini kita akan membahas pengertian dari masing-masing istilah tersebut, serta jenis usaha konstruksi yang diatur dalam Undang-Undang Jasa Konstruksi (UUJK) di Indonesia serta beberapa contoh jenis konstruksi yang ada.

Pengertian dari Konstruksi

Pada hakikatnya konstruksi adalah penataan atau model suatu sarana dan prasarana yang dibuat sebelum konstruksi. Dalam konteks yang berbeda, konstruksi dapat didefinisikan sebagai aktivitas atau aktivitas konstruksi yang menggunakan jasa kontraktor atau perusahaan konstruksi lainnya.

Sedangkan dalam konteks arsitektural dan sipil, konstruksi dapat merujuk pada makna dari satu atau lebih objek atau infrastruktur bangunan itu sendiri. Apabila dapat disimpulkan, konstruksi adalah suatu kesatuan yang meliputi kegiatan bangunan dan objek bangunan yang didalamnya terdapat beberapa bagian struktur.

Selain dari arti konstruksi tunggal, ada juga beberapa istilah lain yang sering dikaitkan dengan kata konstruksi. Berikut ini adalah istilah-istilah ini dan artinya.

  1. Perusahaan Konstruksi : Perusahaan konstruksi adalah suatu bentuk usaha di bidang ekonomi yang berkaitan dengan perencanaan, pembangunan, dan pengawasan pembangunan sarana dan prasarana untuk kepentingan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku
  2. Jasa Konstruksi : Dalam Undang-Undang tentang Jasa Konstruksi (UUJK), jasa konstruksi adalah serangkaian layanan jasa konsultasi konstruksi yang meliputi perencanaan pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan, dan pengawasan pekerjaan konstruksi. Badan usaha yang bergerak untuk melakukan pekerjaan ini biasa disebut dengan penyedia jasa konstruksi.
  3. Proyek Konstruksi : Proyek konstruksi adalah rangkaian kegiatan membangun dan membangun fasilitas seperti jalan, jembatan, bendungan, gedung, sesuai dengan rencana yang telah dibuat termasuk jangka waktu pembangunan, sumber daya manusia, dan anggaran.Proyek konstruksi adalah kegiatan yang sifatnya waktu terbatas atau sementara, tidak berulang, tidak rutin, berdurasi, dan memiliki sumber daya yang telah ditentukan dalam rencana.
  4. Manajemen Konstruksi :Manajemen konstruksi adalah penerapan fungsi manajemen seperti perencanaan, pelaksanaan, dan pelaksanaan dalam suatu proyek konstruksi terstruktur dengan memanfaatkan sumber daya untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan rencana proyek.Manajemen konstruksi mempunyai fungsi pekerjaan yang meliputi pengendalian kualitas fisik konstruksi, penganggaran biaya, dan pemantauan durasi pembangunan proyek.

Baca juga : http://blog.deltaindo.co.id/riksa-uji-alat.html

Fungsi Konstruksi Pada Sebuah Proyek

Sarana dan prasarana membutuhkan perencanaan – yang meliputi perhitungan yang tepat dan rencana tata letak bangunan – agar dapat menghasilkan bangunan yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Fungsi konstruksi diperlukan untuk kelancaran dan efektivitas konstruksi suatu proyek.

Fungsi konstruksi lainnya adalah sebagai berikut.

  1. Memberikan gambaran desain bangunan yang efektif dan efisien
  2. Memberikan perkiraan anggaran biaya untuk pengeluaran material dan pemilihan jenis material yang dibutuhkan
  3. Memberikan kalkulasi dalam hal konstruksi yang presisi

Beberapa Jenis Usaha Konstruksi

Seperti halnya badan usaha di bidang ekonomi lainnya, beberapa penyedia jasa konstruksi atau perusahaan konstruksi berbentuk perseorangan dan ada pula yang berbentuk badan usaha.

Bisnis individu umumnya melakukan pekerjaan konstruksi dengan risiko rendah, anggaran rendah, dan teknologi sederhana. Sedangkan badan usaha pada umumnya mengerjakan proyek dengan resiko lebih besar dan membutuhkan banyak perencanaan dan pengawasan.

Jenis usaha jasa konstruksi di Indonesia diatur dalam UU No. 18 Tahun 1999. Usaha jasa konstruksi ada tiga jenis, antara lain:

1. Perencana konstruksi
Perencana konstruksi adalah jenis usaha yang menyediakan jasa untuk serangkaian pekerjaan sebelum konstruksi.

Rangkaian pekerjaan layanan ini biasanya meliputi, studi pembangunan, penyusunan kontrak kerja konstruksi, penentuan anggaran biaya, perkiraan durasi pembangunan, survei dampak terhadap lingkungan, keamanan, dan menjaga kenyamanan ruang publik. Secara umum seorang perencana konstruksi disebut juga sebagai Konsultan Perencanaan.

2. Pelaksana konstruksi
Pelaksana Konstruksi adalah penyedia jasa konstruksi dengan fungsi pekerjaan yang meliputi penyiapan lapangan, pengerjaan, dan penyerahan hasil konstruksi yang sudah menjadi bangunan atau bentuk lain. Umumnya pekerjaan ini disebut juga sebagai kontraktor konstruksi.

3. Pengawasan konstruksi
Pengawasan konstruksi adalah jenis usaha jasa konstruksi yang memberikan jasa untuk mengawasi sebagian atau seluruh pekerjaan proyek mulai dari proses persiapan lapangan hingga penyerahan hasil akhir konstruksi. Fungsi kerja ini dikenal sebagai Konsultan Pengawas. Pelatihan K3 Konstruksi

Contoh Jenis Jenis Konstruksi

Pada dasarnya bangunan yang memiliki desain ruang dan memiliki model awal yang telah direncanakan dengan tepat dapat disebut dengan konstruksi. Namun, berikut adalah beberapa kategori jenis konstruksi yang biasa ditemukan di sekitar kita.

1. Pembangunan gedung
Konstruksi gedung adalah suatu konstruksi yang direncanakan sebagai suatu gedung dengan beberapa fungsi yang dapat digunakan oleh masyarakat umum misalnya seperti pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, gedung perguruan tinggi, dan rumah sakit.

2. Konstruksi teknik
Konstruksi teknik meliputi konstruksi infrastruktur seperti jalan raya, jembatan dan bendungan. Konstruksi teknik dapat dibagi menjadi dua jenis, konstruksi jalan dan konstruksi berat.

3. Konstruksi industri
Konstruksi industri adalah pembangunan proyek pabrik, seperti pertambangan mineral, minyak dan gas.

Itulah pembahasan singkat mengenai konstruksi, mulai dari pengertian konstruksi itu sendiri, istilah terkait, jenis usaha jasa konstruksi, hingga beberapa contoh jenis konstruksi.

Konstruksi sudah tidak asing lagi jika dikaitkan dengan kegiatan pembangunan fasilitas umum. Dengan adanya konstruksi maka proses pembangunan proyek dapat menjadi lebih efisien dan efektif.

Pelatihan K3 Konstruksi

sedikit di edit dari artikel di https://wira.co.id/konstruksi-adalah/