Perlengkapan dan Peralatan K3

Perlengkapan dan Peralatan K3

By : Taufiqullah Neutron (Masteropik)
Perlengkapan dan peralatan penunjang program K3, meliputi:

Perlengkapan dan Peralatan K3

Promosi program K3; yang terdiri dari:

− pemasangan bendera K3,
bendera RI, bendera perusahaan.
− Pemasangan sign-board K3 yang berisi antara lain slogan-slogan yang mengingatkan perlunya be-kerja dengan selamat

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Sarana peralatan yang melekat pada orang atau disebut perlengkapan perlindungan diri (personal protective equipment), diantaranya:

– Pelindung mata dan muka

Kaca mata safety (gambar 1.7a) merupakan peralatan yang paling banyak digunakan sebagai pelindung mata. Meskipun terlihat sama dengan kacamata biasa, namun kaca mata safety lebih kuat dan tahan benturan serta tahan panas dari pada kaca mata biasa. Goggle memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan safety glass sebab lebih menempel pada muka (gambar 1.7b) Pelindung muka (gambar 1.8a) memberikan perlindungan menyeluruh pada muka dari bahaya percikan bahan kimia, obyek yang beterbangan atau cairan besi. Banyak dari pelindung muka ini dapat digunakan bersamaan dengan menggunakanan helm. Helm pengelas (gambar 1.8b) memberikan perlindungan baik pada muka dan juga mata. Helm ini menggunakan lensa penahan khusus yang menyaring daya cahaya serta energi panas yang dihasilkan dari kegiatan pengelasan.

− Pelindung pendengaran, dan jenis yang paling banyak digunakan:
foam earplugs, PVC earplugs, earmuffs (gambar 1.9)

− Pelindung kepala atau helm (hard hat) yang melindungi kepala karena memiliki hal berikut: lapisan yang keras, tahan dan kuat terhadap benturan yang mengenai kepala; sistem suspensi yang ada didalamnya bertindak sebagai penahan goncangan; beberapa jenis dibuat tahan terhadap sengatan listrik; serta melindungi kulit kepala, muka, leher, dan bahu dari percikan, tumpahan, dan tetesan. Jenis-jenis pelindung kepala seperti pada gambar 1.10, antara lain: Kelas G untuk melindungi kepala dari benda yang ; dan melindungi dari sengatan listrik sampai 2.200 volts. Kelas E untuk melindungi kepala dari benda yang , dan dapat melindungi dari sengatan listrik sampai 20.000 volts. Kelas F untuk melindungi kepala dari benda yang , TIDAK melindungi dari sengatan listrik, dan TIDAK melindungi dari bahan-bahan yang merusak (korosif)

Baca Juga : https://nusantara.deltaindo.co.id/

 

− Pelindung kaki berupa sepatu dan sepatu boot, seperti terlihat pada
gambar 1.11a-g, antara lain:

a) Steel toe, sepatu yang dimodel untuk melindingi jari kaki dari kena benda
b) Metatarsal, sepatu yang dimodel khusus melindungi seluruh kaki dari untukan tuas sampai jari
c) Reinforced sole, sepatu ini dimodel dengan bahan penguat dari besi yang akan melindungi dari tusukan pada kaki
d) Latex/Rubber, sepatu yang tahan terhadap bahan kimia dan memberikan daya cengkeram yang lebih kuat pada permukaan yang licin.
e) PVC boots, sepatu yang melindungi dari lembab dan membantu berjalan di tempat becek
f) Vinyl boots, sepatu yang tahan larutan kimia, asam, alkali, garam, air dan darah
g) Nitrile boots, sepatu yang tahan terhadap lemak hewan, oli, dan bahan kimia

− Pelindung tangan berupa sarung tangan dengan jenis-jenisnya seperti terlihat pada gambar 1.12a-g,antara lain:
a) Metal mesh, sarung tangan yang tahan terhadap ujung benda yang tajam dan melindungi tangan dari terpotong
b) Leather gloves, melindungi tangan dari permukaan yang kasar.
c) Sarung tangan karets, melindungi tangan dari bahan kimia beracun
d) Rubber gloves, melindungi tangan saat bekerja dengan listrik
e) Padded cloth gloves, melindungi tangan dari sisi yang tajam, bergelombang dan kotor.
f) Heat resistant gloves, melindungi tangan dari panas dan api
g) Latex disposable gloves, melindungi tangan dari bakteri dan kuman

− Pelindung bahaya  dengan jenis-jenis antara lain: (gambar 1.13)

a) Full Body Hardness(Pakaian penahan Bahaya ), sistim yang dibuat untuk menyebarkan tenaga benturan atau goncangan pada saat melalui pundak, paha dan pantat.

Pakaian penahan bahaya  ini dibuat dengan model yang nyaman untuk si menggunakan dimana pengikat pundak, dada, dan kaitan paha dapat disesuaikan menurut menggunakannya. Pakaian penahan bahaya  ini dilengkapi dengan cincin “D” (high) yang terletak dibelakang dan di depan dimana tersambung kaitan pengikat, kaitan pengaman atau alat penolong lain yang dapat dipasangkan

b) Life Line (kaitan kaitan), kaitan kaitan lentur dengan kekuatan tarik minimum 500 kg yang salah satu ujungnya diikatkan ketempat kaitan dan menggantung secara vertikal, atau diikatkan pada tempat kaitan yang lain untuk digunakan secara horisontal
c) Anchor Point (Tempat Kaitan), tempat menyangkutkan kaitan yang sedikitnya harus mampu menahan 500 kg per pekerja yang menggunakan tempat kaitan tersebut. Tempat kaitan harus dipilih untuk mencegah kemungkinan . Tempat kaitan, jika memungkinkan harus ditempatkan lebih tinggi dari bahu menggunakannya

d) Lanyard (Kaitan Pengikat), kaitan pendek yang lentur atau anyaman kaitan, digunakan untuk menghubungkan pakaian pelin-dung pekerja ke tempat kaitan atau kaitan kaitan. Panjang kaitan pengikat tidak boleh melebihi 2 meter dan harus yang kancing kaitannya dapat mengunci secara mekanisme
e) Refracting Life Lines (Pengencang Kaitan kaitan), komponen yang digunakan untuk mencegah agar kaitan pengikat tidak terlalu Kaitan tersebut akan memanjang dan memendek secara mekanisme pada saat pekerja naik maupun pada saat turun.

Fungsi dan Jenis jenis Alat Berat

Fungsi dan Jenis jenis Alat Berat

Penggunaan alat berat dalam bidang pekerjaan teknik sipil sudah menjadi hal yang lumrah bahkan mungkin menjadi kewajiban. Alat berat yang digunakan dalam suatu proyek dibuat oleh pabrik untuk membantu dan memfasilitasi pekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing, seperti penggali, pemuat, pengangkut, penyebar, dan pemadat.

Sebagai pengguna, alat berat harus digunakan secara efisien agar tingkat produktivitas alat tercapai sesuai dengan jadwal dan biaya tambahan yang dikeluarkan, misalnya saat menyewa alat berat. Agar dapat digunakan secara efisien, pengguna perlu mengetahui kemampuan alat, jenis dan fungsi alat berat, keterbatasan alat, serta biaya operasional alat tersebut.

Jenis Jenis Alat Berat

Alat berat merupakan alat yang digunakan untuk mempermudah proses kerja agar menjadi lebih cepat, mudah, dan hasil sesuai dengan harapan. Penggunaan alat berat tersebut harus tepat dan disesuaikan dengan kondisi dan situasi di lapangan. Karena itu, Anda harus tahu sebelum menyewa atau menggunakannya. Berikut ini adalah jenis dan fungsi alat berat yang di fabrikasi oleh perusahaan manufaktur.

Excavator

Alat berat inilah yang paling banyak digunakan dan paling sering dikenal masyarakat sering disebut dengan Pull Shovel atau Backhoe. Penggunaan excavator harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Umumnya excavator menggunakan tenaga mesin diesel dan full hydraulic system yang terbagi menjadi beberapa tipe sesuai dengan digger di bagian depan.

lihat juga : Pelatihan K3

Pengoperasian ekskavator yang paling efisien adalah menggunakan metode tumit dan ujung kaki, mulai dari atas hingga bawah. Bagian atas excavator dapat berputar (unit berputar) 360 derajat. Excavator mampu mendistribusikan kargo secara merata ke seluruh kapal.

Excavator memiliki dua jenis penggerak yaitu ban dan crawler. Ekskavator dilengkapi dengan perayap yang memungkinkannya beroperasi pada permukaan yang kasar atau kurang padat dan tidak memerlukan banyak pergerakan. Sedangkan penggunaan ekskavator beroda lebih efisien jika digunakan untuk pekerjaan dengan mobilitas tinggi.

Loader

Loader merupakan salah satu jenis alat berat yang mirip dengan Dozer Shovel, namun dengan menggunakan velg (ban) karet sehingga memiliki kemampuan dan kegunaan yang sedikit berbeda. Loader hanya mampu beroperasi di area yang keras, datar, kering, dan tidak licin. Alat berat loader ini umumnya digunakan untuk menangani material proyek terutama material galian atau untuk membuat material pile.

Loader

Keunggulan Wheel Loader adalah:

  1. Mobilitas tinggi
  2. Area manuver titik muat (titik lokasi pengangkutan) lebih sempit dibandingkan dengan alat berat jenis truck shovel.
  3. Menghasilkan kerusakan permukaan titik muat yang lebih kecil karena penggunaan ban karet.

Sedangkan kekurangannya adalah proses penempatan kargo ke dalam dump truck sulit dilakukan secara merata dan terkadang bisa miring sehingga dalam pengoperasiannya membutuhkan operator yang sudah memiliki sertifikat resmi.

Truck

Dump Truck
Dump Truck

Truk merupakan salah satu kendaraan dalam jenis alat berat yang khusus digunakan sebagai alat transportasi karena kemampuannya yang dapat bergerak dengan cepat, dan biaya operasional yang relatif murah. Truk biasanya digunakan untuk mengangkut material konstruksi seperti batu besar, batu celah, pasir, tanah, aspal, dan lain-lain. Keunggulan truk sebagai alat angkut adalah sangat efisien untuk transportasi jarak jauh dengan kapasitas muat yang besar. Selain kelebihan tersebut di atas, alat ini juga memiliki kekurangan yaitu dalam proses pengangkutan material ke truk yang masih membutuhkan alat pemuatan lainnya.

Grader

Grader
Grader

Grader berasal dari kata grade = slope (permukaan), yaitu alat yang dibuat khusus untuk pekerjaan membentuk kemiringan permukaan tanah secara mekanis. Alat berat ini memiliki fungsi memotong, mendorong, dan meratakan tanah terutama pada tahap finishing agar diperoleh perataan dan akurasi yang optimal dalam pekerjaan tanah. Selain itu, grader juga bisa digunakan untuk membuat lereng tanah atau badan jalan atau lereng. Tak kalah kerennya, alat ini juga digunakan untuk membuat parit-parit kecil.

Bilah motor grader ini dapat disetel sesuai keinginan operator, dan dapat diubah menjadi dozer sudut, buldoser, dan dozer kemiringan. Tentu ini jauh lebih fleksibel dibanding jenis dozer. Namun demikian, variasi yang dimiliki perata pada posisi bilah tidak berarti bahwa perata motor adalah tipe dozer. Jika digunakan untuk pekerjaan tanah, buldoser jauh lebih efektif daripada alat perata, hal ini disebabkan oleh daya yang tersedia dan juga lokasi sentroid (pusat gravitasi) pada bilah buldoser.

Compactor

Compactor
Compactor

Kepadatan tanah dapat terjadi secara alami atau melalui pemadatan secara mekanis atau dengan alat. Pemadatan adalah upaya menyusun butiran bahan yang dipadatkan agar rongga udara dan air yang semula ada di antara butiran dapat dihilangkan atau dibatasi dengan proporsi dan kondisi yang ditentukan dalam percobaan laboratorium. Di bawah ini adalah jenis-jenis compactor yang biasa digunakan pada proyek pemadatan jalan.

Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/beberapa-aturan-riksa-uji-k3-di-lingkungan-kerja.html

  • Tundem Roller Compactor

Jenis pemadat ini biasanya digunakan untuk penggilingan akhir, artinya fungsi dari Tundem Roller Compactor adalah untuk meratakan permukaan. Jangan gunakan roller tandem untuk memadatkan permukaan batu yang keras dan tajam karena dapat merusak roda. Ada dua model roller tandem, yaitu dua roller tandem gandar dan tiga gandar tandem roller. Rol tandem tiga gardan berfungsi untuk meningkatkan kepadatan yang biasanya digunakan untuk proyek bandar udara

  • Vibration Roller Compactor

Rol getaran memiliki fungsi yang sama dengan roller tundem. Namun, roller Vibratioan memiliki efisiensi pemadatan yang sangat baik. Jenis pemadat ini memungkinkan penggunaan yang luas dalam semua jenis pekerjaan pemadatan. Efek yang didapat dari penggunaan vibrator roller adalah gaya dinamis pada tanah. Tanah yang terkena giling akan mengisi ruang kosong di antara biji-bijian. Sehingga akibat getaran tersebut, tanah menjadi lebih padat dengan penataan yang lebih kompak.

  • Roller Compactor Lelah Pneumatik

Pneumatic Tired Roller memadatkan tanah menggunakan dua metode gabungan, yaitu aksi adonan dan beban statis. Tekanan pada model compactor ini dapat diatur dengan mengatur bobot perkakas, menambah atau mengurangi tekanan ban, mengatur lebar ban, dan mengatur tekanan ban.

Asphalt Finisher

Asphalt Finisher
Asphalt Finisher

Asphalt finisher atau asphalt paver adalah alat berat dengan ban atau roda perayap yang dilengkapi dengan sistem yang mampu meletakkan campuran aspal pada permukaan pondasi jalan. Pengerasan jalan aspal dengan roda ban harus digunakan pada jalan pengerasan jalan dimana alat tersebut sering dipindahkan.

Sedangkan penggunaan alat pengerasan jalan aspal dengan roda perayap akan berfungsi dengan baik dan lebih pas jika kondisi jalan yang akan dibangun menanjak atau menurun. Ini karena perayap roda perayap lebih stabil daripada penurap aspal dengan ban. Di bagian depan terdapat hopper yang berfungsi untuk menerima campuran aspal dari dump truck belakang atau dari dump truck bagian bawah.

Asphalt finisher akan bekerja dengan menyebarkan campuran aspal di atas permukaan pondasi jalan menggunakan conveyor dan auger. Dengan konveyor, campuran aspal dapat didistribusikan secara merata dan menghindari pemisahan.

Crane

alat berat
Crane is used in the construction of buildings.

Crane merupakan alat berat untuk pekerjaan proyek konstruksi yang keberadaannya dapat dilihat bahkan dari jarak jauh. Crane memiliki tinggi dan ukuran yang besar mengingat fungsinya untuk mengangkat material yang akan dipindahkan. Keunggulan crane adalah dapat dioperasikan secara vertikal maupun horizontal, dalam jarak tertentu. Karena itulah alat ini sangat dibutuhkan dalam konstruksi.

Derek memiliki berbagai jenis dalam pengoperasiannya. Anda harus jeli dalam memilih crane yang benar-benar sesuai dengan kondisi proyek yang akan dikerjakan karena pemilihan crane akan berdampak besar yang dapat mempengaruhi waktu dan untung atau rugi dalam pelaksanaan proyek. Jadi, Anda harus mengetahui kebutuhan Anda terlebih dahulu sebelum memilih crane yang akan digunakan.

Penggunaan alat berat sangat dibutuhkan untuk pekerjaan proyek besar. Jika Anda akan mengerjakan sebuah proyek besar dalam waktu dekat dan membutuhkannya untuk jangka waktu tertentu, lebih baik Anda menyewanya saja. Ini akan lebih menguntungkan dan menghemat biaya, karena harga alat berat tersebut tidak murah. Itulah ulasan mengenai jenis-jenis alat berat yang biasa digunakan dalam sebuah proyek. Semoga bermanfaat.

3 Langkah memilih keamanan penyedia training k3 tepat di Indonesia

3 Langkah memilih keamanan penyedia training k3 tepat di Indonesia

3 Langkah memilih keamanan penyedia training tepat di Indonesia

3 Langkah memilih keamanan peyedia training k3 tepat di Indonesia

Semakin meningkatnya kesadaran akan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia dan dengan meningkatkan kebutuhan Pelatihan dan sertifikasi K3 oleh perusahaan, maka jumlah keamanan peyedia training ikut berkembang bagai cendawan di musim hujan.
Namun sayangnya, belum banyak yang tahu bagaimana memilah dan memilih keamanan peyedia training yang baik. Beberapa perusahaan hanya mementingkan harga yang ditawarkan sehingga kadang tertipu bekerja sama dengan Keamanan Peyedia training abal-abal/nakal.
Tidak perduli apakah Anda:
• Staff departemen HRD / Training yang ditugaskan memilih vendor keamanan peyedia training
• Praktisi K3 / Keamanan yang ingin meningkatkan skill dengan mengambil training dan sertifikasi.
• Lulusan baru yang akan mengambil sertifikasi untuk masuk ke bidang K3.
• Mahasiswa jurusan K3 atau lintas jurusan yang sedang membuat tugas akhir / tesis mengenai perkembangan K3 di Indonesia

 

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

 

Memilih Provider yang salah sangat merugikan diri sendiri dan perusahaan, karena
• Sertifikatnya bisa tidak diakui; Klien bisa meminta training diulang sehingga memakan biaya dan waktu
• Proses pengurusan sertifikat lama (terutama sertifikat yang dikeluarkan pemerintah Indonesia)
• Sertifikat diragukan/kurang dipercaya oleh pemberi kerja (terutama perusahaan asing)
Intinya memilih Keamanan Peyedia training kurang lebih sama seperti kata iklan obat batuk di televisi, “untuk kita kok coba coba”.
Jadi, Bagaimana memilih keamanan peyedia training agar tidak salah menjatuhkan pilihan ke provider yang tidak tepat atau malah yang abal abal?
1. Izin
Jika Anda / Perusahaan Anda memiliki banyak operator dan program K3 membutuhkan banyak SIO (surat izin Operator) atau tenaga ahli K3 sertifikasi dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemenaker), maka Anda harus tahu ini:
Kemenaker mengatur Perusahaan Pembina Jasa Kesehatan dan Keselamatan Kerja (PJK3 / Keamanan Peyedia training) dengan peraturan Per.04/Men/1995 dan Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan No. 48/DJPPK/VII/2011 serta SE.02/Men/DJPPK/I/2011. Dengan peraturan ini, PJK3 diatur agar memiliki sub bidang agar menjadi fokus dan menjaga kualitas dalam pembinaan.
Sejak dikeluarkannya peraturan ini, keamanan peyedia training yang hendak mengadakan pelatihan tidak bisa menggunakan satu sertifikat PJK3 untuk semua jenis training sertifikasi kemenakertrans. Para keamanan peyedia training diwajibkan mendapatkan izin PJK3 yang sesuai dengan bidangnya. Syarat mendapatkannya selain surat pendirian perusahaan yang lengkap, sebuah keamanan peyedia training juga harus memiliki penanggung jawab sesuai dengan bidangnya dan mengikuti sesi Training for Trainer yang diadakan kemenaker sesuai dengan bidangnya.
Saat ini izin PJK3 telah dibagi menjadi
• PJK3 bidang Penanggulangan Kebakaran
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan kebakaran mulai tingkat petugas penanggulangan kebakaran hingga Ahli K3 kebakaran
• PJK3 bidang Mekanik
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan juru ikat/rigger serta operator angkat angkut seperti operator forklift dan crane
• PJK3 bidang Lingkungan Kerja dan Bahan Berbahaya/LKBB
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti petugas ruang terbatas/Confined Space dan bekerja di ketinggian/Working at Height)
• PJK3 bidang Konstruksi Bangunan
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti operator perancah (scaffolding)
• PJK3 bidang Kesehatan kerja
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti petugas P3K
• PJK3 bidang Listrik
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti operator listrik dan Ahli K3 Listrik
• PJK3 bidang SMK3 dan Kelembagaan
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti P2K3 dan Ahli K3 Umum
• PJK3 bidang Pesawat Uap dan Bejana Tekan
Dengan izin ini, PJK3 dapat mengadakan pelatihan seperti Operator Pesawat Uap.
Demikian juga jika perusahaan tempat Anda bekerja atau yang Anda ingin masuki bergerak di bidang lain. Bidang Migas mewajibkan keamanan peyedia training memiliki setidaknya Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Migas sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.27 tahun 2008 sebagai kegiatan usaha penunjang minyak dan gas.
Bidang Pertambangan dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No 24 tahun 2012 tentang “Perubahan atas peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 28 taun 2009 tentang penyelenggaraan usaha jasa pertambangan mineral dan Batubara” mengharuskan untuk memiliki SKT ESDM atau Surat Izin Usaha Jasa Pertambangan (SIUJP)
Jika yang dibutuhkan adalah Sertifikasi Kompetensi dari Bagian Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), maka ketahuilah bahwa BNSP mewajibkan untuk memiliki sertifikasi Tempat Uji Kompetensi (TUK) sesuai bidangnya
Kenapa memiliki izin ini penting?
Dengan memiliki izin resmi,perusahaan bisa lebih tenang dan leluasa karena dapat berkoordinasi langsung dengan keamanan peyedia training untuk penentuan jadwal training In House, bisa mengeluarkan “certificate under process by Kemenaker/ Ministry” yang diakui serta sertifikat asli lebih cepat diterima.
2. Asosiasi
Meski belum begitu banyak diketahui, PJK3 resmi kemenaker/pemerintah memiliki Asosiasi, yaitu Asosiasi Lembaga Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Indonesia (ALPK3I) yang dalam bahasa inggris sering disebut Indonesian ATIOSH (Association of Training Institute of Occupational Keamanan and Health Indonesia). Asosiasi ini didirikan dengan konvensi di Jakarta pada 28 Januari 2002 dan bertujuan:
• Menggalang komunikasi dan mengadakan kerjasama antar anggotanya
• Membantu meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan khususnya bidang K3 dengan pengakuan nasional maupun internasional
• Memberikan sumbangan pemikiran kepada pemerintah dan masyarakat tentang pendidikan dan pelatihan khususnya bidang K3
Karena tugasnya itulah, maka ALPK3I mendaftar semua keamanan peyedia training yang telah memiliki sertifikat PJK3 resmi. Masyarakat dan dunia usaha dapat menghubungi ALPK3I untuk mendapatkan informasi PJK3 yang terdaftar di ALPK3I. Setidaknya data/informasi dari ALPK3I dapat mengurangi kemungkinan memilih keamanan peyedia training yang tidak tepat.
Jadi, Pastikan keamanan peyedia training/PJK3 kesayangan Anda telah terdaftar di ALPK3I.
3. Relasi
Cara lain untuk memastikan keamanan peyedia training kesayangan Anda bukan perusahaan nakal atau abal abal adalah dengan melihat relasinya. Relasi dengan bagian keamanan di luar negeri atau bagian otorisasi dari luar negeri akan sangat membantu. Karena seringnya bagian tersebut tidak akan mau bekerjasama dengan perusahaan yang baru/tidak mereka kenal.
Beberapa contoh yang baik adalah relasi dengan British Keamanan Council (BSC), OPITO (untuk training offshore), National Fire Protection Association (NFPA), American Heart Association (AHA), World Keamanan Council (WSC), dan masih banyak lagi termasuk NEBOSH dan NIOSH.
Seringnya para keamanan peyedia training ini mencantumkan logo relasinya di website atau surat penawaran mereka. Untungnya lagi buat kita, relasi ini biasanya juga akan berimbas kepada peningkatan kualitas training yang diberikan.
Demikianlah 3 langkah memilih keamanan peyedia training yang tepat di Indonesia. Semoga dapat memberi pencerahan untuk kita semua dan dapat memilih keamanan peyedia training yang tepat.
memberi masukan dan untuk memilih keamanan peyedia training dengan lebih baik lagi..f

Pelatihan K3 di perkantoran

Pelatihan K3 di perkantoran

Pelatihan K3 di perkantoran

Pada hari-hari dari usia proses ekonomi telah terus menuntut setiap pelaksanaan pembinaan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di setiap titik geografis dan di kantor-kantor. K3 harus dikembangkan mengenai kemajuan sektor kesehatan, itu tambahan usang untuk menekankan minimal bahaya kecelakaan masih karena tidak adanya penyakit yang timbul dari kehadiran hubungan penggunaan. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan potensi. dalam pelaksanaan pekerjaan biasanya dilakukan pekerja sehari-hari dan staf tempat kerja dalam sektor kesehatan badan PBB ar di rumah sakit dan di kantor-kantor dapat keahlian bahaya bahaya titik geografis. Risiko Ditimbuklan tambahan bervariasi luas sebagai risiko signifikan dan sedikit risiko.
Ada ar banyak pembinaan K3, saling solusi dari penilaian mereka khusus untuk tenaga teknis atau memiliki beberapa pelatihan mengenai petugas K3 atau petugas keamanan dan kursus guru K3. kadang-kadang dalam dunia kerja atau kerja yang berbeda, ada ar banyak kebutuhan yang harus dipenuhi untuk melakukan pembinaan K3 umum. Berikut ada ar beberapa kebutuhan yang akan melakukan pembinaan dalam perusahaan atau tempat kerja. Diantaranya adalah:
Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/

  • Sarjana Pendidikan dengan keahlian sepotong tentang sepasang tahun, atau dengan pendidikan D3 tanda, dan keahlian kerja minimal empat tahun.
    • Bagi mereka yang memiliki kelulusan terbaik di sederajat SMA, dan memiliki keahlian beroperasi selama empat tahun. Diizinkan untuk mengikuti pembinaan mereka dari K3, dan karena itu tentu saja diberikan sertifikat pelatihan.
    • permintaan konsekuen adalah bagi anda badan PBB harus mengikuti pembinaan Anda akan mengirimkan resume dan menyediakan kepercayaan terbaru.
    • Anda akan mengirimkan surat rasionalisasi bekerja penuh selama perusahaan.
    Biasanya dalam pembinaan K3 pembinaan dalam kerja dari topik yang disebutkan ar topik yang mendukung perlindungan pada bangunan yang dibuat atau tentang perlindungan offset semua faktor yang membahayakan. ar sebagai berikut:
    • Melakukan pengembangan bangunan dan oleh karena itu instrumentasi dan melakukan operasi yang ada dengan bahaya perapian dengan pelaksanaan kode.
    • Jaringan fisika dan komunikasi.
    • Kualitas udara di sana.
    • standar pencahayaan dari blok kantor.
    • Kebisingan disediakan dari luar daerah.
    • menunjukkan spasial dan alat-alat di tempat kerja.
    • psikososial.
    • pemanfaatan komputer dalam perusahaan.
    • Kebersihan dan sanitasi.

artikel pelatihan K3 bisa dibaca disini
Membangun sesuai dengan perkembangan yang konsisten dengan K3 akan memiliki resiko yang sangat kecil untuk kecelakaan. namun jika bangunan ar menciptakan banyak K3 maka akan ada hal-hal baik datang kembali | kembali | kembali} mengenai bahaya kecelakaan yang mungkin bisa datang kapan saja dan kapanpun itu. Berikut tambahan ada ar beberapa masalah mengenai K3 di kantor dan pembinaan sejumlah saran mengenai K3 dalam konstruksi bangunan:
• gaya dan aspek subjek K3 untuk melihat bahwa dari bagian tampilan.
• Pilihan kain yang digunakan. Untuk bahan yang digunakan tidak harus menggunakan produk yang ar berbahaya ke atmosfer dan oleh karena itu orang-orang sekitar, misalnya seperti amphibole, dll
• membangun pilihan dekorasi interior. Dekorasi interior harus disesuaikan dengan tujuan, karena penggunaan warna harus disesuaikan dan oleh karena itu seharusnya diperlukan.
• menyediakan untuk khusus tanda, yang diberi warna kontrastif atau mungkin kode pada objek yang ar berpikir-tentang vital. seperti alarm perapian, tangga darurat, pintu darurat, masih tanda-tanda sebagai yang berbeda. jangan lupa untuk menyajikan arah di peta area manapun atau unit kerja, seperti lift, lampu darurat, pintu keluar, dan lain-lain.
Selain penataan daerah yang harus berpikir-tentang dalam pembinaan K3, jaringan elektronik dan komunikasi adalah tambahan penting, karena mereka elektronik dan komunikasi jaringan, bahaya dikendalikan, berikut faktor interior dan eksternal yang membutuhkan untuk menjadi mulia dan diakui:

 

Pelatihan k3 umum bisa anda baca di link teersebut
Faktor internal:
1. Lebih dari tegangan
2. Induksi
3. kabel Korosif
4. sirkuit singkat
5. Arus Lebih
instalasi 6. kebocoran
7. campuran gas ledak
8. Faktor fisika dan kimia
9. faktor mekanis
Faktor eksternal
10. tikus, tikus-mana mungkin menyebabkan cedera, yang mengarah ke sirkuit singkat
11. Bencana alam yang diciptakan oleh manusia
12. Beberapa kelengahan disebabkan oleh pendekatan manusia untuk risiko dan SOP.
Dari sejumlah hal penting yang disebutkan di Keselamatan Kesehatan aktivitas (K3) di tempat kerja, tentu saja, dapat membantu Anda wawasan tentang pertanyaan keamanan atau faktor yang akan menyebabkan kecelakaan. sebagai akibat dari dalam pelaksanaan K3 masalah yang perlu diperhatikan adalah masalah dalam ruangan dan keluar dari pintu. masing-masing memperhatikan perakitan konstruksi ar dibuat dan operasi terhadap risiko yang kadang-kadang dapat kembali. Atau dari dalam daerah pada t tata letak  membutuhkan perhatian seperti pencahayaan, jaringan ELKTRIK et al. Tentu saja, masing-masing faktor tersebut harus berpikir-tentang masing-masing dalam ruangan dan keluar dari pintu.

 

Beberapa Aturan Riksa Uji K3 di Lingkungan Kerja

Beberapa Aturan Riksa Uji K3 di Lingkungan Kerja

Riksa Uji Alat

Riksa Uji ALat K3 – Setiap perusahaan atau pabrik yang memproduksi barang dalam jumlah besar memiliki potensi bahaya. Lingkungan Kerja harus diinspeksi dan / atau diuji. Pemeriksaan dan pengujian ini didasarkan pada Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja, Pasal 58.
Pemeriksaan adalah kegiatan mengamati, menganalisis, membandingkan, dan mengevaluasi kondisi Lingkungan Kerja untuk memastikan terpenuhinya persyaratan sesuai dengan Pasal 3. Pengujian adalah kegiatan menguji dan mengukur kondisi Lingkungan Kerja yang bersumber dari alat. bahan dan proses kerja untuk menentukan tingkat konsentrasi dan paparan Tenaga Kerja untuk memastikan terpenuhinya persyaratan Pasal 3. Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja, Pasal 3 menyatakan: Persyaratan K3 bagi Tenaga Kerja Lingkungan Kerja tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja meliputi:

  • Pengendalian Faktor Fisik dan Faktor Kimia berada di bawah TLV.
  • Pengendalian Faktor Biologis, Faktor Ergonomis, dan Faktor Psikologis Kerja agar memenuhi standar.
  • Penyediaan fasilitas kebersihan dan kebersihan yang bersih dan sehat serta fasilitas kebersihan di tempat kerja.
  • Penyediaan tenaga K3 yang memiliki kompetensi dan kewenangan K3 di bidang lingkungan kerja.

Aturan Penguji atau Pemeriksa

Inspeksi dan / atau Pengujian dilakukan secara internal atau melibatkan instansi eksternal dari luar Tempat Kerja. Pemeriksaan internal dilakukan oleh tim yang telah memiliki sertifikasi Tenaga Ahli K3 Lingkungan Kerja dengan jenjang Muda, Menengah, hingga Utama. Meski pemeriksaan internal telah dilakukan oleh perusahaan oleh tim sendiri, pihak eksternal tetap harus melakukan pemeriksaan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan bisa saling cek silang. Berbagai kesalahan atau mungkin kecurangan tidak akan terjadi. Pengecekan K3 lingkungan kerja internal harus dilakukan secara rutin atau berkala. Apalagi perusahaan atau pabrik yang dimiliki memiliki faktor risiko yang sangat besar dan berbahaya bagi Lingkungan Kerja K3. Misalnya faktor kimiawi berupa zat berbahaya atau faktor biologis berupa penularan patogen.

Lembaga eksternal yang berpartisipasi dalam inspeksi atau pengujian terdiri dari:

Unit Teknis Pengawasan Ketenagakerjaan.
Direktorat Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Unit Pelaksana Teknis K3.
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang membidangi pelayanan Pengujian K3.
lembaga lain yang diakreditasi dan ditunjuk oleh Menteri.
Selanjutnya untuk pemeriksaan Lingkungan Kerja K3 dilakukan dengan:

K3 Spesialis Pengawas Ketenagakerjaan Lingkungan.
Pemeriksa K3.
Ahli Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Jenis Inspeksi atau Pengujian
Jenis pemeriksaan atau pengujian yang dilakukan oleh tim internal atau eksternal umumnya dibagi menjadi empat.

Pertama.
Perkala.
Setel ulang.
Khusus.
Kajian lengkap jenis pemeriksaan K3 lingkungan kerja sesuai dengan Pasal 60 Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja dapat Anda lihat di bawah ini.

1. Pertama
Pemeriksaan dan / atau pengujian pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dilakukan untuk mengidentifikasi potensi bahaya Lingkungan Kerja di Tempat Kerja. Pemeriksaan dan / atau pengujian sebagaimana dimaksud meliputi:

Baca Juga : http://blog.deltaindo.co.id/riksa-uji-alat.html

Area kerja yang terpapar Faktor Fisik, Faktor Kimia, Faktor Biologis, Faktor Ergonomis, dan Faktor Psikologis.
KUDR.
Fasilitas dan fasilitas sanitasi.
2. Secara berkala
Pemeriksaan dan / atau pengujian berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dilakukan secara eksternal paling kurang setahun sekali atau sesuai dengan penilaian risiko atau ketentuan peraturan perundang-undangan. Ujian dan / atau Tes yang dilakukan meliputi:

Area kerja yang terpapar Faktor Fisik, Faktor Kimia, Faktor Biologis, Faktor Ergonomis, dan Faktor Psikologis.
KUDR.
Fasilitas dan fasilitas sanitasi.

3. Atur ulang
Pemeriksaan dan / atau pengujian ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dilakukan apabila hasil Pemeriksaan dan / atau Pengujian sebelumnya, baik internal maupun eksternal meragukan. Misalnya terdapat perbedaan yang signifikan dan sangat mempengaruhi hasil dan kesimpulan.

Jika ini terjadi, pemeriksaan ulang akan dilakukan oleh pihak internal dan eksternal. Caranya sama dan sudah diatur sesuai undang-undang. Jika dari pengukuran sudah didapatkan hasil yang tepat, maka hasilnya bisa diberikan.

4. Istimewa
Pemeriksaan dan / atau pengujian khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 adalah kegiatan pemeriksaan dan / atau pengujian yang dilakukan setelah terjadinya kecelakaan kerja atau laporan dugaan tingkat keterpaparan di atas NAB. Inspeksi dan pengujian harus dilakukan untuk menghindari adanya korban baru baik di dalam maupun di luar perusahaan. Pemeriksaan akan dilakukan secara cermat untuk mendapatkan hasil yang akurat dengan menggunakan metode yang diatur oleh undang-undang.
Pelaporan Hasil Inspeksi atau Pengujian
Pemeriksaan dan / atau pengujian yang dilakukan oleh lembaga eksternal dilakukan berkoordinasi dengan Satuan Pengawasan Ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perusahaan dapat mengajukan sendiri atau pihak eksternal mengajukan pengujian jika ada kasus atau kecurigaan. Hasil Pemeriksaan dan / atau Pengujian dilaporkan kepada Unit Pengawasan Ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya hasil pemeriksaan dan / atau pengujian disetujui oleh manajer teknis.

Perusahaan berhak meminta hasil Ujian dan / atau Ujian dari instansi luar. Selanjutnya, hasil pemeriksaan dan / atau pengujian harus dituangkan dalam surat keterangan memenuhi / tidak memenuhi persyaratan K3 yang diterbitkan oleh satuan kerja pengawasan ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Jika saat melaporkan status Lingkungan Kerja K3 perusahaan buruk, biasanya akan diberikan stiker. Perusahaan wajib memperbaiki suku cadang yang masih kurang agar dapat dilakukan Pemeriksaan dan / atau pengujian ulang lebih lanjut.

Ini merupakan review atas ketentuan Pemeriksaan dan / atau Pengujian K3 Lingkungan Kerja sesuai Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja. Diharapkan setelah membaca ulasan di atas, Anda dapat lebih memahami tentang Lingkungan Kerja K3.

 

arttikel ini tayang di Disnakertransbanten dengan link : https://disnakertrans.bantenprov.go.id/Berita/topic/269

RIKSA UJI ALAT (PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN PERALATAN)  K3

RIKSA UJI ALAT (PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN PERALATAN) K3

RIKSA UJI ALAT

Latar belakang riksa uji alat

Pada saat ini pembangunan fisik yang menggunakan alat alat modern sangat pesat peningkatannya. Untuk itu harus diimbangi juga dengan usaha keselamatan dan kesehatan kerja untuk tenaga kerja maupun orang lain baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung yang berada dilingkungan tempat kerja sesuai dengan Undang undang No 1 Tahun 1970

pesawat angkat angkut

Untuk itu sangat diperlukan sebuah perlindungan terhadap tenaga kerja dan pelaksanaan teknis K3 khususnya pada bidang pemeriksaan dan pengujian alat serta teknik kerja, untuk itu sangat diperlukan sebuah Riksa Uji Peralatan yang sesuai dengan masing masing alat yang akan digunakan yaitu:

  1. Riksa Uji Peralatan Pesawat Uap dan Bejana Tekan (PUBT)
  2. Riksa Uji Peralatan Pesawat Angkat & Angkut (Forklift, Crane & Alat Berat)
  3. Riksa Uji Peralatan Pesawat Tenaga dan Produksi (PTP) (Genset, Tanur, Turbin)
  4. Riksa Uji Peralatan Instalasi Listrik, Petir dan Lift
  5. Riksa Uji Elevator (Lift) & Eskalator.
  6. Riksa Uji Peralatan Instalasi Proteksi Kebakaran
  7. Pemeriksaan NDT, Ultrasonic, Radiografy, Wire Rope Tester.

 

Baca Juga : Pelatihan K3

 

Adapun Ruang Lingkup pada Uji Riksa Peralatan adalah.

  1. Pemeriksaan dan Pengujian dalam proses pembuatan peralatan
  2. Pemeriksaan dan Pengujian pertama dalam penggunaan dan pemakaian serta implementasi peralatan / instalasi baru atau setelah pemasangan.

c.     Pemeriksaan dan pengujian secara berkala dan reguler sesuai dengan masa berlaku serta berdasarkan kepada peraturan perundang-undangan.

Pada prosesnya, pemeriksaan dan pengujian alat K3 ini sangat diperlukan agar supaya  pemenuhan terhadap keselamatn dan kesehatan kerja karyawan ataupun pegawai bisa terlaksana. Sebab bagaimanapun keselamatn karyawan adalah hal yang utama. Jadi diharapkan perusahaan tidak hanya memikirkan keuntungan sementara dan mengabaikan pegawainya. Dengan Peraturan perundangan ini, maka hak hak pegawai dan karyawan baik yang bersifat sementara / kontrak maupun yang karyawan tetap, akan terjaga dan terjamin keselamatan dan kesehatan kerjanya. Karena pegawai atau karyawan adalah asset yang paling berharga dari sebuah perusahaan.

 

Baca Juga : Sertifikasi SMK3

 

Karena dalam melaksanakan pekerjaan para pegawai menggunakan alat alat bantu untuk memperlancar dan memudahkan mereka dalam mencapai target target kerja, maka pemeriksaan dan pengujian terhadap peralatan tersebut bersifat mutlak. Tidak bisa tidak harus dilaksanakan secara reguler dan periodik. Jangan sampai ada alat alat kerja yang tidak laik pakai tetapi dioperasikan. akan sangat berbahaya untuk semua yang terlibat baim secara langung maupun tak langsung.

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Arti Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Terdapat beberapa pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang dapat diambil dari beberapa sumber, di antaranya ialah pengertian dan arti K3 menurut Filosofi, menurut Ilmuan serta menurut standar OHSAS 18001:2007. Berikut adalah pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) tersebut :

·         Filosofi (Mangkunegara):

Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur.

·         Ilmuan:

Semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja,penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.

·         OHSAS 18001:2007:

Semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.

Pengertian/arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di atas merupakan pengertian/arti K3 yang secara umum digunakan dan diajarkan, namun di luar referensi di atas masih banyak referensi mengenai pengertian/arti K3 baik menurut ILO ataupun OSHA namun tidak kami bahas dalam artikel ini sehingga bisa didapatkan melalui penelusuran di mesin pencarian internet.

Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki beberapa dasar hukum pelaksanaan. Di antaranya ialah Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). Rangkuman dasar-dasar hukum tersebut antara lain:

UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja :

  1. Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.
  2. Adanya tenaga kerja yang bekerja di sana.
  3. Adanya bahaya kerja di tempat itu.

Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 Tentang Sistem Manajemen K3 :

Setiap perusahaan yang memiliki karyawan seratus tenaga kerja atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja (PAK).

Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 Tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3):

  1. Tempat kerja dimana pengusaha atau pengurus memiliki karyawan 100 orang atau lebih.
  2. Tempat kerja dimana pengusaha memiliki karyawan kurang dari seratus orang tetapi menggunakan bahan, proses dan instalasi yang memiliki resiko besar akan terjadinya peledakan, kebakaran, keracunan dan pencemaran radioaktif.

Tujuan Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki bebrapa tujuan dalam pelaksanaannya berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Di dalamnya terdapat 3 (tiga) tujuan utama dalam Penerapan K3 berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yaitu antara lain:

  1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja.
  2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
  3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

Dari melihat tujuan penerapan K3 di tempat kerja berdasarkan Undang-Undang nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja di atas terdapat harmoni mengenai penerapan K3 di tempat kerja antara Pengusaha, Tenaga Kerja dan Pemerintah/Negara. Sehingga di masa yang akan datang, baik dalam waktu dekat ataupun nanti, penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Indonesia dapat dilaksanakan secara nasional menyeluruh dari Sabang sampai Meraoke. Seluruh masyarakat Indonesia sadar dan paham betul mengenai pentingnya K3 sehingga dapat melaksanakannya dalam kegiatan sehari-hari baik di tempat kerja maupun di lingkungan tempat tinggal.

Arti Bahaya dan 5 Faktor Bahaya K3 di Tempat Kerja

Pengertian (arti) bahaya (hazard) ialah semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera (kecelakaan kerja) dan atau penyakit akibat kerja (PAK) – arti berdasarkan OHSAS 18001:2007. Secara umum terdapat 5 (lima) faktor bahaya K3 di tempat kerja, antara lain: faktor bahaya pikiran(s), faktor bahaya kimia, faktor bahaya fisik/mekanik, faktor bahaya biomekanik serta faktor bahaya sosial-psikologis. Tabel di bawah merupakan daftar singkat bahaya dari faktor-faktor bahaya di atas:

penilaian yang valid telah dibuat tentang risiko dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan; memastikan bahwa langkah-langkah pencegahan dan metode produksi, yang dianggap perlu dan dilaksanakan setelah penilaian risiko, memberikan peningkatan dalam perlindungan pekerja.

Memilih metode Pelatihan k3

Memilih metode Pelatihan k3

 

Memilih metode Pelatihan k3Dalam sistem manajemen K3 (SMK3) Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor PER.05/MEN/1996 pada lampiran I poin 3.1.5 tentang pepelatihan (pelatihan) disebutkan bahwa penerapan dan pengembangan sistem manajemen K3 yang efektif ditentukan oleh keahlian kerja dan pepelatihan dari setiap tenaga kerja di perusahaan. Pepelatihan merupakan salah satu alat penting dalam menjamin keahlian kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan keselamatan dan kesehatan kerja. OHSAS 18001 section 4.4.2 mensyaratkan bahwa setiap pekerjaharus memiliki keahlian untuk melakukan tugas-tugas yang berdampak pada K3. Keahlian harus ditetapkan dalam hal pendidikan yang sesuai, pepelatihan dan / atau pengalaman.

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Pelatihan K3 merupakan metode yang sangat penting dalam mengurangi terjadinya kecelakaan kerja, dari berbagai studi yang dilakukan terhadap prilaku tidak aman dari pekerja diperoleh beberapa alasan (National Safety Council, 1985):

  1. Pekerja tidak memperoleh perintah kerja secara spesifik dan detil.
  2. Kesalahpahaman terhadap perintah kerja.
  3. Tidak mengetahui perintah kerja.
  4. Menganggap perintah kerja tersebut tidak penting atau tidak perlu.
  5. Mengabaikan perintah kerja.

Untuk mengurangi hal tersebut diatas terjadi maka sangat diperlukan pelatihan  bagi pekerja untuk memahami setiap perintah kerja secara baik dan akibat yang dapat terjadi jika tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah kerja.

Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) menunjukkan bahwa pelatihan dapat meningkatkan keahlian dan pengetahuan pekerja. Kemudian pengetahuan dan keahlian pekerja tersebut dapat mengurangi kesalahan pencampuran dan parameter proses yang disebabkan oleh faktor pekerja, dimana kesalahan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya bahaya reaktifitas kimia. Hasil ini sejalan dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Dingsdag (2008) yang menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan budaya dan prilaku K3 untuk mengurangi kecelakaan kerja maka diperlukan pelatihan K3 untuk meningkatkan keahlian dan pemahaman K3 pada seluruh line management dan pekerja.

Setiap pekerja baru harus mendapatkan pelatihan yang cukup sebelum melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan dari area kerja masing-masing pekerja. Untuk memastikan bahwa pekerja baru sudah pandai tugas dan tanggung jawab yang diberikan maka diperlukan tolok ukur sebagai umpan balik dari pelatihan yang diberikan. Pelatihan tidak hanya diberikan pada pekerja baru, akan tetapi pekerja lamapun harus diberikan pelatihan penyegaran. Pihak manajemen perusahaan harus membuat metode pelatihan tahunan yang meliputi topik-topik baru maupun topik-topik lama sebagai penyegaran (re-fresh pelatihan).

Pelatihan yang diberikan harus meliputi pengetahuan (knowledge) dan keahlian (skill) untuk meningkat keahlian pokok (core competency) dan keahlian K3 (safety competency). Keahlian pokok adalah keahlian minimum yang harus dimiliki pekerja untuk menjalankan tugas pokok yang dibebankan, misalnya karyawan pembuatan harus memahami dan mampu menjalankan mesin pembuatan, laboran harus mampu melakukan analisa dasar bahan kimia dan seterusnya. Namun keahlian pokok saja tidak cukup untuk melakukan pekerjaan secara aman, maka diperlukan keahlian K3. Pada umumnya pelatihan keahlian pokok tidak dilengkapi dengan keahlian K3 atau tidak mengandung aspek-sapek K3 (Dingsdag, 2008).

Secara garis besar pelatihan K3 yang diperlukan adalah sebagai berikut (National Safety Council, 1985):

  1. Pelatihan untuk karyawan baru, misalnya: peraturan umum perusahaan, profil perusahaan, peraturan K3 secara umum, kebijakan K3, metode pencegahan kecelakaan, perintah kerja yang dibutuhkan, bahaya ditempat kerja, alat pelindung diri, dst.
  2. Job Safety Analysis (JSA); pemahaman terhadap JSA dan proses JSA.
  3. Job instruction pelatihan (JIT); pelatihan yang secara spesifik menjelaskan prosedur kerja standar di area kerja masing-masing, misalnya; prosedur kalibrasi, prosedur pembuatan produk, prosedur pembersihan tangki, dst.
  4. Metode perintah lainya; pelatihan untuk trainer, bagaimana mempersiapkan dan melakukan pelatihan secara baik.

Sebagai salah satu contoh topik-topik pelatihan untuk peningkatan keahlian pekerja dalam upaya mengurangi poetnsi risiko bahaya kimia adalah seperti terdapat didalam tabel berikut:

No Topik Pelatihan Keahlian Bagian Jabatan Keterangan
1 Prosedur kerja standar dan perintah kerja Pokok Semua Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan departemen masing-masing (SOP/WI)
2 Sistem Manajemen K3 Pokok/K3 Semua Spv s/d manager Pemahaman (SMK3, OHSAS 18001)
3 Respon keadaan darurat Pokok/K3 Semua Semua Pemahaman dan praktek (SOP)
4 Bahan kimia berbahaya dan Penaganannya Pokok/K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (NFPA, NIOSH)
5 MSDS dan Label Bahan Kimia (GHS) K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (GHS,NFPA, UN)
6 Tata Cara Penyimpanan Bahan Kimia di Gudang Pokok/K3 Gudang Karyawan s/d Manager Karyawan – UmumSpv& Mgr – Detil

(CCPS, NFPA)

7 Penanganan Tumpahan Bahan Kimia K3 Prod, Gudang dan Lab Karyawan s/d Manager Karyawan – praktekSpv&Mgr – + pengetahuan (NFPA, CCPS)
8 Bahaya Reaktifitas Kimia K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
9 Penanganan BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
10 Managemen BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman (CCPS)
11 Indentifikasi dan analisis BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman dan praktek (CCPS)
12 Analysis Tools untuk BRK K3 Lab Spv Pemahaman dan praktek (CCPS, CRW 2)

Topik dan isi pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan area kerja atau tanggung jawab dan tingkatan atau jabatan pekerja, karena umumnya tingkatan atau jabatan menunjukkan tingkat pendidikan pekerja. Sebagai contoh, karyawan bagian pembuatan memerlukan pelatihan keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan, sementara teknisi dari bagian enjinering memerlukan pelatihan keahlian dalam perawatan dan perbaikan mesin pembuatan. Supervisor pembuatan lebih memerlukan pelatihan pengetahuan proses pembuatan dari pada keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan.

Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) dapat di putuskan bahwa untuk mengurangi kesalahan pekerja yang berdampak pada bahaya kimia, maka diperlukan core competency dan safety competency yang baik. Tabel diatas merupakan topik pelatihan yang direkomendasikan untuk meningkatkan core dan safety competency pekerja sehingga dapat mengurangi risiko bahaya kimia dan bahaya reaktifitas kimia (BRK) ditempat kerja.

SEMOGA BERMANFAAT

 

 

 

Pentingnya Pelatihan K3 dan Tips Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pentingnya Pelatihan K3 dan Tips Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pelatihan k3 listrikKeselamatan & kesehatan kerja merupakan faktor yang sangat penting, bahkan harus menjadi prioritas dalam menjalankan pekerjaan. Ini berlaku terutama pada karyawan yang punya pekerjaan berisiko tinggi, seperti di sektor pertambangan, konstruksi, manufaktur, warehouse,transportation dan sejenisnya.

Baca juga : deltaindo.co.id
•    Desain area kerja yang aman.
Keselamatan harus direncanakan dalam area kerja Anda dari awal. Bagaimana mesin diposisikan, dimana bahan yang dipentaskan, bagaimana produk mengalir dari satu proses ke proses berikutnya. Merancang area kerja dengan keselamatan sebagai perhatian utama akan menghasilkan tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
•    Menjaga area kerja yang bersih.
Wilayah kerja yang paling produktif yang bersih, rapi dan terorganisir. Tidak hanya akan Anda menghapus banyak bahaya dari area kerja dengan menjaganya agar tetap bersih, tetapi Anda juga akan menyediakan lingkungan kerja yang lebih produktif bagi karyawan Anda.
•    Libatkan karyawan Anda dalam perencanaan keselamatan.
Tidak ada staf yang tahu lebih banyak tentang potensi bahaya di lantai produksi Anda dari karyawan sendiri. Dapatkan masukan dari mereka dan mengikuti saran mereka untuk mendapatkan informasi hal yang berhubungan dengan keamanan & keselamatan di daerah kerja mereka bukan mengandalkan peralatan perlindungan pribadi untuk menjaga kesehatan mereka.
•    Memberikan instruksi kerja yang jelas.
Pastikan karyawan Anda tahu persis apa yang Anda harapkan dari mereka dengan menyediakan pelatihan yang menyeluruh dan jelas, petunjuk tertulis. Meskipun mereka harus dibuat sadar akan masalah keamanan, program keselamatan yang efektif jauh melampaui daftar hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Bila Anda mendokumentasikan proses kerja Anda, pastikan bahwa Anda menyertakan petunjuk keselamatan dasar bahwa setiap pekerja membaca dan mengakui.
•    Fokus upaya keselamatan Anda pada masalah yang paling mungkin.
Pelanggaran keselamatan yang paling sering adalah bukan yang paling bahaya, mereka biasanya sering terkena dampak bahaya justru dari hal yang kecil,seperti punggung tegang dari menggunakan teknik mengangkat yang buruk atau menolak untuk menggunakan mengangkat membantu peralatan.
•    Dorong karyawan Anda untuk memberikan masukan apa saja kekurangan dalam hal keselamatan di tempat kerjanya ke tingkat atas/manajemen.
Keselamatan adalah keinginan setiap orang, karyawan Anda harus secara aktif didorong untuk membawa semua jenis kekhawatiran keamanan kepada manajemen, hal ini dibudayakan agar sekecil apapun yang menimbulkan dampak pada keselamatan segera diketahui dan diperbaiki untuk mencegah hal yang besar dikemudian hari.
•    Bagi bagian manajerial seharusnya sering melihat dan mempelajari bagaimana setiap karyawan melakukan pekerjaan mereka. Meskipun Anda mungkin telah mendokumentasikan prosedur yang tepat untuk setiap stasiun kerja, pekerja yang berbeda dapat melakukan bahkan pekerjaan yang sama dengan dokumen yang bervariasi. Perhatikan bagaimana karyawan anda melakukan pekerjaan mereka untuk melihat apakah mereka, melakukan prosedur yang ada atau mereka mengambil jalan pintas pekerjaan yang dapat mengurangi keamanan, atau dari observasi dari kerja mereka, akan mendapatkan hal yang bagus untuk diadopsi oleh operator lain.
•    Menjaga semua mesin dalam keadaan baik.
Sebagai pemilik bisnis, anda harus bertanggung jawab untuk memastikan bahwa anda memiliki program pemeliharaan rutin mesin-mesin di tempat kerja anda, sehingga mesin  anda bekerja dengan baik dan terjaga standard keselamatanya.
•    Hindari bahaya yang tidak perlu.
Periksa tempat kerja anda dengan seksama atau buatlah jadwal audit secara berkala untuk mengidentifikasi peralatan baru atau bahan yang dapat menimbulkan potensial bahaya dan mengidentifikasi perubahan dan mengevaluasi untuk mencegah timbulnya kekhawatiran akan potensial bahaya bagi keselamatan kerja.
•    Meninjau kembali pedoman keselamatan dan kesehatan kerja anda setiap tahun.
Tidak ada yang tetap sama di tempat kerja anda. Perubahan lingkungan kerja, baik itu perubahan mesin lama menjadi mesin baru, dan tata letak suatu lingkungan kerja mungkin berubah. Setiap perubahan berarti bahwa pedoman keselamatan anda sebelumnya mungkin sudah tidak relevan lagi dan harus ditinjau dan disesuaikan dengan kondisi perubahan yang ada.

Langkah Aman Bekerja di Pabrik Manufacture

Langkah Aman Bekerja di Pabrik Manufacture

pelatihank3manufakturAda sejumlah rangkaian tes yang perlu dilewati agar bisa bekerja sebagai seorang operator pabrik. Apabila Anda dapat lolos tes dan di terima bekerja di perusahaan tersebut jelas hal itu merupakan sebuah prestasi tersendiri.
Adapun setelah di terima bekerja, tugas baru siap menanti Anda. Ada beberapa hal yang harus dipelajari. Anda pun harus menguasai sistem produksi, SOP (Standard Operating Procedure), situasi tempat kerja, kesehatan dan keselamatan kerja. Tulisan ini yaitu mengenai 6 Tips Aman Bekerja di Pabrik Manufacture.

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/
Bekerja di pabrik pasti tidak terlepas dari potensi bahaya. Potensi bahaya itu dapat menjadi nyata yang mana menyebabkan terjadinya cedera hingga kematian. Terutama apabila dalam setiap prosesnya tidak disertai dengan pengetahui menjalankan pabrik secara aman.
Seorang pimpinan pabrik yang baik sudah semestinya memberikan info terkait pelatihan dan pendidikan yang diperlukan para pekerjanya. Selain itu, sebagai pekerja Anda juga harus aktif mencari info tambahan yang berguna. Karena itu sebelum mulai bekerja, pastikan Anda telah membaca dan mengerti beberapa tips aman bekerja di pabrik berikut ini :

  1. Mengerti Kebijakan dan Ketentuan Perusahaan
    Mengerti sepenuhnya mengenai kebijakan dan ketentuan yang berlaku di perusahaan terutama yang mencakup kesehatan dan keselamatan kerja. Pahami benar dan pastikan memperoleh penjelasan detail karena kebijakan dan ketentuan itu merupakan referensi utama.

 

Artikel pelatihan k3

  1. Kenali Tempat Kerja
    Kenali situasi dan kondisi tempat kerja Anda. Setiap bahan biasanya akan disimpan di tempat berbeda tergantung sifatnya contoh bahan kimia yang mudah terbakar dan lainnya.
  2. Kuasai Proses Produksi
    Agar selamat dalam bekerja pastikan untuk menguasai proses produksi dan keselamatan dalam prosesnya. Misalnya mengerti mengenai kondisi operasi, diagram instrumentasi, aliran material, sistem keamanan, serta sistem interlock. Dalam hal semacam ini Anda pun harus mempelajari cara penggunaan alat yang benar dan aman. Terlebih untuk alat-alat yang digerakkan secara manual.
  3. Mengerti Prosedur Operasi Standar
    Mengerti setiap prosedur operasi stadar yang berhubungan langsung dengan jenis pekerjaan yang harus Anda kerjakan setiap hari sebagai operator pabrik. Penting juga untuk mengetahui tindakan pencegahan pada setiap ancaman bahaya.
  4. Kuasai MSDS dan Simbol Penting
    Pelajari dan mengerti cara membaca MSDS atau Material Safety Data Sheet. Hindari berinterkasi dengan bahan apa pun sebelum membaca MSDS. Kuasai juga setiap simbol yang digunakan ditempat kerja. Pasalnya setiap simbol memiliki arti tersendiri dan harus menjadi perhatian.
  5. Bekerja Sesuai Kemampuan
    Hindari penugasan untuk pekerjaan diluar pemahaman Anda. Tetapi, tentunya pabrik yang bertanggungjawab tidak akan memberi pekerjaan kepada pekerjanya untuk pekerjaan yang tidak disertai dengan pelatihan.