Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Arti Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Terdapat beberapa pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang dapat diambil dari beberapa sumber, di antaranya ialah pengertian dan arti K3 menurut Filosofi, menurut Ilmuan serta menurut standar OHSAS 18001:2007. Berikut adalah pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) tersebut :

·         Filosofi (Mangkunegara):

Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur.

·         Ilmuan:

Semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja,penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.

·         OHSAS 18001:2007:

Semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.

Pengertian/arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di atas merupakan pengertian/arti K3 yang secara umum digunakan dan diajarkan, namun di luar referensi di atas masih banyak referensi mengenai pengertian/arti K3 baik menurut ILO ataupun OSHA namun tidak kami bahas dalam artikel ini sehingga bisa didapatkan melalui penelusuran di mesin pencarian internet.

Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki beberapa dasar hukum pelaksanaan. Di antaranya ialah Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). Rangkuman dasar-dasar hukum tersebut antara lain:

UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja :

  1. Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.
  2. Adanya tenaga kerja yang bekerja di sana.
  3. Adanya bahaya kerja di tempat itu.

Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 Tentang Sistem Manajemen K3 :

Setiap perusahaan yang memiliki karyawan seratus tenaga kerja atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja (PAK).

Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 Tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3):

  1. Tempat kerja dimana pengusaha atau pengurus memiliki karyawan 100 orang atau lebih.
  2. Tempat kerja dimana pengusaha memiliki karyawan kurang dari seratus orang tetapi menggunakan bahan, proses dan instalasi yang memiliki resiko besar akan terjadinya peledakan, kebakaran, keracunan dan pencemaran radioaktif.

Tujuan Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki bebrapa tujuan dalam pelaksanaannya berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Di dalamnya terdapat 3 (tiga) tujuan utama dalam Penerapan K3 berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yaitu antara lain:

  1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja.
  2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
  3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

Dari melihat tujuan penerapan K3 di tempat kerja berdasarkan Undang-Undang nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja di atas terdapat harmoni mengenai penerapan K3 di tempat kerja antara Pengusaha, Tenaga Kerja dan Pemerintah/Negara. Sehingga di masa yang akan datang, baik dalam waktu dekat ataupun nanti, penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Indonesia dapat dilaksanakan secara nasional menyeluruh dari Sabang sampai Meraoke. Seluruh masyarakat Indonesia sadar dan paham betul mengenai pentingnya K3 sehingga dapat melaksanakannya dalam kegiatan sehari-hari baik di tempat kerja maupun di lingkungan tempat tinggal.

Arti Bahaya dan 5 Faktor Bahaya K3 di Tempat Kerja

Pengertian (arti) bahaya (hazard) ialah semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera (kecelakaan kerja) dan atau penyakit akibat kerja (PAK) – arti berdasarkan OHSAS 18001:2007. Secara umum terdapat 5 (lima) faktor bahaya K3 di tempat kerja, antara lain: faktor bahaya pikiran(s), faktor bahaya kimia, faktor bahaya fisik/mekanik, faktor bahaya biomekanik serta faktor bahaya sosial-psikologis. Tabel di bawah merupakan daftar singkat bahaya dari faktor-faktor bahaya di atas:

penilaian yang valid telah dibuat tentang risiko dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan; memastikan bahwa langkah-langkah pencegahan dan metode produksi, yang dianggap perlu dan dilaksanakan setelah penilaian risiko, memberikan peningkatan dalam perlindungan pekerja.

Memilih metode Pelatihan k3

Memilih metode Pelatihan k3

 

Memilih metode Pelatihan k3Dalam sistem manajemen K3 (SMK3) Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor PER.05/MEN/1996 pada lampiran I poin 3.1.5 tentang pepelatihan (pelatihan) disebutkan bahwa penerapan dan pengembangan sistem manajemen K3 yang efektif ditentukan oleh keahlian kerja dan pepelatihan dari setiap tenaga kerja di perusahaan. Pepelatihan merupakan salah satu alat penting dalam menjamin keahlian kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan keselamatan dan kesehatan kerja. OHSAS 18001 section 4.4.2 mensyaratkan bahwa setiap pekerjaharus memiliki keahlian untuk melakukan tugas-tugas yang berdampak pada K3. Keahlian harus ditetapkan dalam hal pendidikan yang sesuai, pepelatihan dan / atau pengalaman.

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/

Pelatihan K3 merupakan metode yang sangat penting dalam mengurangi terjadinya kecelakaan kerja, dari berbagai studi yang dilakukan terhadap prilaku tidak aman dari pekerja diperoleh beberapa alasan (National Safety Council, 1985):

  1. Pekerja tidak memperoleh perintah kerja secara spesifik dan detil.
  2. Kesalahpahaman terhadap perintah kerja.
  3. Tidak mengetahui perintah kerja.
  4. Menganggap perintah kerja tersebut tidak penting atau tidak perlu.
  5. Mengabaikan perintah kerja.

Untuk mengurangi hal tersebut diatas terjadi maka sangat diperlukan pelatihan  bagi pekerja untuk memahami setiap perintah kerja secara baik dan akibat yang dapat terjadi jika tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah kerja.

Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) menunjukkan bahwa pelatihan dapat meningkatkan keahlian dan pengetahuan pekerja. Kemudian pengetahuan dan keahlian pekerja tersebut dapat mengurangi kesalahan pencampuran dan parameter proses yang disebabkan oleh faktor pekerja, dimana kesalahan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya bahaya reaktifitas kimia. Hasil ini sejalan dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Dingsdag (2008) yang menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan budaya dan prilaku K3 untuk mengurangi kecelakaan kerja maka diperlukan pelatihan K3 untuk meningkatkan keahlian dan pemahaman K3 pada seluruh line management dan pekerja.

Setiap pekerja baru harus mendapatkan pelatihan yang cukup sebelum melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan dari area kerja masing-masing pekerja. Untuk memastikan bahwa pekerja baru sudah pandai tugas dan tanggung jawab yang diberikan maka diperlukan tolok ukur sebagai umpan balik dari pelatihan yang diberikan. Pelatihan tidak hanya diberikan pada pekerja baru, akan tetapi pekerja lamapun harus diberikan pelatihan penyegaran. Pihak manajemen perusahaan harus membuat metode pelatihan tahunan yang meliputi topik-topik baru maupun topik-topik lama sebagai penyegaran (re-fresh pelatihan).

Pelatihan yang diberikan harus meliputi pengetahuan (knowledge) dan keahlian (skill) untuk meningkat keahlian pokok (core competency) dan keahlian K3 (safety competency). Keahlian pokok adalah keahlian minimum yang harus dimiliki pekerja untuk menjalankan tugas pokok yang dibebankan, misalnya karyawan pembuatan harus memahami dan mampu menjalankan mesin pembuatan, laboran harus mampu melakukan analisa dasar bahan kimia dan seterusnya. Namun keahlian pokok saja tidak cukup untuk melakukan pekerjaan secara aman, maka diperlukan keahlian K3. Pada umumnya pelatihan keahlian pokok tidak dilengkapi dengan keahlian K3 atau tidak mengandung aspek-sapek K3 (Dingsdag, 2008).

Secara garis besar pelatihan K3 yang diperlukan adalah sebagai berikut (National Safety Council, 1985):

  1. Pelatihan untuk karyawan baru, misalnya: peraturan umum perusahaan, profil perusahaan, peraturan K3 secara umum, kebijakan K3, metode pencegahan kecelakaan, perintah kerja yang dibutuhkan, bahaya ditempat kerja, alat pelindung diri, dst.
  2. Job Safety Analysis (JSA); pemahaman terhadap JSA dan proses JSA.
  3. Job instruction pelatihan (JIT); pelatihan yang secara spesifik menjelaskan prosedur kerja standar di area kerja masing-masing, misalnya; prosedur kalibrasi, prosedur pembuatan produk, prosedur pembersihan tangki, dst.
  4. Metode perintah lainya; pelatihan untuk trainer, bagaimana mempersiapkan dan melakukan pelatihan secara baik.

Sebagai salah satu contoh topik-topik pelatihan untuk peningkatan keahlian pekerja dalam upaya mengurangi poetnsi risiko bahaya kimia adalah seperti terdapat didalam tabel berikut:

No Topik Pelatihan Keahlian Bagian Jabatan Keterangan
1 Prosedur kerja standar dan perintah kerja Pokok Semua Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan departemen masing-masing (SOP/WI)
2 Sistem Manajemen K3 Pokok/K3 Semua Spv s/d manager Pemahaman (SMK3, OHSAS 18001)
3 Respon keadaan darurat Pokok/K3 Semua Semua Pemahaman dan praktek (SOP)
4 Bahan kimia berbahaya dan Penaganannya Pokok/K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (NFPA, NIOSH)
5 MSDS dan Label Bahan Kimia (GHS) K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Kebutuhan disesuaikan dengan tingkat jabatan dan bersifat umum (GHS,NFPA, UN)
6 Tata Cara Penyimpanan Bahan Kimia di Gudang Pokok/K3 Gudang Karyawan s/d Manager Karyawan – UmumSpv& Mgr – Detil

(CCPS, NFPA)

7 Penanganan Tumpahan Bahan Kimia K3 Prod, Gudang dan Lab Karyawan s/d Manager Karyawan – praktekSpv&Mgr – + pengetahuan (NFPA, CCPS)
8 Bahaya Reaktifitas Kimia K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
9 Penanganan BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Karyawan s/d Manager Karyawan – Bersifat umum (awareness)Spv & Mgr – Lebih detil /pemahaman (CCPS)
10 Managemen BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman (CCPS)
11 Indentifikasi dan analisis BRK K3 Prod., Gudang, Lab, Enjinering Spv s/d Manager Pemahaman dan praktek (CCPS)
12 Analysis Tools untuk BRK K3 Lab Spv Pemahaman dan praktek (CCPS, CRW 2)

Topik dan isi pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan area kerja atau tanggung jawab dan tingkatan atau jabatan pekerja, karena umumnya tingkatan atau jabatan menunjukkan tingkat pendidikan pekerja. Sebagai contoh, karyawan bagian pembuatan memerlukan pelatihan keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan, sementara teknisi dari bagian enjinering memerlukan pelatihan keahlian dalam perawatan dan perbaikan mesin pembuatan. Supervisor pembuatan lebih memerlukan pelatihan pengetahuan proses pembuatan dari pada keahlian dalam mengoperasikan mesin pembuatan.

Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Ismail.A (2010) dapat di putuskan bahwa untuk mengurangi kesalahan pekerja yang berdampak pada bahaya kimia, maka diperlukan core competency dan safety competency yang baik. Tabel diatas merupakan topik pelatihan yang direkomendasikan untuk meningkatkan core dan safety competency pekerja sehingga dapat mengurangi risiko bahaya kimia dan bahaya reaktifitas kimia (BRK) ditempat kerja.

SEMOGA BERMANFAAT

 

 

 

Pentingnya Pelatihan K3 dan Tips Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pentingnya Pelatihan K3 dan Tips Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pelatihan k3 listrikKeselamatan & kesehatan kerja merupakan faktor yang sangat penting, bahkan harus menjadi prioritas dalam menjalankan pekerjaan. Ini berlaku terutama pada karyawan yang punya pekerjaan berisiko tinggi, seperti di sektor pertambangan, konstruksi, manufaktur, warehouse,transportation dan sejenisnya.

Baca juga : deltaindo.co.id
•    Desain area kerja yang aman.
Keselamatan harus direncanakan dalam area kerja Anda dari awal. Bagaimana mesin diposisikan, dimana bahan yang dipentaskan, bagaimana produk mengalir dari satu proses ke proses berikutnya. Merancang area kerja dengan keselamatan sebagai perhatian utama akan menghasilkan tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
•    Menjaga area kerja yang bersih.
Wilayah kerja yang paling produktif yang bersih, rapi dan terorganisir. Tidak hanya akan Anda menghapus banyak bahaya dari area kerja dengan menjaganya agar tetap bersih, tetapi Anda juga akan menyediakan lingkungan kerja yang lebih produktif bagi karyawan Anda.
•    Libatkan karyawan Anda dalam perencanaan keselamatan.
Tidak ada staf yang tahu lebih banyak tentang potensi bahaya di lantai produksi Anda dari karyawan sendiri. Dapatkan masukan dari mereka dan mengikuti saran mereka untuk mendapatkan informasi hal yang berhubungan dengan keamanan & keselamatan di daerah kerja mereka bukan mengandalkan peralatan perlindungan pribadi untuk menjaga kesehatan mereka.
•    Memberikan instruksi kerja yang jelas.
Pastikan karyawan Anda tahu persis apa yang Anda harapkan dari mereka dengan menyediakan pelatihan yang menyeluruh dan jelas, petunjuk tertulis. Meskipun mereka harus dibuat sadar akan masalah keamanan, program keselamatan yang efektif jauh melampaui daftar hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Bila Anda mendokumentasikan proses kerja Anda, pastikan bahwa Anda menyertakan petunjuk keselamatan dasar bahwa setiap pekerja membaca dan mengakui.
•    Fokus upaya keselamatan Anda pada masalah yang paling mungkin.
Pelanggaran keselamatan yang paling sering adalah bukan yang paling bahaya, mereka biasanya sering terkena dampak bahaya justru dari hal yang kecil,seperti punggung tegang dari menggunakan teknik mengangkat yang buruk atau menolak untuk menggunakan mengangkat membantu peralatan.
•    Dorong karyawan Anda untuk memberikan masukan apa saja kekurangan dalam hal keselamatan di tempat kerjanya ke tingkat atas/manajemen.
Keselamatan adalah keinginan setiap orang, karyawan Anda harus secara aktif didorong untuk membawa semua jenis kekhawatiran keamanan kepada manajemen, hal ini dibudayakan agar sekecil apapun yang menimbulkan dampak pada keselamatan segera diketahui dan diperbaiki untuk mencegah hal yang besar dikemudian hari.
•    Bagi bagian manajerial seharusnya sering melihat dan mempelajari bagaimana setiap karyawan melakukan pekerjaan mereka. Meskipun Anda mungkin telah mendokumentasikan prosedur yang tepat untuk setiap stasiun kerja, pekerja yang berbeda dapat melakukan bahkan pekerjaan yang sama dengan dokumen yang bervariasi. Perhatikan bagaimana karyawan anda melakukan pekerjaan mereka untuk melihat apakah mereka, melakukan prosedur yang ada atau mereka mengambil jalan pintas pekerjaan yang dapat mengurangi keamanan, atau dari observasi dari kerja mereka, akan mendapatkan hal yang bagus untuk diadopsi oleh operator lain.
•    Menjaga semua mesin dalam keadaan baik.
Sebagai pemilik bisnis, anda harus bertanggung jawab untuk memastikan bahwa anda memiliki program pemeliharaan rutin mesin-mesin di tempat kerja anda, sehingga mesin  anda bekerja dengan baik dan terjaga standard keselamatanya.
•    Hindari bahaya yang tidak perlu.
Periksa tempat kerja anda dengan seksama atau buatlah jadwal audit secara berkala untuk mengidentifikasi peralatan baru atau bahan yang dapat menimbulkan potensial bahaya dan mengidentifikasi perubahan dan mengevaluasi untuk mencegah timbulnya kekhawatiran akan potensial bahaya bagi keselamatan kerja.
•    Meninjau kembali pedoman keselamatan dan kesehatan kerja anda setiap tahun.
Tidak ada yang tetap sama di tempat kerja anda. Perubahan lingkungan kerja, baik itu perubahan mesin lama menjadi mesin baru, dan tata letak suatu lingkungan kerja mungkin berubah. Setiap perubahan berarti bahwa pedoman keselamatan anda sebelumnya mungkin sudah tidak relevan lagi dan harus ditinjau dan disesuaikan dengan kondisi perubahan yang ada.

Langkah Aman Bekerja di Pabrik Manufacture

Langkah Aman Bekerja di Pabrik Manufacture

pelatihank3manufakturAda sejumlah rangkaian tes yang perlu dilewati agar bisa bekerja sebagai seorang operator pabrik. Apabila Anda dapat lolos tes dan di terima bekerja di perusahaan tersebut jelas hal itu merupakan sebuah prestasi tersendiri.
Adapun setelah di terima bekerja, tugas baru siap menanti Anda. Ada beberapa hal yang harus dipelajari. Anda pun harus menguasai sistem produksi, SOP (Standard Operating Procedure), situasi tempat kerja, kesehatan dan keselamatan kerja. Tulisan ini yaitu mengenai 6 Tips Aman Bekerja di Pabrik Manufacture.

Baca Juga : http://deltaindo.co.id/
Bekerja di pabrik pasti tidak terlepas dari potensi bahaya. Potensi bahaya itu dapat menjadi nyata yang mana menyebabkan terjadinya cedera hingga kematian. Terutama apabila dalam setiap prosesnya tidak disertai dengan pengetahui menjalankan pabrik secara aman.
Seorang pimpinan pabrik yang baik sudah semestinya memberikan info terkait pelatihan dan pendidikan yang diperlukan para pekerjanya. Selain itu, sebagai pekerja Anda juga harus aktif mencari info tambahan yang berguna. Karena itu sebelum mulai bekerja, pastikan Anda telah membaca dan mengerti beberapa tips aman bekerja di pabrik berikut ini :

  1. Mengerti Kebijakan dan Ketentuan Perusahaan
    Mengerti sepenuhnya mengenai kebijakan dan ketentuan yang berlaku di perusahaan terutama yang mencakup kesehatan dan keselamatan kerja. Pahami benar dan pastikan memperoleh penjelasan detail karena kebijakan dan ketentuan itu merupakan referensi utama.

 

Artikel pelatihan k3

  1. Kenali Tempat Kerja
    Kenali situasi dan kondisi tempat kerja Anda. Setiap bahan biasanya akan disimpan di tempat berbeda tergantung sifatnya contoh bahan kimia yang mudah terbakar dan lainnya.
  2. Kuasai Proses Produksi
    Agar selamat dalam bekerja pastikan untuk menguasai proses produksi dan keselamatan dalam prosesnya. Misalnya mengerti mengenai kondisi operasi, diagram instrumentasi, aliran material, sistem keamanan, serta sistem interlock. Dalam hal semacam ini Anda pun harus mempelajari cara penggunaan alat yang benar dan aman. Terlebih untuk alat-alat yang digerakkan secara manual.
  3. Mengerti Prosedur Operasi Standar
    Mengerti setiap prosedur operasi stadar yang berhubungan langsung dengan jenis pekerjaan yang harus Anda kerjakan setiap hari sebagai operator pabrik. Penting juga untuk mengetahui tindakan pencegahan pada setiap ancaman bahaya.
  4. Kuasai MSDS dan Simbol Penting
    Pelajari dan mengerti cara membaca MSDS atau Material Safety Data Sheet. Hindari berinterkasi dengan bahan apa pun sebelum membaca MSDS. Kuasai juga setiap simbol yang digunakan ditempat kerja. Pasalnya setiap simbol memiliki arti tersendiri dan harus menjadi perhatian.
  5. Bekerja Sesuai Kemampuan
    Hindari penugasan untuk pekerjaan diluar pemahaman Anda. Tetapi, tentunya pabrik yang bertanggungjawab tidak akan memberi pekerjaan kepada pekerjanya untuk pekerjaan yang tidak disertai dengan pelatihan.

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

  1. Definisi

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja adalah bagian dari sistem manjemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, tanggung jawab, implementasi, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka penanganan risiko yang berkaitan dengan aktivitas kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan efektif. 

Baca Juga : http://deltaindo.co.id
B. Tujuan Dan Sasaran K3

Menciptakan suatu sistim keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan menyangkut unsur manajemen, pekerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mengelakkan dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan efektif.

Sebagai mana yang telah tercantum didalam Undang Undang No. 1 Tahun 1970

Tentang : Keselamatan Kerja

  1. Setiap pekerja berhak mendapat proteksi atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas Nasional
  2. Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya
  3. Sahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan effisien
  4. Bahwa berhubung dengan itu perlu diadakan segala usaha untuk membina norma-norma proteksi kerja
  5. Bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam Undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi.
  1. Rambu – rambu keselamatan kerja
    1. Larangan

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

Gambar lingkaran dengan diagonal berwarna merah di atas putih. Peringatan tersebut berarti suatu larangan. Contoh: sebatang rokok sedang sudah di bakar dengan warna hitam, berarti larangan merokok.

  1. Perintah

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

Gambar putih di atas biru mempunyai arti suatu perintah, contoh :

  • Helm Safety

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Di Bidang Industri

Berkegunaan sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala secara langsung.

  • Safety Belt

pelatihank3safetybelt

Berkegunaan sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat transportasi ataupun instrumen lain yang sejenis (mobil,pesawat, alat berat, dan lain-lain).

  • Sepatu Karet (sepatu boot)

pelatihank3sepatukaret

Berkegunaan sebagai alat pengaman saat bekerja di tempat yang becek ataupun berlumpur. Kebanyakan di lapisi dengan metal untuk memproteksi kaki dari benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.

 

Lihat Pelatihan K3

  • Sepatu pelindung (safety shoes)

pelatihank3sepatupelindung

Seperti sepatu biasa, tapi dari terbuat dari bahan kulit dilapisi metal dengan sol dari karet tebal dan kuat. Berkegunaan untuk mengelakkan kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena tertiban benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.

  • sarung tangan

pelatihank3sarungtangan

Berkegunaan sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk sarung tangan di sesuaikan dengan kegunaan masing-masing pekerjaan.

  • Penutup Telinga (Ear Plug / Ear Muff)

pelatihank3penutuptelinga
Berkegunaan sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.

  • Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)

pelatihank3kacamatapengaman

Berkegunaan sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas).

  • Masker (Respirator)

pelatihank3maskerBerkegunaan sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan mutu udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).

  • Pelindung wajah (Face Shield)

pelatihank3pelindungwajah

Berkegunaan sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja ( misal pekerjaan menggerinda ).

  • Jas Hujan (Rain Coat)

pelatihank3jashujan

Berkegunaan memproteksi dari percikan air saat bekerja ( tanda bekerja pada waktu hujan atau sedang mencuci alat ).

  1. Peringatan

pelatihank3peringatan

Tanda peringatan ini berbentuk segitiga dengan warna hitam diatas putih.

  1. Pemberitahuan

pelatihank3pemberitahuan

Tanda/petunjuk ini berbentuk segi empat dengan gambar sebuah palang tengah-tengah warna putih di atas hijau. Peringatan Ini berarti tempat untuk memberikan pertolongan pada waktu terjadi kecelakaan atau PPPK.

  1. Akibat yang ditimbulkan apabila mengindahkan K3 di atas

Kecelakaan kerja tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri dari teknik keselamatan. Hal tersebut menunjukkan cara yang lebih baik selamat untuk melenyapkan kondisi kelalaian dan memperbaiki kesadaran mengenai keselamatan setiap karyawan pabrik. Dari hasil analisa kebanyakan kecelakaan biasanya terjadi karena mereka lalai ataupun kondisi kerja yang kurang aman.

Di dalam menganalisa pekerjaan seorang pekerja, teknisi keselamatan dapat mengantisipasi kemungkinan kesukaran dan ketergantungan di dalam bekerja. Sebagai contoh, jika analisanya dapat berjalan dengan lancar untuk menjalankan roda gigi dan memakai tangannya tanpa kesukaran, menunjukkan bahwa ia mampu menjalankan mesin dengan baik walaupun mesin tadi dapat ditinggal-tinggal.

Dengan cara yang sama bahwa analisa metode suatu pekerjaan terhadap elemen-elemennya untuk menganalisa gerak pribadi dan waktu masing-masing, atau dengan cara yang sama meneliti analisa seperti aspek-aspek suatu tingkatan pekerjaan, tanggung jawab dan juga pelatihan, analisa keselamatan juga memandang tugas dari seorang operator untuk menghindari terjadinya kecelakaan.

Sebelum menyelesaikan suatu studi kasus, analisa keselamatan harus bisa menentukan, tujuan setiap pekerjaan. Jika fakta-fakta tersebut ditentukan sebelumnya, menyaring dan penempatan, kedua perusahaan dan pekerja mendapatkan keuntungan.

  1. Penyelidikan Terhadap Kecelakaa

Walaupun analisa keselamatan kerja dan penyelidikan terhadap pabrik dapat mengelakkan kecelakaan, beberapa kecelakaan masih akan terjadi sebagai bukti kekurangan dari manusia. Ketika kecelakaan terjadi, melalui penyelidikan mungkin akan mengetahui bahaya yang sering terjadi dan sebagai koreksi pekerjaan dalam suatu pabrik, kegagalan penyelidikan dapat mengakibatkan kecelakan yang fatal hingga menyebabkan kematian.

Tanpa sebab penyelidikan kecelakaan seharusnya direncanakan dengan menunjukkan bagian pekerjaan ini yang salah dalam bekerja. Tujuan penyelidikan adalah memberikan fakta-fakta agar kecelakaan tidak terulang kembali. Lebih baik memberi peringatan daripada setelah terjadinya suatu kecelakaan,Dan kenyataan bahwa kecelakaan tidak terjadi selama beberapa kecelakaan yang ada, tidak menjamin bahwa kecelakan itu tidak mungkin terjadi lagi.

  1. Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tujuan pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja adalah mengelakkan terjadinya kecelakaan. Cara efektif untuk mengelakkan terjadinya kecelakaan, harus diambil tindakan yang tepat terhadap pekerja dan perlengkapan, agar pekerja memiliki konsep keselamatan dan kesehatan kerja demi mengelakkan terjadinya kecelakaan.

Sumber : http://neineni.blogspot.com/2013/03/keselamatan-dan-kesehatan-kerja-k3-di.html